
Tiba di kota perbatasan, Arya dan rombongannya istirahat di Dermaga, menunggu kedatangan kapal air, yang akan membawanya ke pelabuhan kota Dewa Bintang Kejora.
Dari informasi petugas Pelabuhan, kapal air baru tiba di Dermaga, sekitar empat hari lagi, karena kapalnya hanya dua, dan lagi jaraknya sangat jauh sekali, hingga membutuhkan waktu yang lama.
Arya dan rombongannya, akhirnya bermalam disebuah penginapan yang berada di Dermaga, untuk empat hari kedepan, sambil menunggu kapal air tiba.
Karena masih ada waktu empat hari lagi, Arya dan Nawangsari, berjalan-jalan dulu di kota, menyusuri jalanan utama, melihat-lihat barang dagangan yang digelar disepanjang jalan.
Begitu pula dengan yang lainnya, mereka juga sama pada berjalan-jalan dulu di kota, pada berbelanja kebutuhan untuk dirinya masing-masing.
Ditengah langkah kakinya, Arya dan Nawangsari, dihadang oleh lima belas pemuda berandalan kota, yang ingin memalak dan merebut Nawangsari dari Arya.
"Hai, pemuda sampah! Serahkan uangmu dan gadis cantik itu, jika dirimu ingin selamat!" Seru pemimpin berandalan, menghardik Arya dengan ancaman.
"Silahkan ambil sendiri, jika kalian mampu!" Balas Arya, menatap mereka satu persatu.
"Bajingan kau...! Berani menentang kami...! Rasakan pukulan Banteng Menyeruduk ini... Hiaattt...!" Seru pemimpin berandalan kota, sambil menyeruduk Arya dengan kepalanya.
Arya sedikitpun tidak bergeser dari tempatnya, dia malah menadahnya dengan kekuatan sepuluh persen, hingga dua kekuatan beradu.
Duarr.... Duarr....
Terdengar suara ledakan yang sangat kuat, melemparkan pemimpin berandalan kota, menabrak sebuah bangunan yang ada ditempat itu.
Arya menghampiri pemimpin berandalan, lalu memukul kearah dantiannya, tepat dibawah perut.
Argh.... Ahhh....!
Jerit kesakitan terdengar memilukan, dari seorang berandalan kota, yang telah berani menyinggung Arya.
Empat belas berandalan lainnya, pada kabur melihat pemimpinnya tidak berdaya.
"Biarkan saja mereka lari, biar memberi laporan kepada orangtuanya," ucap Arya, meneruskan perjalanannya, dan meninggalkan pemimpin berandalan kota terkulai tak berdaya.
Nawangsari mengangguk, sambil melangkah mengikuti Arya, melanjutkan perjalanannya, mengitari kota Dermaga.
Keduanya lalu masuk kedalam rumah makan, dan langsung memesan makanan dan minuman, yang terbaik di kota ini.
Arya dan Nawangsari, duduk disudut kanan ruangan rumah makan, disamping jendela, agar ada angin segar masuk.
__ADS_1
Tak seberapa lama, pesanan makanan dan minuman, diantarkan oleh kedua wanita pelayan rumah makan. Lalu menghidangkannya di meja, dihadapan Arya dan Nawangsari.
Arya mengeluarkan tiga ribu lima ratus koin emas, untuk makanan dan minuman yang dipesannya. Lalu menyerahkannya kepada dua pelayan wanita itu.
"Ini kelebihan, Tuan," ucap pelayan wanita.
"Sisanya ambil buat kalian," balas Arya.
"Terimakasih, Tuan," sambut pelayan wanita tersenyum senang, menerima uang tip dari Arya.
Lalu keduanya menikmati hidangan makanan dan minuman yang dipesannya, sesekali diselingi dengan obrolan-obrolan ringan, dan tertawaan kecil disela-sela menikmati hidangan, hingga waktu pun tak terasa, sudah hampir menjelang malam.
Keduanya keluar dari rumah makan, hendak kembali ke penginapan tempat dia beristirahat. Namun belum jauh Arya dan Nawangsari berjalan, tiba-tiba muncul ratusan prajurit kota, yang dipimpin langsung oleh Tuan Kota, menghadang langkah Arya dan Nawangsari.
"Menyerahlah kalian berdua, sebelum kami menindas kalian," ucap Tuan Kota, mengancam Arya dan Nawangsari.
"Oh, rupanya kamu pemimpin berandalan di kota ini!" Seru Arya, menatap Tuan Kota.
"Dasar bajingan! Diajak bicara baik-baik, malah kurang ajar!" Seru Tuan Kota marah, sambil mengeluarkan aura kekuatan Low God tahap puncak. "Rasakan oleh kalian, bagaimana sakitnya ditindas,' tambahnya, merasa yakin Arya dan Nawangsari akan tertindas.
"Sudah menindasnya? Kini giliran ku yang akan menindas kalian semua!" Balas Arya, balik menindas mereka dengan kekuatan God King Tahap Sempurna Bintang Empat Puncak, hingga mereka semua jatuh tersungkur. Dari mulut, hidung dan telinganya mengeluarkan cairan merah.
"Agrh.... Bajingan kau...! Aahhh...!"
Teriak kesakitan terdengar dari mulut pemimpin kota, dengan amarahnya yang besar. Namun apa daya, kini dia sendiri sudah tidak memiliki kekuatan. Basis kultivasinya dihancurkan oleh Arya, hingga dirinya terkulai lemah.
"Sekarang kamu sudah tidak cocok lagi jadi pemimpin kota, biarlah kekuasaan di kota ini digantikan oleh bawahan mu," ucap Arya.
"Komandan kota, ambil alih kekuasaan di kota ini, jika kamu ingin selamat!" Seru Arya, memberi perintah kepada komandan kota, sambil mengancamnya.
"Baik, Tuan Muda," balas Komandan Kota, yang merasa ketakutan, setelah mereka semua ditindas oleh kekuatan yang sangat dahsyat, yang dimiliki oleh Arya.
"Dan untuk mu, pemimpin busuk! Silahkan keluar dari kota ini, sebelum dirimu yang sudah menjadi sampah, ditindas oleh orang-orang yang memiliki kekuatan," ucap Arya, mengusir bekas pemimpin kota.
Dengan amarahnya yang tinggi, dan membawa rasa dendam, dia berusaha untuk berdiri, dan berjalan dengan tertatih-tatih, keluar dari kota ini.
Arya dan Nawangsari, berlalu meninggalkan tempat itu, kembali menuju kearah dermaga, kesebuah penginapan tempat keduanya beristirahat.
Setibanya di penginapan, Arya dan Nawangsari, bergegas menuju ke kamarnya, untuk segera masuk kedalam dunia jiwa. Untuk berlatih dan berkultivasi.
__ADS_1
Begitu pula dengan rombongannya, semuanya pada beristirahat, menunggu kapal tiba di Dermaga.
Beberapa waktu berjalan, Arya dan Nawangsari, sudah keluar dari dunia jiwa, dan kini menuju kearah Dermaga, karena kapal yang akan membawanya, sudah tiba di Dermaga. Sebuah kapal yang cukup besar, bisa mengangkut kereta kuda dan sejumlah penumpangnya.
Semua rombongan Arya, sudah pada naik ke kapal, berikut kuda peliharaannya, dan beberapa kereta kuda, serta kuda-kuda milik para pengawal ibukota Dewa Bintang Kejora, semuanya sudah berada didalam kapal air yang cukup besar itu.
Kapal pun kemudian berlayar di lautan lepas, menuju kearah pelabuhan Tanjung Emas, sebuah pelabuhan ibukota, yang dijadikan pusat kekuasaan Benua Bintang Kejora.
Arya dan Nawangsari, berdiri di atas kapal, memandang lepas kearah lautan yang luas, mengawasi semua pergerakan yang berada di permukaan laut. Karena dirinya selalu waspada, apalagi ditengah-tengah lautan, yang selalu di huni oleh para bajak laut, yang sangat kejam dan sadis.
Tampak dimata malaikat Arya, jauh dari tempatnya berdiri, ada puluhan kapal laut sedang menghadangnya, menunggu kapal yang ditumpanginya lewat.
Arya segera memberi tau kapten kapal, untuk menghentikan kapalnya, karena didepannya ada puluhan kapal bajak laut, yang akan menghadangnya.
Kapten kapal segera menghentikan laju kapalnya, dan memberikan pengumuman kepada penumpang lain. Sementara Arya, melesat terbang menuju kearah bajak laut, yang sedang menanti kapal yang ditumpanginya lewat.
Arya terus melesat dengan kecepatan tinggi, hingga tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai dihadapan puluhan kapal bajak laut.
Tanpa banyak basa-basi, dia langsung menggempur kapal-kapal bajak laut, dengan pukulan jarak jauhnya. Hingga menenggelamkan puluhan kapal, dengan satu serangan tunggal.
Para anggota bajak laut, terlempar kelautan lepas, hingga terbawa arus gelombang air laut yang sedang pasang.
Ada juga yang menaiki kayu sisa pecahan kapal, yang mengapung di permukaan air laut, untuk menyelamatkan dirinya masing-masing.
Namun Arya, tidak hanya sampai disitu, dia mengeluarkan rantai baja mistis, lalu melemparkannya kearah mereka, yang ingin pada menyelamatkan diri, termasuk pemimpin bajak lautnya.
Rantai baja mistis, bergerak sendiri mengikat sekujur tubuh mereka, lalu Arya menariknya hingga ke sebuah pulau kecil, yang berada ditengah-tengah lautan, dan menghancurkan basis kultivasi semua bajak laut.
"Sekarang kalian sudah resmi, menjadi penghuni pulau ini. Anggaplah, pulau ini sebagai rumah terakhir bagi kalian, karena kalian sudah tidak bisa kemana-mana lagi. Sudah tidak memiliki ranah kekuatan sama sekali," ucap Arya, meninggalkan mereka di pulau kecil, dalam keadaan tidak berdaya.
Arya segera kembali terbang menuju ketempat semula, bergabung lagi dengan rombongannya, disebuah kapal air yang berlayar menuju ke pelabuhan Tanjung Emas, Ibukota Benua Dewa Bintang Kejora.
Kapal pun kembali mengembangkan layarnya, agar tertiup angin laut yang kencang, hingga kapal air itu melaju lagi dengan kecepatan sedang.
Kapal air mengitari sebuah pulau kecil, dimana tadi Arya membuang mereka ke pulau kecil tersebut, untuk menghindari arus air laut yang berbalik arah, dan berputar menjadi sebuah kincir air, menyedot semua yang ada di atasnya.
Kapal terus melaju mengitari pulau, berputar sembilan puluh derajat, selain menghindari putaran air, juga menghindari dari terjangan gelombang laut yang sangat dahsyat.
"Sepertinya badai laut, akan segera menerjang pulau disebelah utara. Kita berlindung dulu dibalik pulau ini," ucap kapten kapal, menghentikan laju kapalnya, berlindung dibalik pulau sebelah selatan, karena badai datangnya dari sebelah utara.
__ADS_1
Bersambung.....