
Di gerbang kota Singaraja, Arya dan Wulan terlihat melewati pos penjagaan. Setelah mendapatkan pemeriksaan, keduanya meninggalkan kota Singaraja, melangkah menuju ke pinggiran hutan.
Dari jauh, Arya dan Wulan diikuti oleh kelompok berjubah hitam, yang terus mengawasinya, seakan tidak mau kehilangan mangsanya.
Arya memperlambat langkahnya, sengaja biar mereka mendekatinya.
Tiba dipinggir hutan, kelompok berjubah hitam itu melesat kearah Arya dan Wulan. Mereka lalu mengepungnya.
"Kalau kamu ingin selamat, serahkan gadis itu sekarang juga!" Gertak salah seorang dari kelompok itu.
"Hmmm..... Rupanya kalian ini begundal-begundalnya raja," sergah Arya.
"Banyak omong kau! Hiiaaatttt..."
Pemimpin kelompok berjubah hitam, langsung menerjang Arya dan Wulan, Arya hanya menggerakkan tangannya kedepan. Pemimpin kelompok itu langsung terpental kebelakang, menabrak pepohonan yang berada ditempat itu.
"Bajingan kau....! Ayo, kalian sergap pemudanya. Wanitanya jangan diapa-apakan, biar wanitanya urusanku," perintah Pemimpin kelompok itu, meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Baik Ketua," balas anggotanya, sambil mengepung Arya dari berbagai arah.
"Hiiaaatttt......." Teriak mereka menerjang Arya, dengan senjata ditangannya masing-masing.
Arya hanya melambaikan tangannya, dengan seperempat kekuatannya, namun dampaknya sangat luar biasa, walau hanya dengan seperempat kekuatannya, dapat menghancurkan tubuh kelompok berjubah hitam.
Duarr.... Duarr.... Bom....
Pemimpin kelompok itu terbelalak matanya, melihat anggotanya terlempar dan tidak bergerak lagi. Tinggal pemimpin dan empat orang anggotanya, yang tidak ikut menyerang Arya.
"Bagaimana sekarang, apa kalian masih ingin melihat dunia?" Tanya Arya.
Pemimpin kelompok berjubah hitam terdiam sejenak, lalu memberanikan diri untuk menjawabnya.
"kalau iya, memangnya kenapa?" Pemimpin kelompok itu malah balik bertanya.
"Oh.... Jadi masih ingin hidup. Baiklah, aku akan memberikan kesempatan, tapi harus kalian jawab pertanyaan ku dengan jujur," ucap Arya, menatap mereka satu persatu dengan mata malaikatnya, untuk memilih mana orang yang benar-benar berkata jujur.
"Kamu jawab yang jujur, kalau tidak, kamu duluan yang menghadap dewa maut."
Arya menyuruh salah seorang anggota kelompok berjubah hitam, untuk berkata jujur.
"Ayo jawab dengan jujur, siapa kalian semua, dan apa hubungannya dengan kerajaan Benua Timur ini?" Tanya Arya menatapnya.
"Kami semua dari aliran hitam, yang menguasai daratan benua timur ini, Tuan Muda."
"Ayo ceritakan semuanya, siapa pemimpin kalian. Apa tugas kalian?" Tanya Arya lagi.
Hati pemimpin kelompok menggerutu marah, namun dia takut dihancurkan seperti para anggotanya, hanya dengan satu serangan tunggal, para anggotanya langsung hancur.
"Awas kau! Jika aku bebas, kau akan mati ditangan ku," batinnya menggerutu, mengancam anggotanya yang berani membeberkan rahasia kelompoknya.
Duar....
Satu ledakan tiba-tiba menghancurkan basis kultivasi pemimpin kelompok berjubah hitam, yang menggerutu mengancam anggotanya, hingga berteriak merasakan kesakitan dibawah perutnya.
Tentu saja mereka semua terkejut, Arya hanya menunjuk dengan jarinya, pemimpin kelompok langsung lumpuh, tidak memiliki ranah kekuatan kultivasinya lagi, cacat seumur hidupnya.
"Bagaimana.... Apakah kamu ingin seperti pemimpin mu!" Seru Arya, mengancam empat anggota kelompok berjubah hitam, yang sengaja disisakan.
"Am.... Ampuni kami, Tuan Muda," ucap gugup pria yang ditanya oleh Arya itu.
"Ceritakan yang sebenarnya, jangan ada yang ditutup-tutupi," ucap gertak Arya.
"Baik, Tuan Muda," jawabnya.
Lalu diapun menceritakan sepak terjangnya kelompok Serigala Hitam, dari mulai merampok, membunuh, merebut paksa gadis-gadis cantik dan perawan desa, menagih pajak untuk kerajaan, dan mendukung tindakan semena-mena raja dan keluarganya.
Bagi orang yang tidak membayar pajak, mereka tidak segan-segannya membunuh dan menindas, bahkan bila memiliki anak gadis, mereka mengambil paksa untuk pemuas nafsu pangeran atau rajanya. Benar-benar perbuatan biadab dan dzalim.
Arya menatap empat orang kelompok Serigala Hitam yang masih hidup, satu persatu dipindai dengan mata malaikatnya, untuk memilih mana sekiranya yang bisa dirubah sifatnya, untuk menjadi baik, dan mana yang hatinya sudah mengeras seperti batu, sudah tidak bisa dirubah lagi.
Setelah Arya memindai keempat orang anggota Serigala Hitam, dua orang memiliki karakter tegas, baik dan loyal.
"Siapa namamu?" Tanya Arya, menunjuk kepada salah seorang pemuda kelompok Serigala Hitam.
__ADS_1
"Aku Partakomara, Tuan Muda," jawab pemuda itu.
"Berapa usiamu?" Tanya lanjut Arya.
"Dua puluh satu tahun, Tuan Muda," jawabnya.
"Dan kamu," tunjuk Arya kearah pemuda satunya lagi.
"Aku Wicaksana, Tuan Muda," jawabnya.
"Berapa usiamu?"
"Dua puluh satu tahun, Tuan Muda," jawabnya.
"Hmmm.... Sama-sama masih muda," ucap Arya, menatap keduanya.
Arya pun mengeluarkan Wiraseda dari dunia jiwanya, untuk membimbing kedua pemuda yang telah dipilihnya.
"Salam Penguasa," hormat Wiraseda sambil berlutut.
Keempat pemuda itu terkejut dengan kemunculan seseorang secara tiba-tiba, yang langsung berlutut memberi hormat dengan menyebut Penguasa.
"Berdiri, salammu aku terima," ucap Arya.
"Terimakasih Penguasa," balasnya.
"Saudara Wiraseda, bimbinglah kedua pemuda ini untuk menjadi baik dan kuat," ucap Arya, memberi tugas kepada Wiraseda.
"Baik Penguasa," jawabnya
.
"Dan untuk kalian, silahkan memberi laporan kepada Raja Benua Timur, katakan salam dariku, akun akan segera datang untuk menghancurkannya. Persiapkan seluruh pasukannya untuk menyambut ku," ucap tegas Arya, kepada dua orang kelompok Serigala Hitam, yang masih diberi kesempatan hidup olehnya.
"Ba.... Baik, Tuan Muda," balas keduanya serempak, dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Arya menggelengkan kepalanya, menatap kepergian mereka.
"Saudara Wiraseda, bawa kedua pemuda ini kedunia jiwa. Dan bimbinglah dengan baik." Pinta Arya, sambil membuka gerbang dunia jiwanya.
Wiraseda dan kedua pemuda, menghilang dari hadapan Arya dan Wulan.
Arya dan Wulan meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki, menelusuri jalanan setapak di hutan Benua Timur.
"Aku akan berburu hewan untuk dipanggang," ucap Arya pada istrinya.
"Baik Kak, aku juga ingin memakan daging panggang hewan buas, untuk menguatkan vitalitas tubuh," balas istrinya.
"Ayo, kita sama-sama berburu," ajak Arya, sambil menarik lengan istrinya.
Keduanya pun melesat kedalam hutan, mencari hewan buruannya.
Tak lama berselang, Arya dan Wulan melihat beberapa ekor hewan buas Harimau Perak, yang tengah rebahan di atas rumput.
Dengan diam-diam, Arya membidikkan ranting runcing yang dialiri kekuatannya, melesat kearah satu ekor harimau perak.
Cep...... Bug....
Seekor harimau perak yang besar langsung roboh, tertancap ranting yang dilemparkan oleh Arya, tepat kearah jantungnya.
Dengan kecepatan tinggi, Arya langsung menyambar harimau perak yang sudah mati, tanpa diketahui oleh hewan-hewan lainnya, seakan tidak pernah terjadi sesuatu.
Dia membawanya ketempat yang jauh dari rombongan hewan buas, melesat kearah pinggiran hutan, diikuti oleh istrinya.
Setibanya dipinggiran hutan, Arya mengeluarkan Jenderal Adiwiyata, Jenderal Anggadiredja, Darmasena, Anjani, Komalasari dan Saraswati dari dunia jiwa, untuk bersama-sama memanggang seekor hewan buas, yang sangat besar.
Anggadiredja dan Darmasena menguliti dan membersihkan hewan buas itu, Adiwiyata mengumpulkan kayu-kayu kering. Sementara Anjani, Komalasari dan Saraswati membantu Wulan membuat bumbu-bumbunya, dan Arya sendiri bertengger di atas dahan pohon yang paling tinggi, untuk mengawasi keadaan diseliling hutan.
Arya mengedarkan pandangan mata malaikatnya ke sekitar hutan, seluruh penjuru hutan tak lepas dari tatapan tajam mata malaikatnya. Tampak dari jauh ada sekelompok berjubah hitam, mengeroyok seorang gadis cantik dan pria sepuh.
Pria sepuh sudah terluka parah dan bersimbah darah, sementara seorang gadis masih bertahan dari serangan kelompok berjubah hitam itu.
Telah beberapa jurus berlalu, gadis itu semakin terdesak. Dari sekujur tubuhnya penuh luka, namun dirinya masih kuat untuk bertahan.
__ADS_1
Arya melesat dengan cepat kearah mereka, selang beberapa menit, Arya tiba ditempat itu.
Tanpa berbasa-basi, Arya langsung menghantamkan pukulan Cakar Rajawali kepada kelompok berjubah hitam, yang ternyata kelompok Serigala Hitam.
Duar.... Duarr.... Bom....
Beberapa ledakan terdengar, asap hitam dari debu tanah menyelimuti seluruh tempat itu.
Setelah asap hitam itu lenyap, terlihat semua kelompok Serigala Hitam bergelimpangan tergeletak di tanah, dengan kepala dan sebagian tubuhnya hancur. Pria sepuh dan seorang gadis, terkejut melihatnya.
Arya berdiri ditempat itu, dengan tersenyum menghampiri pria sepuh dan gadis cucunya.
"Terimakasih nak, telah menyelamatkan kami," ucap pria sepuh.
"Tetua, jangan dulu bergerak, biar nanti orang-orang ku yang mengobatinya," ujar Arya, sambil mengeluarkan bawahannya dari dunia jiwanya.
Karuan saja pria sepuh Dan gadis itu terkejut, tiba-tiba muncul dua wanita dan seorang pria dihadapan mereka.
"Jangan takut Tetua, mereka adalah orang-orangku," jelas Arya.
Pria sepuh dan gadis itu dibawanya kedunia jiwa, untuk dirawat dan diobati, dengan berendam di kolam air kehidupan, agar luka-lukanya cepat sembuh dan pulih seperti biasa.
Setelah semuanya selesai, Arya kembali ketempat semula. Seolah tidak terjadi sesuatu. Dia melesat turun dari dahan pohon, menghampiri istri dan yang lainnya.
"Apa sudah matang daging panggangnya?" Tanya Arya, menatap daging hewan buas yang sedang dipanggang.
"Sebentar lagi Penguasa," jawab Darmasena, sambil membolak-balik daging panggangnya.
Arya pun duduk disebelah Wulan, yang tengah membuat bumbu-bumbunya, dengan dibantu oleh Anjani, Komalasari dan Saraswati.
Dia menceritakan kejadian tadi di hutan sebelah timur, sekelompok Serigala Hitam menganiaya pria sepuh dan seorang gadis cantik.
Kedua orang itu sekarang sedang dirawat didunia jiwa, direndam di air kehidupan.
"Siapa nama pria sepuh itu?" Tanya Wulan penasaran.
Dia tidak menjawab, namun mengeluarkan Wiraseda dan dua orang dari dunia jiwa.
Kemunculan seorang pria sepuh dan gadis itu, membuat Wulan terkejut.
"Paman! Paman Sutamanggala!" Seru Wulan menatap pamannya, adik kembarnya Ki Suramanggala yang telah lama menghilang.
"Nak Wulan, apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanya Sutamanggala, menatap Wulan.
Wulan menatap Arya, yang duduk disebelahnya. Yang ditatap pun mengerti, dan menganggukkan kepalanya.
Lantas Wulandari pun menceritakan semuanya, dari awal menemani Penguasa Benua Tengah, hingga menikah. Tentu saja Sutamanggala terkejut, tidak menyangkanya sama sekali, bahwa keponakannya telah menjadi permaisuri Raja Benua Tengah, yang terkenal dengan kekuatannya.
Sutamanggala dan cucunya, Ratnawati, menatap Arya dan Wulan bergantian.
"Salam Penguasa Benua Tengah." Tiba-tiba Ki Sutamanggala, memberikan salam hormat kepada Arya.
"Tidak usah terlalu sungkan, Paman. Anggap saja aku ini anak Paman," ucap Arya.
"Baik nak Arya. Sedang apakah nak Arya beserta rombongan berada disini?" Tanya Sutamanggala.
Arya pun menceritakan tentang keberadaannya di Benua Tengah, semua diceritakannya tanpa ditutup-tutupi.
Sutamanggala mengangguk-anggukan kepalanya, tanda mengerti dan mendukungnya, bahkan dia juga menceritakan perjalanannya yang diburu oleh kelompok Serigala Hitam.
Perguruan Beladiri Sutamanggala dimusnahkan oleh kelompok Serigala Hitam, karena tidak mau mendukung kebijakan Raja Benua Tengah, yang memeras dan menindas rakyatnya.
Dan bahkan seluruh keluarganya juga musnah, hanya menyisakan dirinya dan cucu kesayangannya, serta cucunya yang satu lagi, bernama Nawangsari, dibawa kabur oleh prajurit iblis entah kemana?
"Benar-benar biadab!" Seru Arya, sambil mengepalkan tangannya.
Dia ingin segera menghancurkan raja dzalim dan kelompoknya. Darah tempur dalam jiwanya bergejolak. Meledak-ledak seakan ingin keluar, menggempur orang-orang yang biadab.
Bagi raja biadab yang menyengsarakan rakyatnya, maka sudah tidak ada ampunan lagi bagi dirinya. Dan, Arya Tidak akan pernah memberikan pengampunan bagi orang-orang yang berbuat jahat, apalagi menyengsarakan rakyatnya.
"Kita sebentar lagi, akan menggempur Istana Raja Dzalim Benua Timur," ucap Arya, pada mereka.
"Baik Penguasa, kami siap bertempur lagi," sahut mereka bersamaan.
__ADS_1
Akhirnya, setelah panggang daging hewan buas itu siap untuk disantap, mereka pun menikmatinya bersama-sama.
Bersambung.....