
Dua siluet cahaya biru mengkilau dan cahaya kuning keemasan, menyeluruk dengan cepat dari langit ke bumi. Dua siluet itu terus melesat kearah timur, dengan terbang rendah dipermukaan bumi.
Orang-orang yang melihat dua siluet cahaya itu, terpana oleh cahaya yang mengkilau dan keemasan. Mereka menyangka kedua cahaya itu, merupakan benda gaib atau sejenisnya.
"Lihat itu, dua buah benda gaib telah muncul, menuju kearah timur. Pastinya ketempat keramat Mbah Lenggogeni, sekarang kan malam Kliwonan," ucap salah seorang pria tua, menunjuk kearah dua siluet cahaya itu.
"Iya benar tuh, menuju ke keramat Mbah Lenggogeni. Ayo, kita kesana! Bukannya, kita juga mau ikutan acara Kliwonan," balas temannya.
"Sebentar lagi, kita berangkatnya bareng dengan Haji Misdjan, naik di mobil pickupnya, rame-rame dengan yang lainnya," sambung pria lainnya.
"Iya benar, kita berangkat rame-rame saja. Tidak usah berjalan kaki," balas temannya. "Kalau berjalan kaki itu, lumayan cukup jauh jaraknya, bisa sampai sana jam delapan. Kalau bareng dengan Haji Misdjan, waktu Isya kita sudah ada sana," tambahnya.
"Iya, kita tunggu di Pos Ronda itu saja. Sebentar lagi juga haji Misdjan lewat," ucap pria tua.
Tidak begitu lama, yang ditunggu pun tiba ditempat mereka.
"Ayo, kalian mau bareng denganku?" Ajak Haji Misdjan, bertanya kepada mereka.
"Iya, Pak Haji!" Seru mereka bersamaan, sambil menaiki mobil pickup.
Mobil pickup pun berjalan kembali, menuju ketempat keramat Mbah Lenggogeni, dikampung keramat pitu.
Kampung Keramat Pitu, merupakan tempat ketujuh keramat, yang sering dikunjungi oleh para pencari berkah, terutama di tempatnya Mbah Lenggogeni. Para pengikut Kliwonan setiap bulannya membludak, dari mana-mana mereka berdatangan, dengan maksud dan tujuannya masing-masing.
Malam Kliwonan ini, mereka semua dikejutkan oleh dua cahaya yang menyeruak masuk ketempat Mbah Lenggogeni, ditempat itu ada sebuah batu hitam besar, dan sebuah pohon beringin yang sangat besar, dan usia pohon itu sudah ratusan tahun.
Diantara batu besar dan pohon beringin, ada sebuah makam yang diujung kepala dan kakinya, ada dua buah batu hitam yang tinggi-tinggi, nisan di kepalanya batu hitam setinggi dua meteran, dan dikakinya setinggi satu setengah meter. Area itu dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari kayu jati, setinggi dua meter, dan dijaga oleh tiga makhluk yang sangat menyeramkan, serta dua ekor ular yang besar-besar.
Ketiga makhluk hitam raksasa, dan dua ekor ular besar, khusus untuk menjaga gangguan dari manusia yang hendak membuat kerusakan ditempat itu. Tapi bagi para pengikut Kliwonan ditempat Mbah Lenggogeni, akan aman jika tidak membuat keributan.
Kedua cahaya biru mengkilau dan kuning keemasan, menembus masuk kedalam area makam Lenggogeni, dan menghilang ditempat itu.
Didalam Alam Siluman, Arya dan Ratu Derwani, sudah berada dihalaman depan Istana Mbah Lenggogeni, yang besar dan megah, ditempat itu ada sebuah istana besar (di Alam Manusia terlihat hanya batu hitam yang sangat besar), sebuah gudang tempat penyimpanan barang-barang pusaka (di Alam Manusia terlihat hanya sebuah kuburan), dan sebuah menara yang tinggi (di Alam Manusia terlihat hanya sebuah pohon beringin yang besar dan tinggi).
Arya dan Ratu Derwani, dihadang oleh lima penjaga istana itu (di Alam Manusia terlihat hanya tiga makhluk hitam raksasa yang menyeramkan, dan dua ekor ular besar), yang masing-masing memegang senjata andalannya.
Ketiga penjaga membawa senjata gada yang sangat besar, dan dua penjaga lagi dengan senjata pedang beracun. Kelimanya menghalangi langkah kaki Arya dan Ratu Derwani.
"Berhenti, ada maksud apa kalian datang kemari?" Hardik pimpinan penjaga istana, menghentikan langkah Arya dan Ratu Derwani
"Kami datang kemari, untuk menangkap raja kalian!" Seru Arya, memprovokasi mereka.
"Kurang ajar kamu, berani berbicara lantang dihadapan ku. Ayo tangkap kedua orang ini!" Seru marah pemimpin penjaga istana, sambil memberi perintah kepada bawahannya, untuk menangkap Arya dan Ratu Derwani.
__ADS_1
Kelima penjaga istana Raja Lenggogeni, menerjang Arya dan Ratu Derwani, dengan senjatanya masing-masing, cepat dan ganas.
Arya menadahnya dengan pukulan Cakar Rajawali, sedangkan Ratu Derwani menyapu mereka dengan kekuatan angin ****** beliung.
Duarr.... Duarr.... Duarr.... Whuungg.... Whuungg....
Terdengar beberapa kali ledakan yang cukup keras, disusul dengan suara gemuruhnya angin ****** beliung yang sangat dahsyat, hingga melemparkan para penjaga istana, dan memporak-porandakan tempat itu.
Raja Lenggogeni yang mendengar suara ledakan dan gemuruhnya angin ****** beliung, melesat keluar dari dalam istana, dan langsung menerjang Arya dan Ratu Derwani, yang telah membuat kerusakan di istananya.
Dengan amarahnya yang memuncak, Raja Lenggogeni mengeluarkan jurus Naga Geni, yang dari kedua tangan dan mulutnya, keluar api berkobar-kobar, memburu kearah Arya dan Ratu Derwani.
Arya menahan serangan Raja Lenggogeni, dengan mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, sehingga membuat Lenggogeni terdiam tidak bergerak.
"Diam dulu kamu disini, aku akan meruntuhkan istana dan menaramu," ucap Arya, langsung berkelebat mendekati istana dan menara.
Duarr.... Duarr.... Duarr....
Ledakan demi ledakan terus terdengar, meluluhlantakkan semua bangunan yang berada ditempat itu.
Duarr.... Duarr....
Istana, menara, dan gudang penyimpanan barang-barang pusaka, hancur berkeping-keping, digempur oleh kekuatan pukulan Cakar Rajawali, yang dikeluarkan oleh Arya, dengan kekuatan tujuh puluh persen.
"Baik, Tuan Muda," balas Ratu Derwani, yang langsung mengeluarkan kekuatan angin ****** beliungnya, hingga menyapu bersih tempat itu. Satu puingpun tidak ada yang tersisa, semuanya terbang terbawa angin ****** beliung yang sangat dahsyat sekali.
Arya menghampiri Raja Lenggogeni, dan menarik kembali pengaruh jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.
"Sekarang kamu sudah bisa bergerak lagi, dan aku memberi satu kesempatan untukmu. Menyerah atau lanjut!" Seru Arya, kepada Raja Lenggogeni.
"Bajingan kau, berani menghancurkan istanaku!" Teriak marah Raja Lenggogeni, menerjang Arya dengan kekuatan sepenuhnya.
Arya hanya menahan serangan naga geni, dengan kekuatan enam puluh persen, dan tidak dapat dielakkan lagi, dua kekuatan beradu sangat keras.
Duarr.... Duarr....
Raja Lenggogeni terlempar ratusan meter, menabrak sebuah bukit hingga berlobang seperti Goa besar, sedangkan Arya hanya mundur tujuh meter dari tempatnya berdiri.
"Hebat juga Lenggogeni itu, sampai bisa membuatku mundur tujuh meter," ucap batin Arya, menatap Lenggogeni kearah bukit.
Arya melesat terbang menghampiri Lenggogeni, yang tembus masuk ke perut bukit, dan bekas terlemparnya menjadi sebuah goa yang cukup besar.
"Apa bermain-mainnya mau dilanjutkan lagi? Atau mau menyerah?" Tanya Arya, menatap Lenggogeni.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Raja Lenggogeni bangkit dan langsung menerjang kembali. Kali ini dia mengeluarkan jurus pamungkasnya, jurus Naga Geni Menghancurkan Lawan, dari seluruh tubuhnya mengeluarkan api yang berkobar-kobar.
Raja Lenggogeni, tampak seperti manusia api, sekujur tubuhnya diselimuti nyala api yang membara.
Dengan jurus pamungkasnya, dia terus menerjang Arya, yang berkelit menghindari sambaran lidah api, yang terus-menerus menyambar-nyambar tubuh Arya.
Arya agak sedikit kerepotan, bila terus menerus menghindar tanpa adanya perlawanan.
"Baiklah, bermain-mainnya cukup sampai disini saja," ucap Arya, sambil mengeluarkan jurus Rajawali Sakti Mencengkram Lawan.
Jurus ini tidak pernah dikeluarkan, karena keseringannya Arya menggunakan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, ketimbang jurus Rajawali Sakti Mencengkram Lawan.
Dengan jurus tingkat tinggi ini, Arya membuka pertahanan lawan, dan memusnahkan seluruh api yang berkobar-kobar di sekujur tubuh lawannya, hingga dia menjadi lemah, tidak memiliki kekuatannya lagi, karena jurus Rajawali Sakti Mencengkram Lawan, merupakan sebuah jurus yang mencengkram seluruh kesakitan lawan-lawannya, dan menyedotnya menjadi milik Arya.
Jurus ini memang sangat ampuh dan kuat, dan bisa mengambil seluruh kesaktian milik lawannya. Maka Arya tidak pernah menggunakan jurus ini, kalau dia sendiri tidak tertarik dengan kesaktian musuhnya, untuk mengambil seluruh kesaktiannya.
Dan baru kali ini, Arya menggunakan jurus Rajawali Sakti Mencengkram Lawan, untuk mengambil kesaktian dari musuhnya.
"Bagaimana sekarang? Dipenjara! Atau pergi!" Seru Arya, kepada Lenggogeni yang sudah tidak berdaya lagi.
Raja Lenggogeni, setelah kehilangan kesaktiannya. Dia bangkit, sebelum pergi dia mengancam Arya.
"Tunggu pembalasan dariku!" Seru Lenggogeni mengancam Arya. "Raja Iblis Ular Hitam tidak akan tinggal diam, pasti akan memburumu," tambah Lenggogeni.
"Oh, jadi kamu antek-anteknya Raja Iblis dari Alam Neraka Besar itu. Kebetulan sekali, jika dia mau kemari, jadi aku tidak repot-repot menuju ke alamnya," balas Arya.
Raja Lenggogeni terkejut, mendengar ucapan dari Arya, yang mengenal tuannya, dari Alam Neraka Besar.
Akhirnya dia pergi meninggalkan Arya, dengan langkah tertatih-tatih, karena sudah tidak memiliki kesaktian lagi.
Di Alam Manusia, semua orang yang hendak mengadakan acara Kliwonan, terkejut mendengar beberapa kali suara ledakan, yang disusul oleh gemuruhnya angin ****** beliung, menyapu tempat keramat Mbah Lenggogeni.
"Ayo cepat keluar! Tempat ini akan hancur!" Seru seorang kuncen berteriak.
Mereka semua buyar, berhamburan pada menyelamatkan dirinya masing-masing.
Duarr.... Duarr.... Whuungg.... Whuungg....
Suara ledakan terus terdengar, disertai dengan hujan deras dan angin ****** beliung, menggetarkan keramat Mbah Lenggogeni, yang selalu di puja oleh para pengikutnya.
Mendengar suara ledakan disertai hujan deras, angin ****** beliung dan petir saling bersahutan, semua orang yang berada ditempat itu, nyalinya menciut tak bisa berbuat apa-apa, wajahnya pucat saking ketakutannya. Akhirnya mereka pada meninggalkan tempat itu, dan kembali ke rumahnya masing-masing.
Bersambung.....
__ADS_1