
Kolam tiga warna di dasar lembah kelelawar, yang memancarkan aura energi yang sangat besar, dari setiap warnanya di jaga oleh tiga makhluk yang mengerikan. Satu makhluk diantaranya, memiliki kekuatan hampir seimbang dengan Arya ranahnya hanya beda satu tahap.
Ketiga makhluk itu, menghadang Arya dan Nawangsari, dengan tatapan mata yang mengandung tekanan mistis, sehingga Nawangsari hampir tersungkur, kalau tidak keburu dipegang tangannya oleh Arya.
Arya balik menatap ketiga makhluk itu, dengan kekuatan mistis mata malaikatnya. "Hmmm.... Ternyata makhluk itu adalah tiga benda pusaka," ucap batin Arya. "Kalian kalau tidak menyerah, rasakan penindasan dariku!" Tambah Arya, berseru lewat telepati kepada ketiga makhluk itu, sambil mengeluarkan aura kekuatan God King Tahap Sempurna Bintang Empat Puncak, hingga dua makhluk jatuh tersungkur, dan menghilang masuk kedalam air berwarna biru muda dan merah pink, namun satu makhluk lagi bertahan untuk melawan Arya.
Makhluk tinggi besar berwarna kuning keemasan, menatap Arya dengan kekuatan mistis yang terpancar dari sorot matanya. Arya pun tidak tinggal diam, dia juga sama mengeluarkan kekuatan mistis mata malaikatnya. Hingga dua kekuatan beradu, menimbulkan hawa yang begitu mengerikan didasar lembah.
Tak lama kemudian, makhluk itu menghilang dan masuk kedalam air berwarna kuning keemasan. Sedangkan Arya merasakan rasa perih dimatanya, sehingga sebelah mata kanannya, tidak bisa melihat.
"Cepat masuk kedalam air berwarna kuning keemasan, untuk menyembuhkan luka matamu!" Seru suara tanpa wujud terdengar, menggema diseputar dasar lembah.
Tanpa membuang waktu, Arya segera loncat kedalam kolam air berwarna kuning keemasan.
Gejebur.... Byur....
Terdengar suara seperti benda padat jatuh kedalam air, dan masuk kedalamnya. Suara seperti benda itu, adalah suara tubuh Arya yang loncat kedalam kolam, dan langsung menyerap kekuatan mistis dari dasar kolam itu.
"Serap ditengah-tengah pertemuan tiga warna," terdengar lagi suara tanpa wujud itu.
Arya menuruti perintah dari suara tanpa wujud. Gegas dia bergerak di dasar kolam, menuju ketempat tiga titik bertemunya ketiga warna. Kemudian dia duduk lotus di tiga titik pertemuan warna, untuk menyerap ketiga unsur energi dari air kolam berwarna.
Dengan memasang formasi sayap rajawali sakti, dia terlindungi dari rembesan air yang masuk kedalam tubuhnya. Namun formasi itu dia pertipis, agar aura energi yang dia serap, cepat mengalir ke seluruh tubuhnya.
Ada rasa panas menyelimuti tubuhnya, dibarengi dengan rasa seperti disengat-sengat oleh aliran listrik tegangan tinggi, dan untungnya, dia sudah beberapa kali mengalami kekuatan seperti ini, yang merasuk didalam tubuhnya.
Kini dia berusaha menaklukkan ketiga kekuatan yang sangat dahsyat, yang meronta-ronta ingin lepas dari cengkeraman tubuh Arya.
Ketiga kekuatan itu, terus menyengat-nyengat seluruh tubuhnya, hingga dari pori-pori kulitnya mengeluarkan cairan hitam, cairan sejenis racun atau kotoran dari dalam tubuhnya.
__ADS_1
Setelah semua kotoran dan racun didalam tubuhnya keluar, Arya merasakan badannya terasa lebih ringan, dan terasa nyaman.
Bom.... Bom.... Bom.... Bom....
Terdengar empat kali suara teredam dari dalam tubuhnya, menandakan dia naik tingkat lagi. Dari semula ranahnya berada ditingkat God King Tahap Sempurna Bintang Empat Puncak, kini naik ketingkat God King Tahap Sempurna Bintang Enam Awal.
Sungguh kekuatan yang sangat mengerikan di alam ini, sudah tidak ada tandingannya. Makanya dia ingin segera meninggalkan alam ini, ingin berpetualang ke alam lainnya.
Sebelum Arya meninggalkan tempat ini, dia diperintahkan oleh suara tanpa wujud, untuk memindahkan kolam energi tiga warna, kedalam dunia jiwanya.
Dia pun menyiapkan kolam didalam dunia jiwanya, persis seperti kolam di dasar lembah. Lalu menyedot airnya dengan jurus Rajawali Sakti Menyedot Kekuatan Lawan, sehingga air berwarna dari kolam itu tersedot habis, memasuki dunia jiwa, dan mengalir kedalam kolam yang sudah dipersiapkan.
Arya menata kembali semua kolom, agar berjejer rapi, dibawah pohon-pohon rindang buah-buahan dewa, dan pohon buah abadi, serta rumput kristal dan sumberdaya tingkat Dewa, di wilayah utara dunia jiwanya, diurus oleh para pekerjanya yang tinggal didalam dunia jiwa.
Setelah Arya membenahi dunia jiwanya, dia keluar lagi dan muncul dihadapan Nawangsari. Lalu mengajaknya bergegas meninggalkan tempat itu, untuk melanjutkan perjalanannya menumpas sisa-sisa begal dan rampok.
Keduanya melesat terbang ke atas langit, menembus awan, dan terus menuju kearah barat, menyisir tempat-tempat persembunyian kelompok begal dan rampok.
Dari balik awan, dengan mata malaikatnya, Arya mengawasi pergerakan mereka.
"Adik Nawang, kita duluan ke depan mereka, lalu kita pura-pura hendak bergabung dengan kelompok mereka. Apakah mereka itu orang baik-baik, atau dari kelompok aliran hitam, yang tergabung dalam kelompok perampok,," ucap Arya, langsung menukik menuju ke depan jalan ,yang akan dilewati oleh mereka, diikuti oleh Nawangsari dari belakang.
"Nah kita tunggu disini, sebentar lagi mereka lewat jalan sini," ucap Arya lagi, begitu tiba dipinggir jalan, yang tak jauh dari rombongan berpakaian serba hitam, yang berjalan mengarah ketempat keduanya.
"Baik, Kak," balas Nawangsari.
Keduanya duduk disebuah balok kayu, yang tergeletak dipinggir jalan. Tak seberapa lama, rombongan itu sudah terlihat berjalan menuju kearahnya. Arya dan Nawangsari, bersiap-siap menjalankan rencananya.
Pemimpin kelompok rombongan berpakaian serba hitam, begitu melihat Arya dan Nawangsari dengan pakaian lusuh, tanpa memiliki kekuatan sama sekali, dia memerintahkan kepada para anggotanya untuk menangkap Nawangsari.
__ADS_1
"Badra, tangkap kedua orang itu. Dan wanitanya bawa kemari, untuk bersenang-senang malam ini!" Seru Tuan Subrata, pemimpin rombongan, yang bertubuh tambun, gemuk dan pendek.
"Baik, Tuan," jawab Badra, orang kepercayaan diri Tuan Subrata, sambil bergerak mengajak teman-temannya, untuk menyergap Nawangsari, yang akan dijadikan budak nafsu bejadnya pemimpin kelompok itu.
Namun sebelum mereka menjamah tubuh Nawangsari, dengan gerakan cepat tanpa dilihat oleh mata mereka, Nawangsari menghancurkan basis kultivasi mereka yang bermaksud jahat kepadanya.
Dub.... Bug.... Argh....
Badra dan kawan-kawannya, langsung berlutut, sambil memegang dibawah perutnya yang terasa sakit.
"Siapa kalian? Beraninya kalian ingin memperdaya ku!" Hardik Nawangsari, berseru kepada mereka.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Nawangsari melambaikan tangan kanannya, dengan kekuatan tiga puluh persen, hingga melemparkan mereka kearah Tuan Subrata, dan tepat jatuh menimpa tubuh lelaki tambun itu.
"Kurang ajar kamu, berani melumpuhkan anak buahku," ucap marah Tuan Subrata. "Ayo tangkap wanita itu!" Tambahnya, memberikan perintah kepada bawahannya.
Semua anggota kelompok rombongan itu, mengepung Nawangsari, namun Arya tidak tinggal diam. Dia cepat-cepat bertidak, mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, hingga semua rombongan termasuk Tuan Subrata, dijadikan patung oleh Arya
"Sekarang giliranmu dik," ucap Arya, kepada Nawangsari.
"Siap, Kak. Mereka akan aku kirim ke Lembah Perampok, setelah menjadi cacat, kehilangan kekuatan kultivasinya," balas Nawangsari, dengan cepat memukul basis kultivasi mereka satu persatu, dan mengeluarkan rantai baja mistis, pemberian dari Arya, untuk mengikat dan membawa mereka.
Setelah semuanya selesai, Nawangsari merubah wujud mereka menjadi siluet cahaya, agar mudah membawanya ke Lembah Perampok.
Tampak ratusan siluet cahaya, melesat terbang kearah lembah perampok, diikuti oleh Arya dari belakang.
Tidak seberapa lama, Nawangsari tiba di Lembah Perampok, dan langsung melemparkan mereka satu persatu dihadapan para perampok lainnya, yang sudah lebih dulu menjadi penghuni lembah.
Usai mengerjakan semuanya, dia kembali ke atas lembah, menghampiri Arya yang tengah melayang di udara.
__ADS_1
Bersambung.....