
Arya bersama Nawangsari, keluar dari sebuah rumah makan mewah, berjalan kaki menuju kearah gerbang kota, hendak keluar melanjutkan perjalanannya menuju ke kota lainnya.
Namun baru beberapa langkah berjalan, keduanya dihadang oleh ribuan prajurit ibukota, dipimpin langsung oleh Penguasa Dewa Bintang Timur, yang ranah kultivasinya berada ditingkat Low God tahap puncak.
"Berhenti....! Menyerahlah, sebelum aku melumpuhkan kalian berdua!" Seru Penguasa Benua Dewa Bintang Timur, sambil menindas Arya dan Nawangsari, dengan aura kekuatannya.
Arya juga tidak tinggal diam, dia menindas balik Penguasa Benua Dewa Bintang Timur, berikut seluruh prajuritnya, dengan aura kekuatanĀ kultivasi God King Tahap Sempurna Bintang Empat Puncak, hingga membuat mereka jatuh tersungkur, mengeluarkan cairan merah dari mulut, hidung serta telinganya.
Kemudian Arya bergerak cepat, menghancurkan basis kultivasi para petinggi dan Penguasanya, hingga mereka menjerit merasakan rasa sakit dibawah perutnya.
Aahhh.... Argh....
Penguasa Benua Dewa Bintang Timur bersama para petingginya, terkulai lemas kehilangan kekuatannya.
"Sekarang kalian sudah tidak pantas lagi, untuk menjadi Penguasa dan petinggi di benua ini! Silahkan kalian pergi, keluar dari ibukota kota ini, jika kalian tidak ingin ditindas lagi," ucap Arya, kepada para petinggi dan Penguasa Benua Dewa Bintang Timur.
Para petinggi dan Penguasa Benua Dewa Bintang Timur, dengan terpaksa berdiri, sambil menahan rasa sakit dibawah perutnya. Mereka berjalan tertatih-tatih meninggalkan ibukota, dengan membawa amarah yang terbendung dan rasa dendam.
"Untuk seluruh prajurit ibukota, bila kalian semua membangkang atas perintahku, kalian akan bernasib sama seperti pemimpin benua ini," ucap Arya, mengancam seluruh prajurit ibukota. "Sekarang, kalian ikuti perintahku, jika kalian masih tetap ingin menjadi prajurit. Kecuali kalau kalian mau keluar dari ibukota, mengikuti pemimpin kalian. Silahkan pergi!" Tambah Arya, berseru kepada semua prajurit ibukota.
Seluruh prajurit ibukota terdiam ditempatnya, tidak berani berbicara sepatah katapun. Mereka semua ketakutan dengan ancaman Arya, yang sudah terbukti mampu melumpuhkan para petinggi, dan Penguasa Benua Dewa Bintang Timur.
"Baiklah, sekarang kalian ikuti aku ke istana!" Seru Arya, kepada semua prajurit ibukota.
"Siap, Tuan Muda," balas semua prajurit bersamaan.
Arya dan Nawangsari, yang berniat keluar dari ibukota, tidak jadi gegara keduanya dihadang oleh ribuan prajurit ibukota, dan keduanya malah menuju ke istana, dengan diikuti oleh seluruh prajurit ibukota.
Setibanya di istana, Arya membersihkan antek-antek Penguasa yang dzalim, serta memerintahkan kepada para prajurit ibukota, untuk memanggil seluruh bangsawan dan perguruan beladiri di ibukota.
"Prajurit, panggil seluruh bangsawan dan perguruan beladiri, untuk segera datang ke istana, jika mereka membangkang, catat nama-namanya, nanti aku yang akan membereskannya," ucap Arya, memerintahkan kepada para prajurit ibukota.
"Baik, Tuan Muda. Perintah Tuan Muda, akan segera kami laksanakan!" Seru para prajurit, bergegas pergi meninggalkan istana, untuk menjalankan perintah dari Arya.
__ADS_1
Seluruh ruangan Istana ditata kembali dengan baik, dibantu oleh para prajurit ibukota. Para pelayannya yang tidak disiplin, diganti dengan pelayan baru.
Arya mengeluarkan bawahannya dari dunia jiwa, bekas para begal yang telah bertobat, dan para wanita muda yang telah ditolongnya, untuk mengurus Benua Dewa Bintang Timur, menggantikan Penguasa dzalim dan para petingginya, yang telah diusir oleh Arya.
Whuuss.... Whuuss.... Whuuss....
Lima puluh bawahan Arya, muncul dihadapannya, dan langsung mereka berlutut.
"Salam Penguasa Agung! Apakah ada tugas yang harus kami laksanakan," ucap para bawahannya.
"Sudira, jabatan Penguasa Benua Dewa Bintang Timur ini, aku percayakan kepadamu. Jangan sia-siakan kepercayaan dariku, jika sampai mengecewakan ku. Siap-siap untuk menerima resikonya," ucap Arya kepada Sudira, bekas pemimpin perampok, yang telah mengikuti Arya, berikut empat puluh bawahannya.
"Dan untuk para wanita, segera susun pasukan khusus wanita di benua ini, dengan nama Pasukan Khusus Srikandi, untuk membantu para wanita yang tertindas," ucap Arya lagi, memerintahkan kepada para wanita yang telah ditolong oleh Arya, dan dididik didalam dunia jiwanya.
"Siap, Penguasa Agung," ucap mereka serempak.
"Sudira, untuk para petinggi di benua ini, silahkan olehmu disusun kembali. Aku hanya mengangkat jenderal untuk pasukan khusus Srikandi, selebihnya biar mereka yang mengurusnya. Kamu hanya membantu mengurus kebutuhannya. Karena pasukan Srikandi langsung dibawahku. Sedangkan Penguasa benua ini, dibawah kekuasaan Penguasa Alam Dewa Agung, yang berpusat di Ibukota Dewa Dewi, Benua Dewa Bulan," jelas Arya, kepada bawahannya.
"Baik, Penguasa Agung. Semua titah Penguasa Agung, akan kami laksanakan," balas Sudira, yang telah diangkat oleh Arya, menjadi Penguasa Benua Dewa Bintang Timur.
"Ekawati, aku juga mengangkat dirimu, untuk menjadi jenderal khusus pasukan Srikandi. Silahkan susun olehmu, untuk menjadi wakilmu dan komandan-komandannya," tambah Arya.
"Siap, Penguasa Agung. Semua perintah dari Penguasa Agung, akan hamba laksanakan," balas Ekawati, yang telah diangkat menjadi jenderal Pasukan Khusus Srikandi.
"Sebentar lagi akan ada pertemuan dengan para bangsawan, dan para pemimpin perguruan beladiri. Jika ada diantara mereka yang mengabaikan undangan dariku, apalagi membangkang, segera bereskan mereka," ucap Arya, kepada bawahannya.
"Siap, Penguasa Agung," balas mereka bersamaan.
Beberapa waktu berjalan, seorang komandan prajurit ibukota, memasuki Aula Istana, untuk melaporkan hasil kerja para prajuritnya, yang mengundang seluruh bangsawan dan para pemimpin perguruan beladiri.
"Penguasa Agung, hanya sebagian bangsawan dan perguruan beladiri, yang sudah menyatakan akan hadir ke istana. Dan sebagian lagi menyatakan menolak, karena mereka tidak akan tunduk kepada Penguasa baru, yang tidak jelas kekuatannya," ucap komandan ibukota, melaporkan hasil kerja prajuritnya. " Dan ini, nama-nama mereka yang membangkang," tambahnya, sambil memberikan daftar nama-nama bangsawan dan perguruan beladiri, yang tidak mau tunduk kepada Arya.
"Baiklah, kalau begitu, antarkan aku ketempat mereka," balas Arya.
__ADS_1
"Baik, Penguasa Agung," ucap komandan ibukota, sambil berlalu meninggalkan tempat itu, untuk mengantarkan Arya ketempat para pembangkang.
Arya dan Nawangsari, mengikuti komandan ibukota dari belakang, menuju ketempat para pembangkang, yang tidak mau tunduk kepada perintah Arya.
Tak begitu lama, Arya dan Nawangsari, tiba di kediaman bangsawan kelas satu ibukota, keduanya langsung masuk menerobos pintu penjagaan, dengan melumpuhkan para panjangnya.
Sedangkan komandan ibukota, bersama lima orang prajuritnya, menunggu diluar gerbang penjagaan, untuk berjaga-jaga bilamana diperlukan oleh Arya.
"Siapa kalian, berani membuat keributan ditempat ku," ujar pria setengah baya, yang merupakan pemimpin para bangsawan di ibukota, sambil menindas Arya dengan ranah kekuatannya.
Arya hanya tersenyum melihat tingkah pemimpin bangsawan itu, yang telah berani menindas dirinya, dengan kekuatan Low God tahap puncak.
"Hanya sampah, berani menindas ku," balas Arya, menindas balik pemimpin bangsawan itu, hingga jatuh tersungkur di tanah, dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Sebelum pemimpin bangsawan itu berdiri, Arya sudah bergerak cepat memukul basis kultivasinya, hingga pemimpin bangsawan mengaduh, menahan rasa sakit dibawah perutnya.
"Itulah hukuman bagi orang yang telah berani membangkang perintah ku," ujar Arya, berlalu meninggalkan tempat itu.
Satu persatu, para bangsawan dan para pemimpin perguruan beladiri, yang membangkang dan tidak mau tunduk kepada Penguasa baru, didatangi oleh Arya dan Nawangsari ke rumahnya masing-masing.
"Aku tidak akan membiarkan mereka bertindak sewenang-wenang," ujar batin Arya.
Memang para bangsawan dan para pemimpin perguruan beladiri di ibukota ini, sering berbuat arogan, sombong. Sering menindas orang-orang yang lemah, menjadikan rakyat lemah sebagai budak-budaknya. Dan anak-anak mereka, hampir semuanya jadi berandalan kota, serta didukung oleh para orangtuanya.
Karena itulah Arya bertindak tegas, dia tidak ingin disetiap kota, banyak orang yang berbuat dzalim. Apalagi yang menjadi sasaran adalah rakyat yang lemah, yang tidak memiliki kekuatan.
Para bangsawan dan para pemimpin perguruan beladiri, semuanya dilumpuhkan basis kultivasinya, dan diusir dari ibukota, agar menjadi contoh bagi para bangsawan dan pemimpin perguruan beladiri, yang mendukung program penguasa baru.
Setelah Arya membenahi sistem kekuasaan di Benua Dewa Bintang Timur, yang dirubah menjadi Gubernur Wilayah Timur, serta merubah sistem keamanannya, dan semuanya berpusat di Ibukota Dewa Dewi Bulan, Arya terus melanjutkan perjalanannya, untuk kembali ke ibukota Dewa Dewi.
Kali ini, Arya dan Nawangsari tidak terbang atau berjalan kaki, keduanya menunggangi seekor kuda putih besar, keluar dari gerbang ibukota, tanpa diperiksa lagi, karena para penjaga gerbang, sudah mengetahui status Arya, sebagai Penguasa Agung Semesta Alam Raya.
Kuda putih dipacu kearah barat, menyusuri jalanan dipinggiran hutan, berniat ingin menaklukan Benua Dewa Bintang Kejora, yang sebenarnya telah dibersihkan dari pengaruh sisa-sisa iblis oleh bawahannya, namun belum menyentuh ke semua bangsawan dan penguasa benuanya, sehingga sifat-sifat mereka masih seperti iblis.
__ADS_1
Arya sambil mendekap kuat Nawangsari yang duduk didepannya, agar tidak jatuh dari kuda, memacunya dengan kencang.
Bersambung.....