Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
82. Begundal Penguasa


__ADS_3

Tampak Arya dan Nawangsari, keluar dari penginapan mewah Bunga Lotus, keduanya berjalan kearah gerbang kota, hendak melanjutkan perjalanannya, menuju ke Benua Dewa Bintang Kejora, disebelah barat Benua Bintang Timur.


Arya dan Nawangsari, setelah melewati pemeriksaan di pos penjagaan gerbang kota, keduanya berjalan kaki kearah barat, menyusuri jalanan dipinggiran hutan.


Sekitar jarak lima ratus meter dari gerbang kota, Arya mengeluarkan kembali kuda putihnya, yang tinggal didalam dunia jiwa, untuk ditungganginya menuju kearah barat.


Whuuss.....


Kuda putih besar, yang kini kekuatannya semakin meningkat, muncul dihadapan Arya dan Nawangsari, yang siap menungganginya.


Keduanya seperti biasa, duduk di atas punggung kuda putihnya, yang siap membawanya menuju ke Benua Dewa Bintang Kejora.


Arya memacu kudanya dengan kecepatan sedang, tidak terburu-buru. Malah bermalam ditengah perjalanan, sambil membakar dua ekor ayam hutan yang besar-besar, yang ditangkap oleh Arya.


Aroma ayam bakar tercium, terbawa oleh hembusan angin malam. Apalagi ayam bakarnya, diolesi oleh bumbu dari rempah-rempahan sumberdaya tingkat Dewa, sehingga aromanya tercium sedap, membangkitkan selera nafsu makan yang tinggi.


Dari jauh, ada sepasang muda-mudi, yang tengah beristirahat disebuah dahan pohon besar, karena kemalaman didalam perjalanan.


Sepasang muda-mudi itu, mencium aroma ayam bakar yang menggiurkan, yang membangkitkan rasa laparnya.


Gegas keduanya mencari sumber aroma ayam bakar, dengan menunggangi seekor kuda hitam.


Arya dan Nawangsari, mendengar derap langkah kuda, yang menuju kearahnya.


"Kak, sepertinya ada orang yang datang," ucap Nawangsari.


"Iya, dik Nawang. Biarkan saja mereka kemari, dan yang satu ekor ini sisakan buat mereka," balas Arya, yang sudah tau, akan kehadiran sepasang muda-mudi.


Tak lama, sepasang muda-mudi itu, tiba dihadapan Arya. Dan menyapanya dengan penuh hormat.


"Salam saudara...! Bolehkah kami berdua, turut bergabung disini," ucap pemuda dihadapan Arya.


"Silahkan saudara, kebetulan aku menangkap dua ekor ayam hutan yang besar-besar. Ini satu ekor untuk kalian," balas Arya tersenyum ramah.


"Terimakasih, saudara," balas pemuda itu, sambil mengajak pasangannya, duduk dihadapan Arya menikmati ayam bakar.


Mereka berempat mengobrol sangat akrab sekali, walaupun mereka baru saling mengenalnya. Namun karena Arya menerimanya dengan senang hati, maka terciptalah suasana keakraban, yang membuat malam itu penuh dengan berbagai cerita, sambil menikmati ayam bakar yang gurih dan lezat.

__ADS_1


Hingga waktu pun tak terasa, sang pajar sudah menampakkan dirinya diupuk sebelah timur. Keempatnya bersiap-siap, untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Kebetulan tujuan mereka berempat sama, ke Ibukota Dewa Bintang Kejora, hingga mereka bisa bareng dalam perjalanan.


Kedua pasang muda-mudi, memacu kudanya masing-masing dengan kecepatan tinggi, agar mereka cepat tiba di kota perbatasan, antara Kota di wilayah Benua Dewa Bintang Timur, dengan kota di wilayah Benua Dewa Bintang Kejora, yang dipisahkan oleh lautan yang sangat luas. Dan untuk menyeberangnya, harus menggunakan kapal layar, yang terbuat dari kayu jati yang kuat.


Namun sebelum mereka tiba di kota perbatasan, mereka dihadang oleh kelompok begal, yang jumlahnya ratusan orang.


Kelompok begal dikawasan hutan itu, seringkali bertindak kejam terhadap mangsanya. Merampas harta milik korbannya dengan secara paksa, dan meninggalkan korbannya dalam keadaan tidak berdaya. Namun kali ini, yang mereka hadapi adalah Arya, yang akan memberi hukuman kepada kelompok begal.


Dengan garang, pemimpin begal itu, menghardik rombongan Arya, sambil mengancamnya.


"Serahkan kuda dan uang yang kalian bawa, jika kalian ingin selamat dari tempat ini!" Seru pemimpin begal, menghardik Arya dan teman-temannya.


"Silahkan ambil sendiri, kalau kalian memang mampu!" Balas Arya, berseru kepada pemimpin begal.


"Bajingan kau....! Berani menentang kami! Apa kalian belum tau siapa kami, hah?" Pemimpin begal, sangat marah kepada Arya.


"Aku tidak mau tau siapa kalian, tapi jika kalian sudah berani menghadang ku, rasakan akibatnya oleh kalian," balas Arya, sambil mengeluarkan aura kekuatan ranah kultivasi God King Tahap Sempurna Bintang Empat Puncak, yang diarahkan kepada pemimpin begal dan para anggotanya.


Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Arya, membuat mereka semua tidak berdaya. Mereka jatuh tersungkur mencium tanah, hingga mengeluarkan cairan merah dari mulut, hidung dan telinganya.


Argh.... Aahhh....


Terdengar suara jerit kesakitan dari mulut ratusan begal, yang basis kultivasinya dihancurkan oleh Arya, sehingga mereka sudah tidak memiliki kekuatan lagi.


"Nah, sekarang kalian semua, silahkan pergi dari tempat ini, dan bertobatlah, sebelum kalian ditindas oleh orang yang memiliki kekuatan," ucap Arya, mengusir mereka.


Tentu saja, kejadian seperti ini, membuat sepasang muda-mudi yang bareng dengan Arya, dibuat terkejut, karena mereka tidak menyangka sama sekali, bahwa kekuatan Arya sudah melebihi batas akhir kekuatan di alam ini, yang seharusnya sudah ditarik ke alam di atasnya, seperti leluhur alam ini, sudah berada di alam Dewa Nirwana.


Lain dengan Arya, kapanpun dia pergi meninggalkan alam ini, sekarang tergantung dari dirinya, karena yang namanya Penguasa Semesta Alam Raya, harus mampu masuk ke seluruh alam, untuk membenahi kekacauan di beberapa alam.


Bahkan Arya, sebelum meneruskan perjalanannya ke alam lainnya, dia akan kembali dulu ke alam bawah, untuk membawa seluruh bawahan, keluarga dan kerabat-kerabatnya.


Arya juga menyadarinya, dia sudah lama meninggalkan Alam Bawah, karena menjalankan tugas dari empat cahaya, yang melemparkannya ke Alam Bumi, dan kemudian dibawa ke Alam Dewa Agung Lapisan Kedua.


Namun kini, dia sendiri harus mampu membuat sebuah portal, untuk menghubungkan ke seluruh alam, agar memudahkan seluruh penduduk mengunjungi keberbagai alam. Tapi disetiap alamnya harus dibenahi terlebih dahulu, agar tidak ada lagi begal-begal dan kelompok perampok, yang membuat para pengunjung alam merasa terganggu oleh ulah-ulah mereka.


Seperti hari ini, Arya melumpuhkan ratusan begal dengan mudah, dan mengusirnya dengan tidak memiliki kekuatan lagi. Dan dia juga akan membersihkan para Penguasa dan para petinggi, yang berbuat dzalim di Benua Dewa Bintang Kejora.

__ADS_1


Arya, Nawangsari, dan sepasang muda-mudi, melanjutkan perjalanannya lagi, menuju kearah kota perbatasan.


Mereka memacu kudanya dengan santai, menyusuri jalanan dipinggiran hutan, karena sebentar lagi akan sampai di kota perbatasan.


Dari arah belakang mereka, terdengar derap langkah kaki-kaki kuda, dan suara roda kereta kuda, berpacu dengan kencang kearahnya.


Arya menepikan kudanya kepinggir jalan, begitu pula dengan kuda sepasang muda-mudi.


Tidak begitu lama, rombongan kereta kuda yang dikawal oleh ratusan prajurit ibukota Dewa Bintang Kejora, lewat dihadapan Arya dan Nawangsari, namun secara tiba-tiba, kereta yang paling depan berhenti dihadapannya, disusul oleh kereta kuda kedua dan ketiga.


Arya dan Nawangsari, begitu pula dengan sepasang muda-mudi, terkejut melihat kereta kuda berhenti dihadapannya.


Dari dalam ketiga kereta kuda, keluar beberapa pria setengah baya dan para pemuda. Pria setengah baya itu, tak lain adalah paman tirinya Nawangsari, dan Penguasa Ibukota Dewa Bintang Kejora, serta para pemuda yang ternyata anaknya dari Penguasa Ibukota.


"Kebetulan kita bertemu disini, jadi tidak jauh-jauh mencari kalian," ucap pamannya Nawangsari. "Sekarang, ikutlah dengan kami, untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu, yang telah melumpuhkan ranah kekuatan putranya Penguasa Ibukota, dan sudah membawa kabur keponakanku," tambah paman tirinya Nawangsari, yang ditujukan kepada Arya.


"Jangan sembarangan kalian berbicara, tanpa bukti dan saksi, jika tidak ingin merasakan seperti pemuda yang tidak tau diri itu," balas Arya, menunjuk kearah putranya Penguasa Ibukota, yang ranahnya sudah dilumpuhkan.


"Bajingan kau...! Beraninya kamu berbicara dihadapan ku!" Seru Penguasa Ibukota Dewa Bintang Kejora, sangat marah kepada Arya, sambil menindasnya dengan kekuatan High God tahap puncak, namun Arya dan Nawangsari, tidak terpengaruh oleh kekuatan itu, malah sepasang muda-mudi yang terkena oleh pengaruh kekuatan Penguasa ibukota.


"Hahahaha... Hanya sampah ingin menindas ku," balas Arya tertawa ngakak, menindas balik Penguasa ibukota dan rombongannya, dengan kekuatan God King Tahap Sempurna Bintang Empat Puncak, hingga mereka langsung tersungkur mencium tanah, tidak berdaya sama sekali.


Dengan gerakan cepat, Arya langsung menghancurkan basis kultivasi mereka satu persatu, hingga mereka mengaduh menahan rasa sakit dibawah perutnya. Kecuali para prajurit pengawalnya, yang tidak dilumpuhkan oleh Arya, karena mereka tidak bersalah.


Argh.... Aahhh....


Terdengar erangan suara kesakitan dari mulut mereka, yang benar-benar merasakan rasa sakitnya. Lalu Arya merantai mereka, dan memasukkan kedalam Kereta kudanya masing-masing.


"Kepada semua prajurit pengawal, jika kalian ingin pada selamat, ikuti perintahku! Kecuali jika kalian ingin seperti mereka!" Seru Arya, memberikan ancaman kepada semua prajurit pengawal.


"Baik, Tuan Muda. Kami semua akan mengikuti perintah dari Tuan Muda," balas para prajurit pengawal, serempak menyatakan akan mengikuti perintah dari Arya.


"Ikuti aku ke ibukota Benua Dewa Bintang Kejora, dan bawa mereka untuk diberikan hukuman yang setimpal, karena mereka sudah menyengsarakan rakyatnya sendiri," perintah Arya, kepada para prajurit pengawal.


Kemudian Arya dan rombongannya, pergi meninggalkan tempat itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2