Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
08. Menghancurkan Istana Raja


__ADS_3

Duarr.... Duarr.... Boom....


Pasukan khusus Angkatan Udara Rajawali Sakti, terus-menerus menggempur Istana Utama Kerajaan Daha. Pasukan pemanah beracun, juga turut menghujani prajurit Jayanagara, dengan panah-panah berscunnya, dibarengi dengan gempuran dari pasukan tempurnya.


Gempuran secara tiba-tiba dari udara, membuat seluruh prajurit Jayanagara kocar-kacir, mereka berusaha pada menyelamatkan dirinya masing-masing, tidak tahan dengan gempuran dari Arya dan pasukannya.


Tak ayal lagi, seluruh pertahanan Jayanagara hancur lebur, musnah digempur dari udara oleh seratus sepuluh ribu prajurit pilihan Rajawali Sakti, yang menunggangi sepuluh ribu burung rajawali raksasa. Belum lagi gempuran dari pasukan Cakrabenua, yang dipimpin Jenderal Anggadiredja dari berbagai penjuru.


Pasukan Cakrabenua, merupakan pasukan gabungan prajurit pilihan dari seluruh raja-raja bawahan daratan Benua Tengah, dan para kultivator bebas serta para Perguruan Bela Diri aliran putih di seluruh Benua ini, maka pasukan gabungan itu diberi nama Cakrabenua, yang menandakan kekuatan dari daratan Benua Tengah.


Sedangkan Pasukan Telik Sandi, yang dipimpin Jenderal Kartadipura, adalah pasukan rahasia, dengan operasi senyapnya, tanpa diketahui musuh, mampu mengumpulkan data-data rahasia musuhnya, dan mampu menculik para pejabat tinggi dari musuh-musuhnya.


Seperti dalam pertempuran ini, pasukan Telik Sandi telah menculik antek-antek Jayanagara, dan keluarganya dari Istana Utama sebelum digempur oleh Pasukan Udara. Tinggal hanya Raja Jayanagara, Patih dan pasukannya di Istana Putih.


"Bajingan..... Siapa yang berani menyerang Kerajaan Daha secara tiba-tiba?" Geram Jayanagara, yang tengah berada didalam Istana Putih.


"Tidak tahu dari mana, Paduka. Tiba-tiba ledakan terjadi dimana-mana," ucap Patih Kerajaan Daha, yang setia pada Jayanagara.


"Panggil Panglima, suruh menghadap, dan amankan keluargaku di Istana Utama!" Perintah Raja Jayanagara pada Patihnya.


"Baik, Paduka," balas Patih, langsung pergi menemui Panglima dan Keluarga Raja di Istana Utama.


Raja dan Patih belum mengetahui, bahwa Panglima Kerajaan bersekutu dengan Arya, dan keluarga Raja beserta antek-anteknya telah diculik oleh Pasukan Telik Sandi, sebelum penyerangan dimulai.


Sangat rapi dan tepat sasaran, yang dilakukan seluruh Pasukan Prabu Widjaja, sehingga para penduduk Kota Raja tetap aman, bahkan dijaga oleh pasukan Cakrabenua, agar tidak menjadi salah Sasaran.


Ditengah perjalanan dari Istana Putih menuju Istana Utama, tiba-tiba Patih Jayangrana diterjang oleh pukulan yang sangat kuat, hingga diapun terlempar ratusan meter.


"Agrh.... Dasar pengecut. Beraninya maing bokong," ucap marah Patih Jayangrana.


"Hahaha..... Dasar bodoh," ucap suara dari samping kanannya.


"K.... Kau....!" Seru Patih terkejut, melihat Arya muncul dari samping kanannya.


"Ya, aku," ucap Arya singkat.


"Agrh.... bajingan penghianat," hardik Patih marah kepada Arya, karena telah menyerangnya secara tiba-tiba.


"Siapa yang penghianat? Kau atau aku?" Tanya Arya, menindas Patih Jayangrana, dengan tatapan tajam matanya yang mengandung aura mistis yang sangat kuat. Tentu saja, jiwa dan batin Patih itu bergetar keras, tubuhnya pun seperti kedinginan.


"Patih, siapa yang penghianat itu? Apa kau tidak sadar, bahwa penghianat itu adalah kelompoknya Wikarta Suryamanggala, yang telah merebut kekuasaan Prabu Widjaya Suryamanggala secara paksa. Termasuk kau juga ikut didalamnya," hardik Arya marah.


"Si.... Siapa kau sebenarnya?"


Arya mengeluarkan pusaka Kerajaan dari cincin penyimpanannya, lalu pusaka trisula dan kalung giok liontin diperlihatkan kepada Patih Jayangrana.


"Pu.... Pusaka ke.... kerajaan, dan ka.... kalung giok liontin." Gugup Patih, melihat dua barang pusaka milik Kerajaan Daha.

__ADS_1


"Si.... Siapa sebenarnya kamu?" Tanya Patih lagi penasaran.


"Aku cucunya Prabu Widjaya Suryamanggala, dan putranya Prabu Jayadipa Kusumah yang kau bunuh," tegas Arya.


"Agrh.... Ternyata kau anaknya Prabu Jayadipa Kusumah?" Tanya Patih Jayangrana terkejut.


"Ya, memangnya kenapa? Kalau aku anaknya Prabu Jayadipa Kusumah. Apakah sekarang kau merasa takut menghadapi ku?" Balas Arya, bertanya kepada Patih Jayangrana.


"Bajingan kau. Rasakan ini, hiiaaatttt...."


Tiba-tiba, Patih Jayangrana menyerang Arya, dengan pukulan terkuatnya, namun Arya tidak bergeser sedikit pun, malah dia tersenyum tenang, sambil mengeluarkan jurus pukulan Cakar Rajawali, hingga dua kekuatan beradu dengan dahsyatnya.


Duarr.... Duarr....


Terdengar ledakan yang sangat keras, melemparkan tubuh Patih Jayangrana beberapa ratus meter, hingga tidak bergerak lagi.


"Nah, sekarang sudah ku balaskan dendam kedua orangtuaku. Semoga arwah kedua orangtuaku tenang di alam sana. Tinggal aku menangkap Jayanagara," ucap Arya, lalu pergi meninggalkan tempat itu, dan langsung menuju ke Istana Putih.


Namun dia terus dihadang oleh prajurit istana, yang setia pada Raja Jayanagara, Arya tidak terlalu sulit menghadapi mereka, dengan mudahnya semua dibuat lumpuh dan cacat seumur hidup.


Jika setiap prajurit berani Menghadang, Arya tak akan segan-segan melemparkannya, semuanya dilumpuhkan tanpa diberi ampun.


Sepanjang perjalanannya menuju ke Istana Putih, Arya terus-menerus membatai seluruh prajurit istana, yang coba-coba berani menghadangnya.


Didalam Istana Putih, Raja Jayanagara dan para pengikutnya murka.


"Ada apa, Paduka? Tanya salah seorang pengikutnya.


"Istana Utama sudah hancur, dan Patih tewas," ucap Raja murka.


"Bagaimana dengan semua keluarga Paduka?"


"Entahlah...!" Balas Raja bingung bercampur marah.


Duaar.... Brakk....


Tiba-tiba pintu Istana Putih hancur, diterjang pukulan petir yang dilesatkan dari tangan Arya. Dan Semua yang berada didalam Istana terkejut.


Belum pulih dari keterkejutannya, sambaran petir dari tangan Arya menghantam para pengikut Raja Jayanagara, hingga menghanguskan tubuh-tubuh mereka, Arya hanya menyisakan Rajanya.


Lalu Arya melangkah menghampiri Raja Jayanagara, yang terbengong melihat kejadian itu secara tiba-tiba.


"K..... Kau.....!" Raja tak kebat bicara, tiba-tiba terkunci oleh teknik jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan. Dia sama sekali tidak berkutik, seolah seluruh badannya dirantai. Sudah dijadikan patung hidup oleh Arya, hanya bisa mendengar dan matanya berkedip-kedip.


"Hahaha.... Kau sekarang kena karmanya," ucap Arya, menatap Jayanagara.


Raja hanya bisa menatap Arya dengan murkanya. Dia tidak bisa bicara dan bergerak. Seperti patung arca yang dipajang di Istana. Hanya bisa menatap dan mendengar saja.

__ADS_1


"Kamu ingat dengan peristiwa sembilan belas tahun lalu. Ketika Wikarta Suryamanggala, merebut Tahta Prabu Widjaya Suryamanggala dengan paksa, kini karmanya menimpa dirimu," ucap Arya, sambil menatap tajam Raja Jayanagara.


Jayanagara hanya bisa mendengarkan ucapan Arya, walau hatinya marah. Namun apa daya, tangan pun tak sanggup menggapai tubuh Arya.


"Aku adalah cucunya Prabu Widjaya Suryamanggala, putranya Prabu Jayadipa Kusumah," ucap lanjut Arya.


Deg.... Batin Raja Jayanagara terkejut. Matanya mendelik kearah Arya. Hati dan pikirannya berkecamuk. Jiwanya terus bergetar keras, serasa gempa berkekuatan tinggi.


Arya lantas memperlihatkan kedua benda pusaka kerajaan kepada Jayanagara. "Dengan kedua pusaka kerajaan ini, aku sah menjadi Raja Kerajaan Daha, bahkan menjadi Penguasa Benua Tengah," ucap Arya tersenyum menang.


Tidak berselang lama, Panglima Begawan dan beberapa jenderal bawahannya, tiba di Istana Putih, mereka berlutut memberi hormat kepada Arya.


"Salam, Penguasa," ucap mereka bersamaan.


"Berdiri, salam kalian aku terima," balas Arya.


"Panglima, apakah semuanya sudah dibereskan? Tanya Arya.


"Sudah, Penguasa," jawab Panglima.


"Kalau begitu, kamu urus Raja Bodoh ini, sekaligus dengan seluruh keluarganya yang sudah ditangkap, dan para prajurit yang tersisa. Penjarakan semuanya diruang tahanan bawah tanah," ucap Arya, memberikan perintah kepada Panglima Kerajaan.


"Baik, Penguasa," jawabnya.


Setelah Arya memberi arahan kepada Panglima, dia bergegas kembali ke Kota Pelabuhan Tanjung Perak. Karena kota tersebut telah dijadikan kota utama, sebagai Pusat Kekuasaan Benua Tengah.


Empat hari kemudian, Arya beserta pasukan udaranya, tiba di Kota Pelabuhan Tanjung Perak. Dia langsung menggerakan bawahannya, memberikan berbagai tugas untuk kembali menata, membangun, memperluas dan mempercantik kota pelabuhan menjadi kota Metropolitan.


Selain itu, dia beserta jajarannya telah menyusun struktur Jabatan Kerajaan Besar Benua Tengah, Arya atau Prabu Aria Wijaya Kusumah, resmi menjadi Maharaja atau Penguasa Benua Tengah.


Panglima Begawan Abisana diangkat menjadi Patih Kerajaan Besar atau Wakil Penguasa. Tuan Kota Barmantian, diangkat menjadi Menteri Urusan Dalam Kerajaan, Wiradiredja sebagai Menteri Ekonomi dan Perdagangan, Menteri Urusan Luar Kerajaan diisi oleh Tuan Djayusman.


Panglima Kerajaan Besar dijabat Jenderal Bayu Amarta, Panglima Angkatan Udara dipimpin Jenderal Adiwiyata, Panglima Angkatan Darat dipegang oleh Jenderal Kartadipura, Panglima Angkatan Laut Jenderal Wiguna, Panglima Telik Sandi Jenderal Anggadiredja, Panglima Pasukan Khusus Cakrabenua Jenderal Banaspati, Panglima Pasukan Elite Faksi Rajawali Sakti Jenderal Arya Dirgantara, dan Tetua Kampung Tempat Kelahiran Arya, diangkat menjadi Tuan Kota Metropolitan Tanjung Perak.


Setelah struktur Jabatan Kerajaan selesai disusun. Arya memerintahkan kepada para pejabatnya, untuk segera melaksanakan tugasnya masing-masing, sesuai dengan fungsi dan jabatannya.


Tiga tahun berlalu, kota Metropolitan Tanjung Perak perkembangannya begitu pesat. Gedung-gedung bertingkat yang megah, menghiasai kota. Kebersihan dan keindahan selalu dijaga. Para petugas kebersihan pun setiap saat berkeliling, menjaga kota agar tetap bersih, indah dan nyaman.


Saat ini, usia Arya sudah hampir memasuki angka dua puluh tiga tahun. Namun dia belum berniat untuk mencari calon permaisuri. Entah apa yang dipikirkannya, hanya Arya dan author yang tau.


Dalam usia hampir dua puluh tiga tahun, kekuatan Arya semakin meningkat. Selain dia menjadi seorang kultivator yang kuat, dengan jurus-jurus Rajawali Sakti, dia juga sebagai penguasa hebat, yang memiliki kekuatan sangat mengerikan, dengan ranah kekuatan kultivasinya sudah berada ditingkat Pendekar Dewa Surga tahap puncak.


Di benua ini, sudah tidak ada lagi tandingannya, maka dia berniat menjelajah seluruh alam, Alam Dewa Nirwana, Alam Dewa Agung Lapisan Satu Hingga Lapisan Sembilan, dan alam-alam lainnya. Karena di Alam Dewa Agung ini, sudah tidak ada Lagi yang mampu menandinginya.


Di Alam Dewa Agung, dibagi menjadi lima benua. Benua Tengah, disebut sebagai Jantungnya benua. Ada juga Benua Selatan, Timur, Barat, dan Benua Utara.


Namun sebelum dia naik ke Alam lebih tinggi lagi, dia ingin menguasai dulu seluruh benua di Alam Dewa Agung.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2