
Udara senja hari di bukit hutan jati Benua Utara, diselimuti kabut asap yang begitu tebal, hingga menyesakkan pernapasan. Kabut asap itu entah darimana datangnya, karena secara tiba-tiba menyelimuti bukit hutan jati.
Arya melesat terbang ke udara, lalu mengedarkan pandangan mata malaikatnya. Pandangan mata Arya tertuju pada sekolompok orang yang tengah membakar hutan, entah apa maksud dan tujuan dari mereka.
Tak menunggu lama, Arya segera terbang menuju kearah sekelompok orang tersebut.
Tampak diantara orang-orang yang membakar hutan itu, ada beberapa makhluk iblis merah bertanduk. Rupanya orang-orang itu bersekutu dengan iblis, dan mereka sengaja membakar hutan untuk memancing kemarahan pemimpin Benua Utara.
Arya tidak ingin kebakaran hutan itu menyebar kemana-mana, maka begitu Arya melihat ada sebuah danau didalam hutan jati, dia segera mengambil tindakan dengan melambaikan tangan yang dialiri kekuatan sepenuhnya, diarahkan kesebuah danau, kemudian dihempaskan air danau itu ketempat kebakaran.
Seketika api yang membakar hutan itu padam, hanya menyisakan asap dan arang dari beberapa pohon yang terbakar.
Iblis merah bertanduk beserta orang-orang yang bersekutu dengannya, terkejut melihat api padam seketika.
Belum pulih dari rasa keterkejutannya, tiba-tiba mereka diterjang oleh sebuah pukulan jarak jauh, hingga melemparkan mereka beberapa ratus meter.
Terlihat sesosok pemuda mengenakan jubah hitam dan caping, berdiri tegak dihadapan mereka yang terluka, karena terkena pukulan dari seorang pemuda.
Pemuda petualang itu adalah Arya, yang sangat marah terhadap orang-orang yang bersekutu dengan iblis.
"Dasar pengecut, beraninya main bokong! Hadapi kami kalau benar-benar kamu punya nyali besar," ucap salah seorang pria tua yang bersekutu dengan iblis menatap Arya.
"Hahaha.... Hanya seorang pemuda sampah beraninya mengganggu kami. Apakah kamu mau setor nyawa mendatangi tempat ini?" Ucapnya lagi meremehkan Arya.
"Ayo tangkap, pemuda ini hanya seorang sampah. Lihat saja ranahnya masih ditingkat Pendekar Dewa Bumi tahap awal,' sambung yang lainnya.
Mereka semua menerjang Arya dari berbagai arah, Arya kali ini tidak akan bermain-main lagi, karena mereka adalah sekutunya iblis. Maka Arya dengan kekuatan sepenuhnya, mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, sehingga mereka termasuk sepuluh iblis merah bertanduk dibuat menjadi patung.
Patung itu kemudian dirantai dengan rantai baja, serta basis kultivasinya dilumpuhkan, dan ditinggalkan begitu saja dihutan untuk umpan bintang buas.
Arya meneruskan perjalanannya menuju kearah barat, hingga tak terasa dia sudah berada di dekat sebuah kota yang sangat besar, Kota Kidang Kencana.
Dia melesat turun sebelum gerbang kota, sekitar dua ratus meter dari gerbang. Kemudian berjalan kaki menuju kearah gerbang kota.
Sudah ada beberapa kultivator yang mengantri, menunggu giliran pemeriksaan.
Para penjaga pos didampingi oleh empat orang perwira muda pasukan Garuda Benua, yang ranahnya rata-rata pada tingkat Penguasa tahap puncak, merupakan perwira muda yang baru menyelesaikan pendidikannya di Hutan Larangan, dan baru melaksanakan tugas awalnya di Benua Utara.
Kini giliran Arya yang mendapat pemeriksaan, dia mengeluarkan Identitasnya dari Perguruan Beladiri Suramanggala, karena tidak ingin perjalanannya terhalang oleh beberapa pertanyaan.
Dengan menggunakan identitas dari Perguruan Beladiri Suramanggala, akhirnya para penjaga pos sangat ramah serta tidak bertele-tele, dan Arya pun dipersilahkan melanjutkan perjalanannya lagi.
Langkah kakinya terayun disebuah jalanan utama kota Kidang Kencana, mengarah kesebuah rumah makan yang cukup mewah.
__ADS_1
Tiba-tiba langkah kakinya terhenti oleh suara orang yang memanggil dirinya, dengan sebutan pemuda sampah, begitu Arya melirik kepada orang yang memanggilnya, dia melihat ada lima belas pemuda berandalan, dengan penampilannya yang urakan.
"Dimana-mana selalu saja ada pemuda berandalan, ini malah lebih urakan dari pemuda-pemuda sebelumnya," ucap batin Arya, menatap mereka satu persatu.
Beberapa pemuda berandalan itu menghampiri Arya, dan meminta sejumlah uang.
"Hai, pemuda sampah! Serahkan semua uang mu. Lewat jalan ini harus membayar pajak, semua uang mu cukup untuk membayar pajak masuk kedalam kota ini," ucap salah seorang berandalan itu ingin memeras Arya.
"Kalian mau uang, ambil nih," ucap Arya, sambil mengeluarkan sekantong koin emas.
Tentu saja mereka semua berebutan, untuk mendapatkan sekantong koin emas, dengan merebutnya dari tangan Arya, hingga mereka tidak menyadari bahwa itu merupakan sebuah umpan bagi para pemuda berandalan itu.
Ketika mereka hendak merebutnya dari tangan Arya, seketika tubuh-tubuh mereka terlempar kearah pemuda berandalan lainnya, hingga menimpa saling tindih.
"Ahhh.... Aduh....!" Keluh kesakitan pemuda berandalan.
Kemudian Arya mengeluarkan rantai baja dari cincin penyimpanannya, lalu mengikat para pemuda berandalan itu dengan rantai baja, dan meninggalkannya begitu saja, agar diketahui oleh para keluarganya yang membiarkan kelakuan anak-anaknya.
Arya terus melanjutkan langkah kakinya, menuju ke rumah makan, saat tiba ditempat itu, dia melihat sebuah kejadian yang benar-benar membuat dia marah.
Dua orang bocah lelaki dan perempuan, yang sedang mengemis di depan rumah makan, disiram oleh pemilik rumah makan dan mengusirnya dengan menendang kedua anak itu.
"Enyah sana, jangan mengotori tempat ini. Tempat mewah ini tidak cocok untuk gelandangan seperti kalian," usir pemilik rumah makan cukup mewah itu, dengan menendangnya beberapa kali.
Arya yang melihat hal seperti itu, langsung menghampiri pemilik rumah makan, dan memukulnya hingga terlempar menabrak dinding rumah makan.
"Siapa kamu anak muda, beraninya mencampuri urusanku. Apakah kamu tidak tahu siapa aku?" Hardik pria tua pemilik rumah makan bertanya, sambil menatap tajam kearah Arya.
"Siapa aku itu bukan urusanmu, karena aku hanya mengurusi bajingan tua sepertimu," balas Arya, balik menatap pria tua itu dengan tatapan mata malaikatnya, yang mengandung kekuatan mistis.
Pria tua itu merinding merasakan kekuatan aura mistis yang menerpa dirinya, dan menusuk merasuki ke seluruh tubuhnya, sehingga pria tua itu mengeluarkan darah dari kedua belah matanya, hidung dan dari mulutnya, mengucur perlahan membasahi wajahnya.
Arya kembali menarik kekuatan aura mistisnya yang mencengkram pria tua itu, lalu menghampirinya ketempat pria tua terlempar.
"Ini peringatan keras untuk dirimu, jangan sekali-kali meremehkan orang-orang yang lemah, apalagi anak-anak kecil. Jika kejadian seperti ini terulang lagi, aku tidak segan-segan untuk membuangmu dari kota ini. Paham..." Ucap Arya, memberikan sebuah ancaman untuk menekan pria tua itu, agar tidak sombong.
Pria tua pemilik rumah makan tidak menjawab, dia masih meringis merasakan sekujur badannya terasa sakit. Dan untuk berdiri saja tidak bisa, rasanya sendi-sendi tulang kakinya bergeser, karena terlempar dengan kerasnya ke dinding rumah makan.
"Bagaimana rasanya kalau sekarang dirimu menjadi orang yang lemah, tidak memiliki kekuatan sama sekali," ucap Arya, sambil memukul basis kultivasi pria tua itu dibawah perutnya.
"Nah sekarang rasakan olehmu," tambahnya.
Pria tua itu dalam hatinya, sangat marah bercampur dengan dendam.
__ADS_1
"Tunggu pembalasanku," ancam balik pria tua.
"Aku akan menunggunya," balas Arya singkat.
Arya menghampiri kedua anak itu, yang usia keduanya baru berumur delapan tahun, dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Adik kecil, siapakah nama kalian berdua ini?" Tanya Arya, menatap keduanya.
"Aku Aryandi, dan ini adikku Aryanti, Kak," ucap Aryandi.
"Kalian saudara kembar?" Tanya Arya lagi.
"Iya, Kak. Kedua orangtua kami telah tiada, dibunuh oleh prajurit iblis," jelas Aryandi berlinang air mata, membuat hati Arya tersentuh, karena kedua orangtuanya dibunuh oleh prajurit Iblis.
"Adik kecil, kalian mau ikut dengan Kakak," ajak Arya.
"Kemana, Kak?" Tanya keduanya hampir bersamaan.
"Ketempat yang lebih baik daripada tempat ini," jelas Arya.
"Mau, Kak,' balas keduanya.
Kedua bocah kembar itupun ikut dengan Arya, menyusuri jalanan kota Kidang Kencana. Arya mengajaknya kesebuah rumah makan sederhana, yang kebetulan tempat itu sedang tidak ramai.
Ketiganya masuk kedalam rumah makan, yang menyediakan berbagai macam daging bakar, Arya memesan daging rusa bakar, dengan bumbu rempah-rempah dari berbagai jenis sumberdaya tingkat tinggi, sangat baik sekali untuk meningkatkan daya tahan tubuh, agar tulang-tulangnya lebih baik dan kuat.
"Tunggu sebentar ya, adik kecil. Aku akan menjemput seseorang dulu," ucap Arya, menyuruh keduanya menunggu.
Gegas Arya keluar dari rumah makan, kemudian masuk kesebuah gang untuk memanggil Wulan dari dunia jiwanya.
Whuuss....
Wulan pun muncul dihadapan Arya, lalu Arya menjelaskan apa yang dia alaminya di Kota Kidang Kencana.
Tak banyak cerita, Arya dan Wulan bergegas menuju ke rumah makan sederhana.
"Adik kecil, kenalkan ini Kak Wulan,' ucap Arya, begitu tiba dihadapan kedua anak kembar itu.
"Iya, Kak. Namaku Aryandi, dan adikku ini Aryanti," balas Aryandi.
Wulan tersenyum ramah kepada kedua anak kembar itu, keempatnya duduk saling berhadapan mengelilingi sebuah meja makan.
Tak seberapa lama, pelayan rumah makan segera menghampiri Arya, dengan membawa hidangan daging rusa baka, dan menyajikannya di atas meja makan.
__ADS_1
Keempatnya segera menikmatinya dengan penuh sukacita. Kedua anak kembar sangat senang sekali, karena selama hidupnya, baru merasakan nikmatnya memakan daging rusa bakar.
Bersambung.....