Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
73. Melumpuhkan Tuan Kota


__ADS_3

Orang-orang dari ruangan rumah makan ditingkat empat, semuanya pada turun ketingkat bawah, ingin menyaksikan Arya menghanjar para orangtua berandalan kota, yang didukung oleh para bangsawan dan Penguasa Kota, karena para berandalan kota itu adalah anak-anak mereka.


Sudah barang tentu, ruangan rumah makan ditingkat bawah penuh, dengan semuanya berkumpul diruangan itu.


Arya duduk dihadapan pria setengah baya pemilik rumah makan, yang penasaran dengan kekuatan yang dimiliki oleh Arya, karena ranah tingkatan kultivasinya tidak bisa ditembus. "Benar-benar sangat rapih, mampu menekan kultivasinya hingga ketingkat bawah, seakan dia tidak memiliki kekuatan, tapi kenyataannya, dia mampu menghajar anak Tuan Kota dan prajurit pengawalnya, dengan sekali serangan tunggal," ucap batin pemilik rumah makan.


Karena itulah, pemilik rumah makan bersama para pengunjungnya, ingin mengetahui kelanjutannya hingga sampai tuntas.


Ketiga gadis cantik yang semula menghina dan mengejek Arya, duduk tidak jauh dari Arya. Dia sebenarnya ingin meminta maaf, atas penghinaannya yang mereka lakukan, namun masih punya rasa gengsi dan malu. Apalagi ditempat itu banyak orang, ketiga gadis cantik itu mengurungkan niatnya, menunggu kesempatan yang bagus.


Tidak begitu lama, rombongan Tuan Kota bersama para bangsawan di kota ini, dan dikawal oleh ratusan prajurit kota, tiba didepan rumah makan mewah, dimana Arya menunggu mereka.


Arya tidak ingin membuat keributan didalam rumah makan, maka dia langsung melesat loncat keluar dari rumah makan, menghadang rombongan Tuan Kota didepan pintu rumah makan.


"Berhenti...! Kalian jangan membuat keributan ditempat ini, yang semestinya kota ini oleh kalian jaga dengan baik. Jangan dirusak karena perbuatan anak-anak kalian!" Seru Arya, menghardik mereka.


"Hai, pemuda sampah! Jangan menggurui kami! Menyerahlah jika kamu ingin selamat!" Seru Pemimpin Kota menyepelekan Arya.


Arya tidak ingin berbasa-basi lagi, dia benar-benar ingin memberi pelajaran kepada mereka, yang selalu mendukung perbuatan salah, yang dilakukan oleh anak-anaknya.


Maka dia mengeluarkan kekuatannya, untuk menindas para bangsawan dan pemimpin kota, dengan aura kekuatan God King tahap puncak, hingga membuat mereka langsung jatuh tersungkur dan muntah darah.


Tidak hanya sampai disitu, dia juga mengeluarkan rantai baja mistis, untuk mengikat mereka, yang langsung membuat mereka berteriak kesakitan, karena sekujur tubuhnya serasa remuk, diremas-remas oleh kekuatan mistis rantai baja tingkat tinggi.


"Nah, bagaimana sekarang? Apakah kalian masih ingin bermain-main denganku?" Tanya Arya, menatap mereka. "Baiklah, jika kalian ingin bermain-main, aku akan melayani kalian, hanya sekedar untuk pemanasan badan saja," tambah Arya, sambil menarik kembali rantai baja mistis.


Semua orang yang berada di rumah makan, matanya terbelalak melihat ranah kekuatan Arya, yang menyamai leluhur di Negeri Awan Mengambang, yaitu berada ditingkat God King tahap puncak.


"Ayo, kalian maju bersama! Tenang saja, tidak usah takut. Aku tidak akan menggunakan kekuatan ku sepenuhnya, paling hanya sepuluh persen," ucap Arya.


"Sepuluh persen," sambung para pengunjung rumah makan terkejut, karena hanya dengan sepuluh persen kekuatannya, bisa membuat pemimpin kota tak berdaya, apalagi dengan kekuatan sepenuhnya. Tidak bisa dibayangkan oleh mereka.


Para bangsawan dan pemimpin kota, yang ranahnya sama-sama berada ditingkat Low God tahap awal, walaupun ada rasa takut dalam dirinya, mereka terpaksa maju untuk melayani tantangan Arya, hanya sekedar menjaga wibawanya sebagai pemimpin kota dan bangsawan kelas satu.


Mereka mengepung Arya dari berbagai arah, dengan kekuatan sepenuhnya, agar bisa membalaskan dendamnya, walau mereka semua tau, ranah kekuatan kultivasi Arya, sama dengan leluhur di negeri ini. Tapi apa salahnya mereka berusaha semampu mungkin, selagi diberi kesempatan oleh Arya, untuk menyerangnya.


"Ayo, sekalian maju bersama. Tidak usah ragu-ragu," ucap Arya, memprovokasi mereka.


"Bajingan kau! Rasakan ini...! Cakar Naga....! Pukulan Bayangan...! Tapak Dewa...! Hiiaaattt...!"


Semuanya menyerang Arya bersamaan, dari berbagai arah, dia hanya menggunakan sepuluh persen kekuatannya, menadah kekuatan serangan mereka.


Duarr.... Duarr....


Beradunya kekuatan mereka dengan kekuatan Arya, yang dibarengi dengan kekuatan mistisnya, sehingga membuat mereka semua terpental keberbagai arah, menabrak dinding bangunan dan pepohonan.


Gegas Arya melemparkan rantai mistisnya keberbagai arah, untuk menarik kembali mereka ke hadapannya, dan dikumpulkan kembali dihalaman depan rumah makan.

__ADS_1


Begitu seterusnya, dibuat permainan oleh Arya, hingga mereka sendiri sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri.


Usai Arya mempermainkan mereka, dia kemudian melumpuhkan semua kekuatan mereka, dengan jurus Rajawali Sakti Mencengkram Kekuatan, hingga menyedot seluruh kekuatan mereka dari tubuhnya masing-masing, dan menghancurkannya.


Mereka semuanya dibuat lumpuh oleh Arya, tidak berdaya sama sekali.


"Hai, para prajurit, sekarang tugas kalian untuk membawanya kembali pulang, kerumahnya masing-masing," ucap Arya, memerintahkan kepada para prajurit kota.


Tanpa diusir untuk kedua kalinya, para prajurit pun segera pergi membawa pemimpin kota dan para bangsawan, meninggalkan halaman rumah makan.


Arya sendiri segera beranjak dari tempat itu, karena dia tidak ingin banyak orang yang tau tentang kekuatan dirinya, yang sebagian orang sudah tau ketika dia menindas para bangsawan dan pemimpin kota.


"Lebih baik, aku segera pergi dari tempat ini," ucap batin Arya.


Dia berjalan kaki menyusuri jalanan kota, menuju kearah gerbang timur, untuk melanjutkan perjalanannya lagi masuk kedalam hutan, karena masih penasaran dengan keberadaan salah sebuah hutan di Negeri Awan Mengambang, yang katanya ada sebuah cincin pusaka peninggalan Penguasa Agung Semesta Alam Raya, yang jatuh di hutan dekat kota, namun letak persisnya belum ada yang tau, semua Penguasa dan para kultivator sedang mencari keberadaan cincin tersebut.


"Tuan Muda, tunggu sebentar!" Ucap seorang pria setengah baya, memanggil Arya dari arah belakang.


Arya menoleh kearah belakang, dia melihat seorang pria setengah baya, berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Arya, sambil membawa seorang anak perempuan kecil, yang kira-kira usianya sekitar tujuh tahunan.


"Tuan Muda, maaf sedikit mengganggu perjalanan anda," ucap pria setengah baya.


"Ya, ada apa?" Tanya Arya singkat.


"Maaf Tuan Muda, apakah Tuan Muda hendak pergi kearah timur?" Tanya pria setengah baya.


Lalu pria setengah baya, menceritakan mengenai anak perempuan kecil yang dia bawa, yang menurut pengakuan dari anak gadis kecil itu, dia diajak oleh rombongan kereta kuda ke kota ini, dan ditinggalkan sendirian.


Pria setengah baya menceritakan asal usulnya, menurut pengakuan dari anak kecil, dia berasal dari dalam hutan, yang ketika itu kedua orangtuanya jatuh kedalam lembah di hutan itu, ketika mengejar seekor burung besar yang membawa sebuah cincin. Entah cincin apa yang dibawanya, sehingga banyak yang mengejarnya.


Arya mendengarkan cerita dari pria setengah baya, agak terkejut ketika mendengar sebuah cincin, yang dibawa oleh seekor burung besar jatuh kedalam lembah.


"Anak kecil ini ingin kembali kedalam hutan, bisakah kiranya Tuan Muda membantu anak kecil ini?" Ucap pria setengah baya, bertanya kepada Arya.


"Baik Tetua, biar aku yang akan mengantarkannya," jawab Arya.


"Terimakasih, Tuan Muda," ucap pria setengah baya, menangkupkan kedua tangannya, sambil membungkuk tanda berterimakasih kepada Arya.


Arya dan anak gadis kecil itu keluar dari gerbang kota, berjalan kaki menuju kearah hutan disebelah timur. Ketempat yang ditunjukkan oleh anak gadis kecil.


"Adik kecil, apakah adik masih kuat berjalan, ataukah mau kakak gendong?" Tanya Arya, menatap anak gadis kecil.


"Aku masih kuat berjalan, Kak! Karena aku diajarkan oleh ayah dan bunda, harus menjadi orang yang kuat," jawab anak gadis kecil.


"Baiklah, tapi kalau sudah tidak kuat berjalan, bilang sama kakak ya!" Ucap Arya.


"Baik, Kak," balas anak gadis kecil.

__ADS_1


Keduanya berjalan kaki lagi, menyusuri jalanan dipinggiran hutan, menuju kearah timur.


Tak jauh dari Arya, terdengar suara pertarungan dari arah depannya, dia lekas membawa anak gadis kecil itu masuk kedalam dunia jiwanya, dan menitipkan kepada para pelayan di istana giok putih, untuk menjaganya. Lalu dia keluar lagi, dan muncul ditempat semula.


Gegas Arya melesat loncat dari pohon ke pohon, menuju ke sumber suara pertarungan, yang tidak jauh darinya.


Dari jarak lima meter, Arya mengawasi pertarungan yang tidak seimbang, tiga orang gadis cantik yang menghinanya disebuah rumah makan, melawan lima belas anggota perampok bersenjata pedang.


Trang.... Trang.... Trang.... Tring....


Terdengar nyaring suara beradunya pedang, yang terus-menerus ditebaskan kearah ketiga gadis cantik, hingga lama kelamaan, ketiga gadis cantik terdesak, dan terjerembap jatuh.


"Menyerahlah nona, sebelum kami memaksa kalian," ucap pemimpin kelompok perampok, mengintimidasi ketiga gadis cantik agar segera menyerah.


"Bajingan kalian, daripada kami menyerah kepada iblis seperti kalian, lebih baik kami mati," ucap gadis cantik itu, sambil berdiri hendak menerjang lagi.


Pemimpin kelompok perampok segera memerintahkan para anggotanya, untuk menyergap ketiga gadis cantik, namun sebelum mereka menjamah tubuh ketiga gadis cantik, tiba-tiba tubuh-tubuh mereka terlempar puluhan meter kebelakang, hingga memuntahkan darah segar.


"Hahaha.... Dasar para iblis, benar-benar tidak punya malu. Beraninya mengeroyok wanita yang sudah tidak berdaya. Dasar iblis pecundang!" Seru Arya, tertawa dari atas sebuah pohon besar yang tinggi.


Karuan saja, ketiga gadis cantik itu terkejut, melihat para perampok terlempar terkena serangan tunggal, dan suara tertawa Arya dari atas pohon.


"Pemuda tampan itu, sudah dua kali menyelamatkanku," ucap batin ketiga gadis cantik.


Arya melesat turun menghampiri para perampok, dan merantai mereka dengan rantai baja mistis, lalu menarik mereka kehadapan gadis cantik.


Sebelum mereka dilepas kembali dari lilitan rantai baja mistis, basis kultivasi mereka terlebih dahulu dihancurkan oleh Arya, sehingga membuat mereka kesakitan dibawah perutnya.


Argh.... Aahhh....


Terdengar suara teriakan kesakitan dari para perampok.


"Nah, sekarang kalian sudah tidak punya kekuatan lagi. Silahkan kalian pergi dari sini," usir Arya, sambil menarik kembali rantai baja yang melilit sekujur tubuhnya.


Arya lalu mengeluarkan empat orang wanita bawahannya, untuk membantu menolong ketiga gadis cantik, yang dibuat beberapa kali terkejut oleh Arya, apalagi dengan kemunculan empat wanita muda secara tiba-tiba dihadapannya, tambah membuat ketiganya semakin terkejut.


"Obati mereka didalam dunia jiwa," perintah Arya, kepada keempat wanita bawahannya.


"Baik, Penguasa Agung," ucap empat wanita bawahan Arya bersamaan.


"Penguasa Agung," ucap batin ketiga gadis cantik, penuh tanda tanya keheranan.


"Ayo nona, ikut kami ke balai pengobatan," ucap bawahan Arya, mengajak ketigga gadis cantik.


Keempat wanita cantik bawahan Arya, mengajak ketiga gadis cantik memasuki dunia jiwa, untuk diobati oleh bawahan Arya, hingga mereka sembuh.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2