Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
43. Mempermainkan Perampok


__ADS_3

Udara dingin menyelimuti seluruh hutan Sasakala, menusuk permukaan kulit yang hampir membeku. Suara binatang malam mengiringi langkah seseorang didalam hutan, seakan menyambut kehadirannya.


Seorang pemuda terus berjalan, menerobos gelapnya malam. Langkah kakinya begitu ringan, tidak terpengaruh oleh suasana disekitar hutan.


Pemuda yang mengenakan jubah hitam dan caping itu terus melangkah, menyusuri jalan setapak. Tidak berniat untuk terbang, atau melompat dari pohon ke pohon besar.


Krosak.... Krosak.... Krosak....


Terdengar suara langkah kaki yang begitu berat, tak jauh darinya, pemuda berjubah hitam yang tak lain adalah Arya, menghentikan langkah kakinya. Dia menajamkan pendengarannya.


Krosak.... Krosak.... Krosak....


Langkah kaki itu menjauh darinya, Arya dibuat penasaran. Langkah kaki makhluk apa sehingga terdengar begitu berat.


Dia melompat keatas dahan pohon, mengedarkan mata malaikatnya, tampak olehnya ada beberapa makhluk yang menyeramkan menuju kesebuah Goa.


Lalu Arya melesat terbang di atas pepohonan, menuju ketempat makhluk itu berjalan.


Dari sekitar sepuluh meter, di atas pohon besar, Arya mengawasi pergerakan makhluk-makhluk itu, dia sangat paham betul, makhluk itu seperti yang dia lumpuhkan diperkampungan Jati Tunggal, hanya kelompok perampok yang mengenakan kostum iblis merah bertanduk.


Sama persis dengan apa yang dia lihat sekarang ini, sekelompok manusia mengenakan kostum iblis merah bertanduk, berjalan beriringan menuju kesebuah Goa.


Arya dari jarak sepuluh meter, terus membuntutinya, hingga mereka tiba di mulut Goa, dan langsung masuk kedalamnya.


Tak menunggu lama, Arya segera melesat mengikuti mereka masuk kedalam Goa, menyusuri lorong-lorong Goa yang sempit dan pengap, di kiri dan kanan lorong-lorong Goa, terdapat batu-batu runcing, dari atas dinding menetes tetesan air yang membuat batu-batu pijakan kaki licin karena basah.


Dia terus berjalan mengikuti kelompok makhluk-makhluk itu dengan waspada, agar langkah kakinya tidak terdengar.


Gemerincing suara tetesan air didalam Goa terdengar jelas, menandakan Goa ini sangat lembab. Penuh dengan tetesan air yang membasahi pakaiannya.


Namun semakin kedalam, lorong-lorong Goa itu semakin membesar, dan air yang menetes dari atas dinding Goa sudah tidak ada. Udara didalamnya semakin sejuk, tidak selembab seperti didalam lorong-lorong yang sempit dan pengap.


Arya terus melangkah mengikuti kelompok makhluk-makhluk itu, terasa ada angin dari arah depan menerpa dirinya.


Kelompok makhluk itu menghilang dari tatapan Arya di ujung lorong Goa, yang akhirnya kembali dia mengedarkan pandangan mata malaikatnya, memindai seluruh tempat itu.


Ternyata diujung lorong yang gelap, karena masih dalam keadaan malam, adalah sebuah ngarai yang curam.


Dari dalam ngarai itu, terdengar ada sebuah air terjun, yang airnya mengalir deras. Ada lima buah bangunan rumah dari kayu menghadap ke sungai air terjun, sekolompok makhluk-makhluk, ternyata benar manusia yang menyamar sebagai makhluk iblis merah bertanduk, setelah mereka melepas kostumnya.

__ADS_1


Arya yang melihat itu sudah tidak heran lagi, karena sebelumnya sudah berhadapan dengan mereka. Dan sekarang, malah Arya bertemu lagi dengan para begundal-begundal perampok. Apakah kelompok ini masih ada hubungannya dengan kelompok yang telah dilumpuhkannya? Batin Arya terus bertanya-tanya.


Dari jarak sekitar enam meter di atas pohon besar, dengan menekan auranya ketingkat dasar, seperti tidak memiliki ranah kekuatan kultivasi, Arya terus mengawasi mereka.


Pendengarannya dipertajam, dengan setengah kekuatan yang dimiliki Arya, agar dapat mendengar obrolan mereka dengan jelas.


"Bagaimana dengan kabar anggota kita yang menghilang itu? Apakah kalian sudah mendapatkan informasinya?" Tanya pemimpin kelompok perampok.


"Sudah, Ketua. Menurut keterangan yang aku peroleh dari penduduk Jati Tunggal, teman-teman kita yang menyatroni perkampungan itu, dilumpuhkan oleh seorang pemuda yang bergelar Arya Sang Petualang. Namun anehnya, pemuda itu ranahnya masih ditingkat Pendekar Dewa Bumi tahap awal, seperti yang pernah kita dengar dari beberapa kelompok perampok lainnya, seorang pemuda yang memiliki rantai baja dan mengenakan jubah hitam serta bercaping, menurut mereka pemuda itu adalah orang terdekat Penguasa Agung Seluruh Alam," jelas salah seorang anggota rampok panjang lebar.


Arya yang mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, yang disangkut pautkan dengan dirinya, tersenyum karena dugaannya tepat, bahwa perampok itu satu kelompok dengan perampok yang dilumpuhkan di kampung Jati Tunggal.


"Ya, sosok pemuda itu menjadi momok bagi kita, sangat misterius sekali. Datang dan pergi tanpa diketahui. Untungnya aku menemukan tempat ini, sehingga pemuda misterius itu tidak akan menemukan tempat kita," sambung pemimpin rampok.


Baru saja mereka selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara tertawa ngakak.


"Hahaha.... Kata siapa aku tidak bisa menemukan tempat ini," ucap seorang pemuda bercaping, telah berdiri dihadapan mereka, entah darimana datangnya.


Tentu saja kelompok perampok itu terkejut bukan main, mereka tidak akan pernah menyangka jika pemuda misterius itu, mampu menemukan tempat mereka.


"Meskipun kalian bersembunyi di lobang semut sekalipun, pasti aku akan menemukan kalian, karena manusia-manusia sampah seperti kalian, tidak layak untuk hidup berlama-lama dimuka bumi ini" ucap Arya, memprovokasi mereka.


"Dasar bajingan laknat, berani-beraninya masuk ke kandang singa. Apakah kamu sudah bosan hidup?" Tanya pemimpin rampok berteriak.


"Bangsat...! Hiiaaatttt....!" Seru ketua rampok, langsung menerjang Arya dengan segudang amarahnya.


"Jaring ikan," ucap Arya mengejek ketua rampok, sambil mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.


Tentu saja, semua orang yang berada ditempat itu, menjadi patung terkena jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, yang disebutnya sebagai jaring ikan.


Dengan santainya, Arya menghampiri pemimpin rampok, dan tangannya seperti biasa, usil mencabuti kumis dan cambang ketua para begundal rampok, satu persatu dengan kencangnya.


Terlihat dimata pemimpin rampok, menyimpan segudang rasa benci dan dendam, namun dia tidak dapat untuk melawannya. Bergerak pun sudah tidak mampu, apalagi untuk membalas dendam.


"Wow.... Kamu menyimpan segudang rasa dendam, baiklah kalau kamu ingin melampiaskan dendam mu," ucap Arya mengerti keinginan ketua rampok, sambil menarik kembali pengaruh jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan. "Ayo, serang lagi," tambah Arya, memancing emosinya, setelah dia sadar dari pengaruh jurus pengunci lawan.


Ketua rampok menatap Arya, dia ragu untukĀ  menerjangnya.


"Tidak usah ragu, ayo kita bermain-main sejenak," tantang Arya lagi.

__ADS_1


"Dasar pemuda laknat, rasakan ini.... Hiiaaatttt...!" Seru pemimpin rampok melepaskan rasa dendamnya.


Arya dengan mudah menghindari terjangan pukulan pemimpin rampok, kemudian kaki kanan Arya, mengganjal pergerakan lawannya, disusul oleh dorongan tangan kanannya ke tubuh lawan, dengan kekuatan sepuluh persen, hingga membuat pemimpin rampok itu tersungkur mencium tanah.


"Masih mau dilanjutkan, ayo bangun. Jangan kelamaan tengkurep di tanah, nanti malah dikeroyok oleh semut," ucap Arya, mengejek Ketua Rampok.


"Bajingan kau...! Hiaattt...!" Serunya lagi menerjang Arya, dengan kekuatan sepenuhnya..


Arya hanya menepis pukulan pemimpin rampok, dengan tangan kanannya, yang dialiri sepuluh persen kekuatannya. Namun dampaknya terhadap pemimpin rampok, sangat menakjubkan, sampai melemparkannya beberapa meter, menabrak bangunan rumah kayu hingga roboh.


"Hanya segitukah kemampuanmu itu?" Tanya Arya mengejeknya. "Ayo bangun lagi, sebelum semut-semut merah mengeroyok mu," tambah Arya, sambil terus mengejeknya.


"Kurang ajar kau, hiiaaatttt...!" Pemimpin rampok menerjang terus menerus, hingga dirinya merasa lelah sendiri.


Akhirnya, pemimpin rampok itu menyadari, dia hanya dipermainkan oleh Arya, sebagai bahan leluconnya.


"Bajingan kau, berani mempermainkan ku," hardik pemimpin rampok marah.


"Oh, jadi mau serius. Baiklah, aku akan mengakhiri permainan ini," ucap Arya, sambil memukul pemimpin rampok dibawah perutnya, tanpa bisa dilihat oleh matanya.


"Ahhh....! Pemuda laknat kau," teriak pemimpin rampok, merasakan sakit dibawah perutnya, karena basis kultivasinya dihancurkan.


"Bagaimana sekarang, setelah menjadi sampah. Apakah kamu masih ingin menjadi pemimpin rampok lagi?" Tanya Arya mengejeknya.


Para anggota rampok lainnya, tak bisa bergerak karena sudah dijadikan patung.


"Kalian mau mencobanya juga. Ayo maju semuanya!" Seru Arya kepada seluruh anggota perampok, melepaskan mereka dari pengaruh jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.


"Ayo serang, jangan hanya bengong saja," ucap Arya lagi.


"Baiklah, kalau mau mu begitu," tambah Arya, memukul semua anggota rampok tepat dibawah perutnya, melumpuhkan kekuatan kultivasinya dengan gerakan cepat, yang tidak dapat dilihat oleh mata.


Ahhh..... Aduh..... Ahhh....


Keluh mereka merasakan rasa sakit yang bukan main, dari bawah perutnya.


"Nah, kalian sekarang tinggal ditempat ini, karena sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk keluar dari tempat ini. Anggaplah tempat ini sebuah penjara bagi kalian, belajarlah hidup yang baik dengan cara bertani, karena disini tanahnya subur, tinggal kalian bisa memanfaatkannya," ucap Arya panjang lebar.


Kemudian Arya melompat ke atas pohon, terus melompat lagi kedalam Goa seperti tupai lincah dan ringan.

__ADS_1


Kembali menyusuri lorong-lorong Goa yang sempit dan pengap, menuju kearah mulut Goa untuk keluar dan melanjutkan perjalanannya lagi.


Bersambung......


__ADS_2