Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
80. Begundal Hutan


__ADS_3

Dalam perjalanan ke wilayah barat, Arya dan Nawangsari melewati beberapa kota dan hutan, yang biasanya ditempuh dalam waktu satu hari dalam perjalanan terbang, namun dengan menunggangi kuda, memakan waktu sekitar seminggu lebih, karena harus beberapa kali beristirahat, agar kudanya tidak kelelahan.


Seperti malam ini, Arya dan Nawangsari, beristirahat dipinggiran hutan, karena ke kota jaraknya masih jauh. Hingga mau tidak mau, untuk mengistirahatkan kudanya, Arya menghentikan perjalanannya, kudanya ditambatkan disebuah pohon sambil memakan rumput yang hijau dan segar. Sedangkan dia dan Nawangsari, beristirahat di sebuah dahan pohon yang besar dan tinggi, agar bisa mengawasi keadaan disekitarnya.


Nawangsari tidur didalam dekapan Arya, agar tidak jatuh dari dahan pohon. Sedangkan Arya sendiri tetap terjaga, untuk mengawasi keadaan disekitarnya.


Tengah malam, Arya melihat gerakan yang mencurigakan, ada sejumlah orang yang mendekat kearahnya. Arya membangunkan Nawangsari perlahan-lahan, sambil berbisik di telinganya, mengatakan ada sejumlah orang yang sedang menghampirinya.


Nawangsari terbangun, tapi masih dalam dekapan Arya, seakan keduanya tidak mau saling melepaskan diri. Malah Nawang memeluk Arya semakin erat, Arya merasakan kehangatan dipeluk oleh Nawangsari, maka dengan penuh kasih sayang, Arya pun mengecup kening Nawangsari.


"Sayang, bangun sebentar. Orang-orang yang mencurigakan itu, sudah mendekati kita," ucap Arya, berbisik ditelinga Nawangsari.


Nawangsari melihat kearah yang ditunjuk oleh Arya, tampak sekitar tiga puluh orang sedang mengendap-endap mendekati ketempat Arya dan Nawangsari.


Arya segera masuk kedalam dunia jiwanya, membawa Nawang serta kudanya, langsung ke istana putih di wilayah barat dunia jiwa.


"Tunggu sebentar di istana ini, ya sayang. Nanti aku akan kembali lagi kesini," ucap Arya.


"Iya, Kak. Tapi jangan lama ya," balas Nawangsari.


Arya hanya menganggukkan kepalanya, sambil bergegas meninggalkan istana putih didalam dunia jiwa.


Whuuss....


Arya muncul kembali ditempat semula, dia berlindung di atas sebuah pohon besar dan rimbun, mengawasi pergerakan mereka.


"Dimana anak muda dan gadisnya itu?" Tanya pemimpin kelompok itu.


"Tadi berada disekitar sini, kok bisa menghilang secara tiba-tiba,' ucap salah seorang anggota kelompok itu.


"Nih, masih ada bekas kudanya!" Seru anggota lainnya.


Pemimpin kelompok itu memperhatikan bekas tapak kaki kuda, dan rumput bekas makannya.


"Pergi kemana mereka itu,?" Tanya pemimpin kelompok. "Cepat segera cari mereka,!" Serunya, memerintahkan kepada para anggotanya, yang berpencar mencari Arya dan Nawangsari.


"Oh, rupanya mereka itu kelompok begal, yang sering meresahkan penduduk perkampungan, dan sering membegal orang yang melewati jalanan hutan ini," ucap batin Arya.


Arya tersenyum berdiri di atas pohon, dalam gelapnya malam, dia bergerak tanpa diketahui oleh para anggota kelompok, karena dia ingin memperdayanya.


Satu persatu, para anggota kelompok itu, dilumpahkan kekuatan kultivasinya oleh Arya, dengan gerakan cepat tanpa diketahui oleh mereka. Arya memukul dantian para anggota kelompok begal, hingga mereka menjerit merasakan kesakitannya.


Sebelum Arya melanjutkan permainannya, dia loncat ke atas dahan pohon yang besar dan tinggi, ingin mengeluarkan dulu Nawangsari dari dalam dunia jiwanya, untuk menonton permainannya dengan pemimpin begal.


Whuuss.....


Nawangsari muncul dihadapan Arya, di atas dahan pohon besar.


"Tunggu disini ya, sayang!" Seru Arya. "Aku akan bermain-main dulu dengan pemimpin begal," tambah Arya, langsung melesat loncat kehadapan pemimpin begal.


Arya hanya menyisakan pemimpin begal, yang terpaku bengong, merasa aneh dengan kejadian itu. Belum dia menyadarinya, Arya sudah melemparkan dirinya, tanpa diketahui siapa yang melemparkannya.


Pemimpin begal jadi mainan Arya, seperti tengah bermain bola, melemparkan, menendang, menyundul, dan mempermainkannya dengan kedua kaki.


Nawangsari yang tengah menyaksikan Arya mempermainkan pemimpin begal, dari atas pohon, tersenyum melihat Arya seperti tengah bermain sepak bola.

__ADS_1


"Kak, lempar ke atas bolanya!" Seru Nawangsari.


"Tangkap nih!" Balas Arya berseru, sambil melemparkan pemimpin begal kearah Nawangsari.


"Hap.... Uhh...! Berat juga bolanya. Nih, aku kembalikan lagi!" Seru Nawangsari, sambil menendang tubuh pemimpin begal, hingga mencelat kearah Arya, lalu menangkapnya.


"Hup...! Diam kamu disini, sampai ayam berkokok," ucap Arya, kepada pemimpin begal, yang sudah tidak berdaya.


Arya kembali ke dahan pohon, menghampiri Nawangsari. Keduanya duduk di atas dahan, sambil mengawasi para begal, yang kekuatannya sudah dihilangkan.


Nawangsari kembali tidur dipelukan Arya, sangat manja sekali. Arya membelainya dengan penuh kasih sayang. Hingga waktu tak terasa, suara kokok ayam hutan terdengar, membangunkan semua penghuni hutan, dan menyambut sang pajar, menyingsing diupuk timur.


Pemimpin begal menggeliat, merasakan seluruh badannya sakit. Dia berusaha untuk berdiri, dari ketidak berdayaannya, dan berjalan tertatih-tatih, menghampiri para anggotanya yang sama tidak berdaya.


Arya sengaja membiarkan mereka pergi dari tempat itu, untuk menempuh hidup barunya, setelah semua kekuatan kultivasinya hilang.


Diapun membangunkan Nawangsari perlahan, dengan mencium keningnya, dan berbisik didekat telinga, untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanannya, menuju ke kota yang terdekat.


Nawangsari duduk di dahan pohon, merapihkan pakaian dan rambutnya yang panjang, lalu mengepangnya menjadi dua, seperti gadis berkepang dua. Cantik jelita dan mempesona.


Arya mengeluarkan kudanya dari dalam dunia jiwa, yang sudah merasa enak tinggal didalamnya, daripada tinggal didunia luar. Karena didalam dunia jiwa, penuh dengan tumbuhan rumput spiritual, dan sumberdaya tingkat Dewa, sehingga kuda itu tubuhnya semakin kuat, dan larinya semakin kencang.


Setelah kuda putih besar berada diluar dunia jiwa, Arya dan Nawangsari, berloncatan ke atas punggung kuda, lalu duduk seperti biasa.


Arya memacu kudanya dengan kecepatan sedang, menuju kearah barat, melewati sebuah kali, atau anak sungai, yang airnya sangat jernih, hingga mengundang keduanya untuk turun.


"Anak sungai ini airnya sangat jernih sekali, dan rasanya segar. Kita membersihkan badan dulu sebentar," ucap Arya.


"Iya, Kak. Badanku juga sudah pada lengket, banyak debu jalanan yang pada nempel di kulit," balas Nawangsari, lalu turun ke air.


Usai membersihkan tubuhnya, lalu keduanya mengganti pakaian, dengan pakaian khusus untuk para kultivator petualang, yang dikeluarkan dari cincin penyimpanannya.


Keduanya kembali ke atas kuda, dan memacunya kearah barat, menuju ke kota yang terdekat.


Ditengah-tengah perjalanan, Arya dan Nawangsari, mendengar suara pertarungan dari arah depannya. Arya memacu kudanya lebih cepat lagi, menuju arah sumber suara yang sedang bertarung.


Dari jarak lima meter, di atas kuda, Arya dan Nawangsari menyaksikan pertarungan dua kelompok, kelompok berjubah hitam dengan kelompok berjubah merah, kedua kelompok itu seperti ciri-ciri makhluk iblis dan para perampok.


Arya mempertajam pendengarannya, dengan menyalurkan kekuatannya, agar pembicaraan mereka terdengar dengan jelas.


"Kalian telah menyinggung perguruan Serigala Merah, karena itulah kalian harus bertanggungjawab," ucap Pemimpin Perguruan Beladiri Serigala Merah.


"Cuih...! Siapa takut dengan kalian? Aku sebagai gembong rampok di hutan ini, tidak akan mudah menyerah dengan begitu saja. Sampai kapanpun, aku akan melayani kalian," balas pemimpin rampok.


Kedua pemimpin kelompok itu, kembali bertarung dengan serunya. Beberapa jurus telah mereka keluarkan, namun keduanya belum terlihat ada yang terdesak, dua-duanya masih kuat untuk bertahan.


Sementara anggotanya dari masing-masing kelompok, hanya berdiri menyaksikan pertarungan kedua pemimpinnya. Belum ada yang menyerang, karena belum ada perintah dari pemimpin mereka.


Kedua pemimpin kelompok itu, terus melancarkan pukulan-pukulan yang mematikan, disusul dengan beberapa tendangan, hingga keduanya mundur beberapa langkah kebelakang.


Dug.... Dug.... Bug....


Kembali suara pukulan dan tendangan beradu, keduanya saling menyerang dengan jurus-jurus andalannya. Satupun belum ada yang terdesak, sama-sama kuat, karena ranah kultivasi mereka berada ditingkat yang sama. Ditingkat Low God tahap awal, sementara para anggotanya berada ditingkat Great Imortal Bintang Sembilan tahap puncak.


"Ayo kerahkan seluruh kekuatan mu!" Seru pemimpin perguruan Serigala Merah, memprovokasi pemimpin perampok.

__ADS_1


"Dasar pecundang....! Dari tadi hanya berteriak-teriak terus, kenyataan kaulah yang loyo, lemah dan tidak bertenaga," balas pemimpin kelompok perampok, balik memprovokasi pemimpin perguruan Serigala Merah.


"Bajingan kau...! Rasakan pukulan Serigala Merah Menerkam Mangsa... Hiaattt....!"


Pemimpin perguruan beladiri Serigala Merah, menerjang pemimpin perampok dengan jurus pamungkasnya. Begitu pula dengan pemimpin perampok, dia juga mengeluarkan jurus andalannya, jurus Cakar Harimau Menerkam Mangsa, yang dibarengi dengan kekuatan tenaga inti sepenuhnya.


Duarr.... Duarr.... Duarr....


Dua kekuatan yang sangat besar beradu, hingga melemparkan keduanya beberapa puluh meter, menabrak pepohonan besar.


Keduanya memuntahkan darah dari mulutnya masing-masing, sejenak mereka terdiam, merasakan sakit di dadanya, serta kedua tangan mereka terasa panas dan ngilu, seperti tulang tangannya pada retak, hingga tidak bisa digerakkan.


Para anggota dari kedua kelompok, berlarian kearah pemimpin kelompoknya masing-masing, berusaha menyelamatkan pemimpinnya.


Mereka membopong pemimpinnya untuk dibawa pulang, namun segera dihentikan pergerakan mereka oleh Arya, dengan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, hingga semuanya menjadi patung.


"Kalian jangan dulu pergi, sebelum ranah kultivasi kalian musnah," ucap Arya, sambil bergerak dengan cepat, memukul dantian para anggota dari kedua kelompok itu.


"Nah, dengan demikian, kalian tidak akan berbuat kejahatan lagi. Setidaknya, dengan lenyapnya kekuatan kalian, akan mengurangi kejahatan di alam ini," ucap Arya, menatap mereka satu persatu, yang meringis menahan rasa sakitnya.


"Sekarang, silahkan kalian pergi. Bertobatlah, sebelum ajal menjemput kalian," tambah Arya, menyuruh mereka pergi.


Dengan terpaksa, kedua kelompok itu berdiri, lalu berjalan tertatih-tatih, menahan rasa sakit dibawah perutnya.


Begitu pula dengan Arya dan Nawangsari, keduanya meneruskan perjalanannya lagi, dengan memacu kudanya kearah barat, menyusuri jalanan dipinggiran hutan.


Arya mempercepat lari kudanya, hingga debu-debu jalanan tanah dipinggiran hutan, berterbangan tersapu oleh angin, yang ditimbulkan dari derap kaki kuda yang berlari kencang.


Tak seberapa lama, Arya menghentikan lari kudanya, sekitar tiga ratus meter dari gerbang kota.


"Kita turun disini, karena gerbang kota sudah dekat," ucap Arya, loncat dari kudanya, disusul oleh Nawangsari.


Kemudian Arya memasukkan kudanya kedalam dunia jiwa, agar kudanya bisa istirahat, dan menambah kekuatannya lagi.


Kuda putih besar itu, merasa senang tinggal didalam dunia jiwa milik Arya, karena lengkap dengan berbagai sumberdaya tingkat Dewa.


Arya dan Nawangsari, meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki, menuju kearah gerbang kota.


Tiba didepan gerbang kota, yang di atas gerbangnya ada sebuah tulisan ; Selamat Datang Di Kota Dewa Matahari.


"Kita sudah sampai di Kota Dewa Matahari, kita istirahat dulu semalam di kota ini, baru besok melanjutkan perjalanan lagi," ucap Arya.


"Baik, Kak. Aku juga kepingin istirahat," balas Nawangsari manja.


Arya dan Nawangsari, berjalan menghampiri penjaga pos pemeriksaan, untuk meminta izin masuk kedalam kota.


Setelah penjaga pos memeriksa identitas diri Arya dan Nawangsari, serta membayar sepuluh koin emas, sebagai biaya masuk kedalam kota. Keduanya meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki, menyusuri sepanjang jalanan kota, mencari sebuah penginapan.


"Kota ini cukup ramai juga ya, Kak?" Tanya Nawangsari.


"Iya, Dik Nawang. Mereka juga sama seperti kita, pengunjung di kota ini," jawab Arya.


Keduanya terus melangkahkan kakinya, mencari sebuah penginapan yang nyaman, yang lengkap dengan berbagai pasilitas dan restorannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2