Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
47. Ketua Geng Motor Dihajar


__ADS_3

Belum jauh melaju dari restoran, mobil Arya di pepet oleh empat mobil dan puluhan motor.


Mereka berloncatan keluar dari mobil dan puluhan motor, mengepung mobil sedan Mercedes Benz Tiger milik Arya. Mereka belum bergerak karena belum ada perintah dari pemimpinnya.


Nurdin Naga Berantai keluar dari mobil Hardtop, lalu menghampiri mobil Arya, dan langsung berteriak menyuruh para penumpangnya keluar.


"Hai, keluar kalian! Atau gue pecahkan kaca mobil mewah eluh ini!" Teriak Nurdin Naga Berantai, sambil menggedor-gedor pintu mobil Arya.


Arya membuka kaca pintu mobilnya yang gelap, sehingga dari luar tidak terlihat penumpang didalamnya.


"Apa yang mau kau pecahkan, kaca mobil atau kepalamu?" Tanya Arya, menatap pengikutnya yang garang.


"Eh... Oh... Ma...maaf, Tuan Muda. A... Aku tidak tau bahwa penumpang mobil ini adalah, Tuan Muda," jawab Nurdin Naga Berantai, gugup ketakutan.


"Besok pagi kamu datang ketempat ku, kalau sampai tidak datang. Tau sendiri akibatnya," ancam Arya tegas.


"Baik, Tuan Muda," balasnya ketakutan bukan main.


"Ayo pir, jalan lagi!" Seru Arya, kepada supirnya.


Mobil mewah pun segera melaju lagi, meninggalkan tempat itu.


"Waduh, mampus gue. Bakalan habis gue dihajarnya," ucap Nurdin Naga Berantai, sambil menepuk jidatnya.


"Hai, gara-gara eluh pada. Nasib gue bakalan habis besok pagi. Eluh tau siapa dia?" Tanya Nurdin Naga Berantai marah.


"Tidak tau, Bang," jawab mereka bersamaan.


"Dia itu adalah bos gue, pemilik PT. Prabu Agung Corp. Bisa mampus gue besok."


Plak... Plak... Plak... Bug...


Tiba-tiba Nurdin Naga Berantai menampar dan memukul semua anggotanya, untuk melampiaskan kemarahannya, hingga beberapa anggotanya terjengkang kebelakang, dan tersungkur mencium aspal jalanan.


"Gara-gara eluh-eluh pada, nasib gue udah diujung tanduk," geram Nurdin Naga Berantai, kepada anggotanya.

__ADS_1


"Maaf Bang, aku sama sekali tidak tau," balas adiknya Nurdin Naga Berantai.


"Udah, gue bubarin geng motor ini! Mulai sekarang, udah tidak ada lagi yang namanya geng motor. Gue anggap, geng motor ini udah tiada. Jika masih ada geng motor yang buat kerusuhan, gue bakalan abisi sampe keakar-akarnya," ucap Nurdin marah sekali. Lalu dia pergi meninggalkan mereka.


Mobil Mercedes Tiger yang ditumpangi oleh Arya, meluncur menuju jalan Teungku Umar, dikawasan Menteng Jakarta Pusat.


Dia sudah membeli tempat dikawasan itu, untuk kantor Prabu Agung Corp, yang dijaga ketat oleh Jali Macan Kemayoran bersama bawahannya.


Sedan Mercedes Tiger, perlahan masuk ke halaman sebuah bangunan besar berlantai tiga, yang dijadikan kantor oleh Arya. Didepannya ada tulisan PT. Prabu Agung Corp, sebuah perusahaan raksasa di Asia.


Para penjaga di kantor itu, dengan sigap menyambut bosnya turun dari sebuah mobil mewah. Lalu Arya langsung masuk menuju lantai dua, keruangan tempat dia bekerja, untuk memeriksa semua berkas yang akan ditandatangani.


"Hmmm.... Beginilah cara kerja di alam modern ini, tidak hanya menggunakan kekuatan saja, tapi juga menggunakan kecerdasan otak,' ucap batin Arya.


"Perdi, panggil Jali suruh menghadap," perintah Arya kepada Perdi.


"Baik, Tuan Muda," balas Perdi, berlalu keluar dari ruangan kerja Arya.


Tak lama kemudian, Perdi muncul membawa Jali, keduanya berdiri didepan pintu ruangan kerja Arya. Setelah mengetuk pintu, gegas Perdi membawa Jali masuk kedalam ruangan kerja Arya.


Setelah berada didalam ruangan, Arya mempersilahkan bawahannya duduk di kursi tamu. Bang Jali dalam batinnya penasaran, ada apa sebenarnya dia dipanggil oleh Arya.


"Ada sedikit permasalahan yang dibuat oleh bawahan mu," ucap Arya, menatap Jali yang menunduk, antara segan dan takut.


Deg.... Batin Jali terkejut, hatinya bergetar keras, terasa deg-degan. Seluruh tubuhnya gemetar, terasa panas dingin seperti terserang penyakit demam berdarah.


"Sebenarnya ada apa dengan anak buah ku, Tuan Muda?" Tanya Jali.


"Bawahan mu itu menghadang mobil ku dipertengahan jalan menuju kemari, meminta sejumlah uang dan mau menghancurkan kaca mobil," balas Arya menjelaskan.


Dari mulai di Jalan Gerbang Pemuda Senayan hingga ke restoran mewah, dan menuju kearah Teungku Umar, diceritakan kepada Jali Macan Kemayoran atas kelakuan bawahannya, yang benar-benar sangat mengecewakan Arya.


"Nah, begitulah kelakuan bawahanmu itu. Benar-benar sangat keterlaluan," jelas Arya. "Sekarang, uruslah mereka sampai tuntas. Beri pelajaran berharga buat mereka," tambahnya.


"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu, aku undur diri," balas Jali benar-benar sopan, dalam hatinya dia sangat marah kepada bawahannya, yang berani berlaku kurang ajar terhadap Arya.

__ADS_1


Jali Macan Kemayoran pun langsung menghubungi Nurdin Naga Berantai, lewat pesawat Handy Talky (HT), yang selalu dibawanya kemana-mana, memerintahkan Nurdin Naga Berantai untuk segera datang ke markas utama preman.


Keduanya, baik Jali Macan Kemayoran, maupun Nurdin Naga Berantai, sama-sama meluncur menuju Markas Besar Gerakan Preman Bawah Tanah, yang bermarkas di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.


Keduanya mengebut, memacu kendaraan Hardtopnya dengan kecepatan tinggi. Jali dengan amarahnya yang membludak-bludak, memacu kendaraannya seperti dalam kesetanan. Sementara Nurdin, sangat penasaran sekali dipanggil mendadak ke Markas Gerakan Preman Bawah Tanah.


Hampir bersamaan, keduanya tiba dihalaman depan Markas Gerakan Preman Bawah Tanah. Gegas keduanya turun dari mobil, begitu berhadapan, Jali Macan Kemayoran tidak berbasa-basi lagi, dia langsung memukul Nurdin Naga Berantai bertubi-tubi, hingga membuat Nurdin tersungkur nyungsep ke lantai tempat parkir.


"Bang Jali, tunggu dulu, Bang! Ade ape ini? Kok gue dihajar seperti ini?" Tanya Nurdin sangat terkejut, ketika tiba-tiba dirinya di permak


"Ape eluh kagak sadar, kalau eluh udeh berani menyinggung bos kita?" Tanya Jali Macan Kemayoran.


"Maaf, Bang....! Awalnya gue kagak tau, kalau itu adalah bos kita, Bang," balas Nurdin merasa bersalah.


"Kenapa eluh berusan dengan bos kita?" Tanya Jali lagi.


"Itu, Bang...! Awalnya adek gue yang mau malakin bos kita, adek gue dihajar ama ajudannya, ampe bonyok, Bang. Gue kagak nyangka, nyang dia aduin itu bos kita," jawab Nurdin menjelaskan dengan logat Betawinya.


"Udeh, mending eluh besok datangin tuh bos kita. Minta maaf ama dia, ajak tuh adek eluh," ucap Jali memberi saran kepada Nurdin Naga Berantai.


"Iye, Bang...! Abang udah pengertian ama gue," balas Nurdin.


Jali hanya menganggukkan kepalanya sambil berucap, "Bikin gara-gara aja eluh!" Ucap Jali, lalu pergi meninggalkan Nurdin yang merasakan rasa sakit diwajahnya, yang sudah bonyok dihajar oleh Jali Macan Kemayoran.


Mobil Jeep Hardtop meluncur di Jalan Sabang menuju kearah jalan Teungku Umar, kembali ke kantor Prabu Agung Corp.


Didalam kantor Prabu Agung, Arya baru saja usai melaksanakan pertemuan dengan beberapa pemimpin devisi, yang melaporkan seluruh pekerjaannya, terutama pekerjaan di bidang Kontraktor dan Development, yang sedang membangun perhotelan, apartemen, swalayan, restoran mewah dan perumahan mewah dibilangan selatan Jakarta, serta membangun tempat wisata bertaraf Internasional ditepi laut Jakarta Utara, yang pengerjaannya hampir rampung.


Namun dibeberapa wilayah ada kendala, proyek-proyek yang sedang ditangani oleh Prabu Agung, dijegal oleh para mafia suruhan Cokro Soediro, yang memiliki perusahaan Soediro Grup.


"Catat, nama orang-orangnya yang menghambat semua proyek kita!" Perintah Arya kepada Lukman Atmadja.


"Baik, Tuan Muda," balas bawahannya singkat.


Arya pun berlalu dari tempat itu, hendak kembali ketempatnya di Bogor.

__ADS_1


Mobil mewah jenis Mercedes Tiger, meluncur di jalan raya dengan kecepatan tinggi menuju kearah kota Bogor.


Bersambung.....


__ADS_2