Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
94. Kagum Dengan Kota Indah


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu, Arya beserta rombongannya, bersiap-siap meninggalkan Alam Agung, untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke Alam Dewa Agung, dan seterusnya menuju ke Alam Dewa Nirwana.


Sebelum berangkat, Arya memasukkan seluruh bawahannya kedalam dunia jiwa, karena kejadian yang sudah dialaminya, tidak ingin terulang lagi, ketika dia berpetualang sendirian, namun istri, keluarga, kerabat dan seluruh bawahannya tertinggal di Benua Tengah Alam Bawah, sehingga ketika dia dilemparkan ke Alam Bumi selama tiga tahun, dan ke Alam Dewa Agung selama dua tahun, dia putus hubungan dengan keluarga dan seluruh bawahannya selama lima tahun.


Karena pengalaman itu, dia sebelum berangkat, memeriksa seluruh bawahannya, agar satu orangpun tidak ada yang tertinggal.


Setelah seluruh bawahannya lengkap, dan pamitan kepada Raja Agung dan Ratu Kencana Ungu, baru Arya memasukkan mereka kedalam dunia jiwanya.


Begitu pula dengan Arya, dia juga pamitan kepada


Raja Agung Darma Kusumah, Ratu Kencana Ungu dan kepada seluruh bawahannya, yang telah siap mengantarkan Arya kesebuah gerbang portal, dibelakang Istana Penguasa Alam Agung.


Arya segera melangkah menuju kearah belakang istana, diantar oleh Raja Agung dan Ratu Kencana Ungu, beserta seluruh bawahannya.


Setibanya didepan gerbang portal, Arya meminta kepada para penjaganya, untuk mengarahkannya ke Alam Dewa Agung.


Para penjaga pun, mengaktifkan portal penghubung antara Alam Agung dengan Alam Dewa Agung, dengan setumpuk batu kristal energi tingkat dewa, yang ditaruhnya disetiap tiang portal.


Whuuss.... Whuungg....


Arya melesat masuk kedalam portal, dan terus meluncur terbawa arus kuat dari dalam lorong waktu yang gelap, tidak ada pencahayaan sama sekali.


Dia terus meluncur dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat kepalanya sedikit pening, dan terasa ingin muntah. Dia buru-buru duduk lotus, mengerahkan energi dari dalam tubuhnya, untuk menangkal rasa pening dan mual.


"Lumayan, sudah tidak terasa pening dan mual lagi," batin Arya.


Sudah empat hari didalam lorong waktu, dan tinggal sehari lagi, karena perjalanan dari Alam Agung menuju ke Alam Dewa Agung, hanya memakan waktu lima hari dengan kecepatan tinggi.


Arya terus meluncur, dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya, agar tidak pening dan mual lagi.


Beberapa waktu berjalan, tampak diujung lorong portal, ada sebuah titik putih, lama kelamaan titik itu semakin besar. Sebuah cahaya dari luar, menyeruak masuk kedalam portal, semakin dekat semakin terang.


Arya bersiap-siap untuk keluar dari portal, agar tidak terlempar ke sembarang arah.


Whuuss.... Whuungg....


Arya loncat jungkir balik di udara, ketika dia akan dilemparkan oleh kekuatan lorong waktu, dan mendarat dengan sempurna di tanah.


Arya mengitari kesekelilingnya, tempat itu adalah dasar lembah perampok, tempat pembuangan para perampok dan para petinggi yang berkhianat, yang selalu merampok uang negara.

__ADS_1


Dia sudah apal dengan tempat itu, karena yang memberi nama Lembah Perampok adalah Arya, yang dikhususkan untuk membuang para penjahat, yang ranah kultivasinya sudah dilumpuhkan.


Dia bergegas melesat terbang menembus awan, dan terus menuju kearah ibukota Dewa Dewi Bulan, sambil mata malaikatnya memindai seluruh kawasan hutan dibawahnya.


Di atas langit kota Dewa Dewi Bulan, Arya mengeluarkan Wulan, Jenderal Adiwiyata, Jenderal Anggadiredja, Darmasena, Komalasari, Saraswati, Anjani, Ratnawati, Komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, dari dalam dunia jiwanya.


Whuuss.... Whuuss.... Whuuss....


Mereka muncul dihadapan Arya. "Salam, Penguasa Agung. Apakah kita sudah sampai di Alam Dewa Agung?" Tanya bawahan Arya, menatap kesekelilingnya dengan rasa heran.


"Kita berada di atas langit Ibukota Dewa Dewi Bulan," jawab Arya.


Mereka mengawasi seluruh pemandangan dari atas langit, tampak dimatanya sebuah pemandangan yang sangat indah. Apalagi di Ibukotanya, ada sebuah Air Terjun, yang dilihat dari atas, pemandangan sangat menawan.


Mereka senang berkunjung ke Alam Dewa Agung, apalagi di Ibukota Dewa Dewi Bulan, setelah dibangun oleh Arya, semua penduduknya sangat ramah, saling menghargai dan menjaga, antara yang lemah dan yang kuat, tidak saling menindas, bahkan saling membantu diantara mereka.


Arya mengajak bawahannya menuju ibukota, mereka mendarat dipinggiran hutan, dengan jarak lima ratus meter dari gerbang.


Mereka melanjutkan dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan dipinggiran hutan, yang sangat ramai oleh para pedagang dan pengunjung, karena setiap harinya, pengunjung ke Ibukota Dewa Dewi Bulan selalu banyak.


Para pedagang yang sudah pada mengenal Arya, langsung membungkuk menghormati Arya dan rombongannya.


Arya tersenyum dengan ramah, menyambut ucapan salam para pedagang.


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Arya, kepada para pedagang.


"Baik, Penguasa Agung. Sejak kami diperbolehkan berjualan di sini oleh Penguasa Agung, sekarang pendapatan kami meningkat. Kami sangat berterimakasih, atas kemurahan dan kebaikan Penguasa Agung," ucap pemimpin pedagang itu.


"Semoga Penguasa Agung diberkati!" Seru para pedagang serempak, mendo'akan Arya.


"Terimakasih, semoga kalian juga diberkati," balas Arya, sambil berlalu meninggalkan para pedagang.


Arya berjalan menuju kearah gerbang ibukota, diikuti oleh seluruh bawahannya.


"Salam Penguasa Agung," ucap para penjaga pos gerbang, menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk.


"Salam kalian aku terima," balas Arya. "Bagaimana dengan keadaan disini, setelah aku pergi?" Tanya Arya.


"Baik, Penguasa Agung. Sekarang kota ini lebih maju, dan para pendukungnya juga merasa nyaman, tidak pernah ada gangguan lagi," jawab Komandan Penjaga Pos.

__ADS_1


"Baiklah, ada berapa kereta kuda disini?" Tanya Arya, kepada penjaga pos gerbang ibukota.


"Sekarang sudah ada enam puluh, Penguasa Agung. Yang empat puluh lima kereta kuda, sedang mengantarkan para pengunjung keliling ibukota. Tinggal lima belas kereta kuda, yang siap mengantarkan perjalanan Penguasa Agung dan rombongan," jawab penjaga pos lagi.


"Aku perlu enam kereta kuda, untuk mengantarkan kami keliling ibukota dulu, sebelum kami ke istana," ucap Arya.


"Baik, Penguasa Agung. Mari ku tunjukkan tempat kereta kudanya," balas penjaga pos, memandu jalannya didepan, diikuti oleh Arya dan rombongannya dari belakang.


Tempat parkir kereta kuda, jaraknya tidak jauh, sekitar tiga ratus meter dari pos penjagaan.


Setibanya ditempat kereta kuda, Komandan Pos Penjagaan memerintahkan kepada para kusir kereta kuda, untuk mengantarkan Penguasa Agung bersama rombongannya keliling ibukota, dan seterusnya mengantarkan ke Istana Alam Dewa Agung.


Keenam kusir kereta kuda, dengan senang hati mereka dapat mengantarkan Penguasa Agung Semesta Alam Raya, bersama rombongannya keliling ibukota. Karena selama ini, mereka belum pernah bertemu dengan yang namanya Penguasa Agung. Maka begitu mendapat perintah dari Komandan Penjaga Pos, mereka menyambutnya dengan senang dan gembira.


Arya dan rombongannya, naik ke atas kereta kuda, Arya duduk bersama Wulan, bareng satu kereta kuda.  Dan satu kereta kuda, diisi oleh dua orang. Kebetulan Arya hanya mengeluarkan sepuluh orang bawahannya. Dan mereka pada naik ke atas kereta kuda, yang telah disiapkan.


Rombongan kereta kuda bergerak perlahan, dan melaju di jalan utama perkotaan. Satu kereta kuda, ditarik oleh dua ekor kuda yang besar-besar dan tinggi.


Arya bersama rombongannya mengelilingi ibukota, mereka sangat senang sekali, bisa mengunjungi Ibukota Alam Dewa Agung.


Keenam kereta kuda terus menyusuri setiap jalan diperkotaan, dengan kecepatan rendah, agar bisa memantau situasi disetiap tempat yang dilewati.


Tampak gedung-gedung bertingkat, menghiasi pemandangan kota, disertai sejumlah taman-taman yang indah, dan dilengkapi oleh ratusan gazebo, untuk duduk-duduk para pengunjung yang ingin santai, menikmati keindahan kota Dewa Dewi Bulan.


Wulan dan bawahannya, begitu takjub dan kagum, atas penataan kota yang rapih, bersih, indah, nyaman dan aman.


"Kak Arya, siapa yang menata kota ini?" Tanya Wulan penasaran, karena melihat kebersihan dan keindahan kota.


"Ratu Derwani dan Komandan Seno Adji, mereka berdua ahli dalam bidang pembangunan dan penataan kota," jawab Arya.


"Sungguh luar biasa, ternyata kedua bawahan Kak Arya, ahli dalam bidang pembangunan dan penataan kota," ucap Wulan kagum.


"Kebetulan mereka berdua, selain ahli dalam bidang pembangunan dan penataan kota, mereka juga ahli dalam membuat formasi tingkat Dewa. Dan kota ini juga dilindungi oleh sebuah formasi buatannya, yang tidak dapat ditembus oleh kekuatan dibawah God King Tahap Sempurna Bintang Lima," balas Arya menjelaskan.


"Sungguh hebat mereka berdua," ucap Wulan takjub.


Kereta terus melaju, menyusuri setiap jalan ibukota, melewati alun-alun, dan kemudian mengarah ke Air Terjun Dewa Dewi Bulan, untuk menuju ke Istana Alam Dewa Agung, yang letaknya di kawasan air terjun.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2