Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
39. Menumpas Begal


__ADS_3

Di Ibukota Benua Utara, Arya setelah berkunjung ketempat adik bungsu Kakeknya, yang menjadi Bangsawan Nomor Satu, meneruskan perjalanannya lagi. Kali ini dia bersama istrinya, Wulandari, menyusuri jalanan utama di ibukota Benua Utara.


Sepanjang jalan utama, penuh dengan para pedagang kaki lima, yang menggelar berbagai macam dagangannya dipinggir jalan, sehingga membuat jalanan sedikit menyempit.


Arya dan Wulan berjalan kaki disepanjang jalan utama, hendak menuju ke alun-alun kota, untuk melihat pemilihan calon prajurit elit Garuda Benua, namun ditengah perjalanan, Arya dan Wulan mendapat gangguan dari sejumlah pemuda berandalan.


Arya menghitung jumlah dari pemuda berandalan itu, yang kesemuanya berjumlah lima puluh enam orang. Mereka pada mengganggu perjalanan semua orang, sambil menarik pajak keamanan bagi yang hendak lewat jalan itu.


Para berandalan itu mendapat perlindungan dari pemimpin kota, karena ketua kelompok pemuda berandalan itu anak dari pemimpin kota.


Ketika Arya dan Wulan mendapat gangguan dari mereka, Arya dan Wulan tak tinggal diam, dan tidak ingin membuang-buang waktu. Keduanya memberikan pelajaran kepada mereka.


Sekelompok pemuda berandalan itu babak belur dihajar oleh Arya dan Wulan, serta semua basis kultivasi mereka dilumpuhkan, dan dilemparkan kesebuah kolam yang tak jauh dari sana.


Lalu Arya dan Wulan bergegas meninggalkan mereka, namun keduanya tidak jadi pergi ke alun-alun, malah mampir disebuah rumah makan mewah, hanya sekedar untuk menikmati secangkir kopi dan hidangan makanan daging rusa bakar.


Sewaktu Arya dan Wulan menikmati hidangan daging rusa bakar, tiba-tiba datang ratusan prajurit kota menghampiri Arya dan Wulan.


"Hahaha.... Ternyata buronan kota berada disini!" Seru Komandan kota.


Arya dan Wulan sedikitpun tidak menggubris kehadiran mereka, keduanya asyik menikmati daging rusa bakar dan secangkir kopi.


"Hai pemuda sampah, kalian berdua sudah menyinggung keluarga pemimpin kota dan keluarga bangsawan. Kalian kami tangkap untuk dihadapkan kepada pemimpin kota," hardik Komandan Kota menatap Arya dan Wulan.


Namun Arya dan Wulan tak bergeming sedikitpun, malah keduanya tetap tenang sambil terus menikmati hidangannya. Tidak menganggap kehadiran mereka.


"Dasar kalian bajingan...! Ayo tangkap keduanya!" Seru Komandan kota, memberi perintah kepada bawahannya untuk menangkap Arya dan Wulan.


Mereka serentak mengepung Arya dan Wulan dari berbagai arah, meningkar keduanya yang sedang menikmati hidangan.


"Kerjaan kalian hanya mengganggu orang yang sedang makan saja," ucap Arya, sambil melambaikan tangannya dengan kekuatan sepuluh persen.


Duarr.... Duarr....


Hampir separuh prajurit kota terlempar kearah belakang, hingga menabrak beberapa meja dan dinding rumah makan. Sedangkan Arya dan Wulan tetap asyik menikmati daging rusa bakarnya, tanpa memperdulikan para prajurit kota.


Tentu saja adegan seperti itu membuat semua orang yang berada ditempat itu terkejut, hanya dengan satu serangan tunggal, dapat melemparkan separuh prajurit kota.

__ADS_1


Tak hanya sampai disitu, Arya mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, yang ditujukan kearah seluruh prajurit kota, hingga membuat mereka semua menjadi patung.


Namun Arya dan Wulan tetap tenang, sedikitpun tidak merasa terganggu.


Semua orang yang berada diruangan itu semakin terkejut, karena yang memiliki jurus seperti itu hanya ada satu orang, tak lain dan tak bukan hanya seorang Penguasa Agung, yang selalu menyamar sebagai pemuda petualang, yang ranahnya ditekan ketingkat Pendekar Dewa Bumi tahap awal, sehingga dapat mengecoh penglihatan semua orang.


Arya menghubungi Jenderal Lukita yang berada di ibukota Benua Utara, melalui telepati jarak jauh, untuk segera datang ke rumah makan tempat keduanya berada.


Sebelum jenderal Lukita bersama pasukannya tiba, Arya dan Wulan sudah melesat meninggalkan tempat itu. Hanya memberikan pesan kepada jenderal Lukita untuk membereskan semua prajurit kota, yang sudah menjadi patung, serta menangkap pemimpin kota dan para bangsawan, yang selalu bertindak sewenang-wenang, dan membawa semua orang yang telah ditangkapnya ke pinggiran hutan, karena Arya dan Wulan menunggunya dipinggiran hutan.


Jenderal Lukita bersama pasukan Garuda Benua bergerak cepat, melaksanakan perintah dari Arya. Prajurit yang menjadi patung, dilumpuhkan basis kultivasinya, dan bergerak terus menangkap pemimpin kota dan para bangsawan, yang mendukung tindakan buruk, yang dilakukan oleh anak-anaknya.


Pemimpin Kota dan para bangsawan diikat oleh rantai baja, dan dibawa kehadapan Arya, dipinggiran hutan yang telah menunggunya.


"Bagaimana sekarang, kalian semua sudah tidak berdaya. Apakah kalian masih berani berbuat sewenang-wenang, menindas orang-orang yang lemah?" Tanya Arya, kepada Pemimpin Kota dan para bangsawan setelah mereka dibawa kehadapan Arya.


Mereka setelah mengetahui yang diburunya itu adalah Penguasa Agung, tidak dapat berbuat apa-apa, hanya menyesali semua perbuatan yang dilakukannya.


"Apakah kalian masih mau tinggal di ibukota, ataukah ingin pindah ke Hutan Larangan? Boleh, akan aku kirim kalian semua untuk tinggal di Hutan Larangan," ucap Arya, bertanya kepada mereka.


"Ampuni kami, Penguasa Agung. Kami menyesal apa yang telah kami lakukan. Beri kesempatan kami sekali lagi, untuk mengganti semua yang telah kami perbuat," balas Pemimpin Kota, mewakili para bangsawan, yang sudah tidak berdaya lagi.


Pemimpin Kota dan para bangsawan menjerit kesakitan, karena basis kultivasi mereka dihancurkan dibawah perutnya.


"Nah, sekarang kalian sudah menjadi manusia biasa, tanpa memiliki kekuatan. Dan bukan lagi menjadi Pemimpin Kota dan bangsawan, hanya sebagai warga biasa yang lemah. Ini semua adalah hukuman bagi kalian yang telah menindas orang-orang yang lemah, jadi kalian juga harus merasakannya, bagaimana jika sekarang kalian menjadi orang yang lemah, Lalu ditindas oleh orang-orang yang kuat. Apakah kalian akan melawan, atau memberikan seluruh harta kalian. Itulah hukum karma bagi kalian," ucap Arya panjang lebar.


Pemimpin Kota dan para bangsawan hanya menunduk, dalam hatinya mereka kecewa dan marah, ingin melampiaskan semua kemarahannya. Namun apa daya, sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Hanya bisa menyesali semua perbuatan buruk yang sering dilakukannya.


Arya menyuruh mereka pergi, dan memerintahkan Jenderal Lukita untuk mencari pengganti Pemimpin Kota yang amanah. Mampu melindungi rakyatnya yang lemah.


"Jenderal, cari Pemimpin Kota yang baru. Yang mampu melindungi semua rakyatnya. Dan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lemah, menjadi masyarakat yang tangguh dan mandiri," perintah Arya, kepada jenderal bawahannya.


"Baik Penguasa Agung, semua titah Penguasa Agung, akan segera aku laksanakan," balas Jenderal Lukita.


"Baiklah, tingkatan keamanan agar masyarakat merasa nyaman, dan bisa merasakan hidup tenang. Tidak merasakan adanya kekhawatiran Pada diri mereka," tambah Arya lagi, sambil terus berlalu meninggalkan tempat itu.


Arya terus melangkah menuju kearah timur dengan berjalan kaki, dia berjalan sendiri, karena Wulan berada didalam dunia jiwanya.

__ADS_1


"Aku harus langsung mengetahuinya, apakah benar didalam hutan ini dihuni oleh sekelompok begal?" Tanya batin Arya.


Dia terus melangkah kedalam hutan dengan berjalan kaki, untuk membuktikan apa yang dikatakan orang-orang, bahwa didalam hutan perbatasan Ibukota itu, dihuni oleh para begal dan kelompok perampok, yang telah meresahkan masyarakat.


Cukup lama Arya berjalan didalam hutan, namun belum ada tanda-tanda yang mencurigakan. Akhirnya dia menggunakan mata malaikatnya, untuk memindai seluruh kawasan hutan, penglihatannya tertuju kesebuah Goa, yang dihuni oleh sejumlah orang. Arya segera melesat terbang menuju ketempat itu, dengan kecepatan tinggi, hingga tidak memakan waktu yang lama, dia sudah sampai di mulut Goa yang dijaga oleh puluhan orang.


"Siapa kamu, anak muda. Beraninya datang kemari, ingin setor nyawa?" Hardik salah seorang begal, menatap kearah Arya, dengan sorotan mata yang tajam.


"Akulah yang akan mengambil nyawamu," jawab Arya singkat.


"Bajingan laknat, berani-beraninya berbicara yang lantang dihadapan kami. Ayo tangkap pemuda itu, jangan sampai lolos," perintah seorang pria tua, kepada para anggota begal untuk menangkap Arya.


"Tidak mudah untuk menangkap ku, Pak Tua laknat," jawab Arya.


"Serang.... Hiaattt....!" Seru pria tua itu.


Arya dengan mudah menghindari terjangan kelompok begal, dia menangkis beberapa pukulan dan tendangan dengan kekuatan sepuluh persen. Ingin sedikit bermain-main sejenak.


Dug.... Bug.... Ahhh....


Beberapa pukulan kelompok begal beradu dengan pukulan dari Arya, meskipun kekuatan yang dikeluarkan oleh Arya hanya sepuluh persen, tapi membuat tangan-tangan mereka patah, dan terlempar kearah belakang.


Begitu pula dengan yang lainnya, Arya terus mengajak bermain, bertukar jurus-jurus tingkat rendah.


Dug.... Dug.... Bug.... Ahhh....


Beberapa pukulan dari Arya mendarat telak di wajah-wajah mereka, hingga meringis kesakitan.


"Bajingan, rasakan ini... Hiaattt...!" Seru Pemimpin begal, yang wajahnya dipukul oleh Arya.


"Sudah cukup bermain-mainnya, mari kita sudahi pertarungan ini," ucap Arya, sambil bergerak cepat memukul para begal dibawah perutnya, melumpuhkan semua basis kultivasi para begal.


"Nah, sekarang kalian sudah menjadi lemah. Tidak memiliki kekuatan lagi. Dan aku mengampuni kalian untuk tetap hidup, dengan satu syarat, semua harta hasil rampasan, kalian bagikan kepada para penduduk yang tidak mampu. Jika tidak, kalian semua akan menanggung akibatnya," gertak Arya mengancam mereka.


Tanpa diperintah dua kali, bagi mereka yang masih tetap menginginkan untuk hidup, bergerak cepat mengambil seluruh harta rampasan untuk dibagikan kepada warga yang tidak mampu, namun bagi mereka yang masih melawan, Arya tak segan-segan membunuhnya.


Arya pun menghancurkan Goa itu, agar tidak dipakai lagi oleh para perampok sebagai tempat persembunyiannya.

__ADS_1


Usai melumpuhkan kelompok begal, Arya segera melanjutkan perjalanannya lagi menuju kearah timur. Terus menyusuri jalan dipinggiran hutan.


Bersambung.....


__ADS_2