Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
59. Tuan Tanah Yang Serakah


__ADS_3

Udara siang hari di Bukit Karang, pesisir pantai laut selatan, terasa panas menyengat permukaan kulit, meski ada angin berhembus dari arah laut, namun hawa panas itu tetap saja masih terasa.


Dari arah Bukit Karang, muncul seorang pemuda tampan, dan seorang wanita cantik, berjalan di atas batu-batu karang yang pada runcing. Mereka tampak santai, tidak merasakan hawa panas, atau tajamnya batu karang.


Keduanya terus berjalan, kadang berloncatan dari batu karang ke batu karang lainnya, menuju kearah timur.


Pemuda tampan dan wanita cantik itu, tak lain adalah Arya dan Ratu Derwani, yang baru keluar dari kawasan Bukit Lodan, dan berniat mencari sebuah warung kopi, untuk sekedar minum dan beristirahat sejenak.


Dari jauh, tampak ada sebuah kedai kopi, yang pengunjungnya lumayan ramai, yang rata-rata mereka adalah para pelaut dan petani.


Gegas Arya dan Ratu Derwani, menuju ke kedai kopi, dengan berjalan kaki, tidak seperti di Bukit Karang berloncatan. Namun diperkampungan, keduanya lebih memilih berjalan kaki, agar tidak banyak mengundang perhatian orang.


Tidak seberapa lama, Arya dan Ratu Derwani tiba di kedai kopi, keduanya masuk kedalam kedai, dan langsung memesan minuman teh gula aren.


Selagi Arya dan Ratu Derwani tengah menikmati secangkir teh tubruk hangat, tiba-tiba sekelompok orang muncul di kedai kopi. Mereka langsung menyuruh orang yang berada didalam kedai untuk keluar, karena tempat itu sudah dikuasai oleh tuan tanah.


Semua orang yang tau tentang kelompok itu, cepat-cepat keluar untuk menghindar dari mereka. Karena para penduduk kampung sangat ketakutan dengan kelompok itu.


"Ayo, cepat keluar semua. Karena tempat ini sudah dikuasai oleh Tuan Wihardja. Ayo, cepat keluar!" Seru mereka berteriak.


"Ada apa ini? Kenapa semua pelanggan ku diusir?" Tanya pria tua, pemilik kedai merasa keheranan.


"Alah,,,! Jangan banyak cingcong kamu!" Bentak pria setengah baya, pemimpin kelompok itu.


Plak.... Plak....


Tangan pemimpin kelompok itu, menampar pemilik kedai, hingga terhuyung hampir menabrak meja. "Cepat...! Kamu juga keluar dari tempat ini, karena tempat ini sudah milik tuan Wihardja. Atau kamu mau aku tampar lagi!" Seru pemimpin kelompok membentak pemilik kedai.


"Maaf, Tuan...! Aku tidak pernah menjual tempat ini, karena ini adalah tempat warisan dari kedua orangtuaku," ucap pemilik kedai berniat menjelaskan.


"Tidak perlu dijelaskan, Tuan Wihardja sudah membelinya dari anak Kepala Desa. Lebih baik sekarang kamu keluar dari kedai ini, sebelum aku bertindak kasar kepadamu!" Seru pemimpin kelompok itu.


Namun, sebelum pemimpin kelompok itu bertindak kasar kepada pemilik kedai, Arya sudah melemparkan pemimpin kelompok keluar dari kedai, dan menabrak sebuah pohon besar.


"Kalau kalian berani, hadapi aku. Jangan beraninya pada orang-orang yang lemah saja, atau kalian ingin merasakan panasnya api!" Seru Arya, mengancam kelompok Tuan Wihardja.


"Bajingan kamu! Apakah kamu belum tau siapa aku? Ayo serang pemuda itu!" Seru pria setengah baya, pemimpin kelompok itu, memerintahkan kepada bawahannya.


Para anggota kelompok Tuan Wihardja, menerjang Arya dari berbagai arah, dengan senjata golok ditangannya masing-masing.


Arya tidak menghindar, malah dia menyalurkan lima puluh persen kekuatan, ke seluruh tubuhnya.


Duarr.... Duarr....

__ADS_1


Bentrokan dua kekuatan, antara para anggota kelompok Wihardja, dengan kekuatan tubuh Arya terjadi begitu dahsyat, hingga melemparkan seluruh anggota kelompok itu keberbagai arah, dan golok-golok merekapun pada patah, begitu juga dengan dirinya masing-masing, sekujur tubuhnya terasa sakit dan panas seperti terbakar oleh api yang besar.


Arya lalu menghampiri pemimpin kelompok itu, dan mencengkram lehernya hingga terangkat, kemudian melemparkannya kearah para begundal-begundal Wihardja.


"Sampaikan salam ku kepada tuanmu, dan anak Kepala Desa itu, aku menantangnya disini hanya sekedar untuk bermain olahraga, jika tidak datang, aku akan menghancurkan tuan kalian, dan sekaligus memberikan pelajaran untuk Kepala Desa," ucap Arya, sembari memberikan tantangannnya kepada Tuan Wihardja dan Kepala Desa.


Tanpa diperintah kedua kalinya, merekapun langsung kabur berlarian meninggalkan kedai kopi itu.


Dengan santai, Arya kembali ketempat duduknya, seakan tidak terjadi apa-apa.


"Terimakasih, Aden,! Aden telah menyelamatkanku. Tapi, Tuan Wihardja dan Kepala Desa pasti akan marah, Den," ucap pemilik kedai merasa khawatir.


"Tenang saja, Pak Tua. Tidak akan terjadi apa-apa, malah mereka yang akan keluar dari desa ini," balas Arya, meyakinkan pria tua pemilik kedai.


Pemilik kedai terdiam, dalam batinnya bertanya-tanya penasaran. Siapakah pemuda tampan dan wanita cantik itu sebenarnya?


Arya dan Ratu Derwani, melihat pria tua dihadapannya kebingungan, dan merasa penasaran terhadap dirinya, tersenyum renyah kepada pemilik kedai kopi.


"Pak Tua, tidak usah merasa khawatir, dan tidak usah bingung. Nanti, Pak Tua juga akan mengetahuinya sendiri," ucap Arya, mengerti apa yang dipikirkan oleh pemilik kedai.


"Iya, Pak Tua. Tenang sajalah, semuanya pasti aman kok,' sambung Ratu Derwani, meyakinkan pria tua pemilik kedai.


"Terimakasih, Aden dan Nden Putri, yang telah sudi menolong ku, dari ancaman Tuan yang serakah itu!" Balas pemilik kedai, langsung membungkukkan badannya, tanda hormat kepada Arya dan Ratu Derwani.


Pria tua pemilik kedai, kembali ketempat semula, duduk dibalik etalase tempat menjajakan dagangannya.


Perbuatan licik mereka itu, benar-benar sangat merugikan penduduknya, yang hidupnya sangat miskin sekali, karena ditindas oleh Tuan Wihardja dan Kepala Desa.


Selagi mereka asyik mengobrol, tiba-tiba muncul anak buah Tuan Wihardja, melaporkan apa yang mereka alami, dan menyampaikan tantangan dari seorang pemuda, yang berada di kedai kopi.


"Bajingan benar pemuda itu! Beraninya menantang ku! Apakah dia belum tau, siapa aku ini?" Tuan Wihardja sangat marah dengan tantangan dari Arya.


"Wikarta, ayo kita ke kedai kopi itu! Bawa semua anggota keamanan desa, untuk menangkap pemuda bajingan itu!" Seru Tuan Wihardja kepada Wikarta, adiknya yang menjadi kepala Desa.


Kepala Desa segera melaksanakan perintah dari kakaknya, untuk mengumpulkan seluruh anggota keamanan desa. Lalu Tuan Wihardja pun, memerintahkan anggotanya untuk menghubungi perguruan silat Tapak Jalak, yang masih ada hubungan kerabat.


Beberapa waktu berjalan, semuanya sudah berkumpul di rumah Tuan Wihardja. Termasuk tiga ratus anggota perguruan silat Tapak Jalak, yang dipimpin langsung oleh gurunya.


"Bagaimana Tuan Wihardja? Apakah kita langsung ke kedai kopi itu?" Tanya Guru Sumpena, pemimpin perguruan silat Tapak Jalak.


"Iya, kita langsung kesana saja!" Jawab Tuan Wihardja berseru.


Kemudian semua rombongan Tuan Wihardja, yang terdiri dari lima puluh anggota keamanan desa, dua ratus anggota kelompok Macan Hitam, tiga ratus anggota perguruan silat Tapak Jalak, dan seratus anggota keamanan Tuan Wihardja, berangkat menuju kearah pantai, tempat kedai kopi yang ingin dikuasainya.

__ADS_1


Keenam ratus orang gabungan itu, bersiap menangkap Arya dan Ratu Derwani, yang tengah asyik menikmati minum teh tubruk dengan makan makanan ringan, sambil Arya mempertajam pendengarannya, agar dia cepat mengantisipasi gerakan yang membahayakan pemilik kedai kopi.


Selang beberapa waktu, pendengaran Arya yang sangat tajam, mendengar suara teriakan semangat bertarung dari rombongan Tuan Wihardja, walau rombongan itu masih jauh, namun dengan kekuatan pendengaran Arya, dari jarak satu kilometer masih terdengar dengan jelas.


Arya mengajak Ratu Derwani,  untuk menghadang rombongan itu, agar jauh dari kedai kopi.


"Pak Tua, tunggu sebentar ya. Aku akan menghadang mereka!" Seru Arya, kepada pemilik kedai, yang langsung melesat loncat keluar kedai, diikuti oleh Ratu Derwani, dan langsung terbang menuju kearah rombongan Tuan Wihardja.


Pria tua pemilik kedai, terkejut melihat gerakan cepat dari keduanya, yang langsung terbang kearah utara.


"Sungguh luar biasa, masih pada muda, tapi memiliki ilmu yang begitu tinggi," ucap kagum pemilik kedai kopi dalam batinnya.


Arya dan Ratu Derwani, terus melesat terbang dibalik awan, menuju kearah rombongan para begundal-begundal Wihardja, yang ingin menangkap dirinya.


Dalam hitungan menit, keduanya melayang terbang di balik awan, di atas para begundal.


"Hahaha....! Hanya untuk menangkap dua orang saja, sampai mengerahkan ratusan orang. Dasar pecundang!" Seru Arya, dengan mengerahkan kekuatan suaranya, sehingga suaranya menggema dari balik awan, dan terdengar oleh rombongan Tuan Wihardja.


Tentu saja, tertawa dan suara Arya, membuat rombongan mereka terkejut, karena gema suara itu tanpa terlihat wujudnya.


"Hai...! Siapa kamu? Tunjukkan batang hidungmu, kalau kamu punya nyali!" Seru Tuan Wihardja, menantang pemilik suara itu.


"Baik, jangankan hanya batang hidung. Seluruh tubuhku, akan aku tunjukkan kepada kalian. Coba kalian lihat ke atas!" Seru Arya, sambil melayang turun, diikuti oleh Ratu Derwani.


Semua rombongan, terkejut melihat ada dua orang yang terbang menghampiri kearah rombongannya, karena selama mereka hidup, baru kali ini melihat ada dua orang yang dapat terbang. Jangankan dua orang, satu orangpun mereka belum pernah melihatnya.


"Si... Siapakah se... sebenarnya kalian berdua?" Tuan Wihardja gugup, bercampur dengan ketakutannya, melihat Arya dan Ratu Derwani, turun menghampirinya.


Arya dan Ratu Derwani, kali ini tidak ingin membuang-buang waktunya begitu saja, maka keduanya langsung menerjang mereka, Arya menerjang mereka dengan pukulan jarak jauhnya, sedangkan Ratu Derwani menyapu mereka dengan angin ****** beliung ciptaannya.


Duarr.... Duarr.... Whuungg.... Whuungg....


Suara ledakan yang cukup keras menggema disekitar tempat itu, disusul oleh gemuruhnya suara angin ****** beliung, yang menyapu bersih mereka, dan melemparkannya ke tengah-tengah lautan.


Setelah semuanya bersih tersapu oleh angin ****** beliung, Arya kembali ketempat semula, dan memberikan uang dua juta rupiah, sebagai tambahan untuk modal jualannya.


"Terimakasih, Aden. Semoga Aden berdua diberkati," ucap pemilik kedai berdo'a.


"Amin....!" Balas Arya dan Ratu Derwani, yang langsung melesat terbang dengan kecepatan tinggi menembus awan, sehingga pemilik kedai terpana kagum, melihat kesaktian keduanya.


Arya dan Ratu Derwani, melayang terbang dibalik awan, melanjutkan perjalanannya lagi menuju kearah timur.


Arya ingin berpetualang terlebih dahulu, sebelum menghadiri acara peresmian Prabu Agung Tower di Jakarta. Maka, waktu yang tinggal dua Minggu lagi itu, dia manfaatkan sebaik-baiknya, untuk menaklukkan semua iblis atau siluman, dan menolong sesama manusia.

__ADS_1


Arya dan Ratu Derwani, mengawasi semua tempat-tempat yang dianggapnya mencurigakan.


Bersambung.....


__ADS_2