Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
30. Adik Angkat


__ADS_3

Kereta kuda hampir sampai di Kota Metropolitan Garuda Kencana, dua ratus meter sebelum pintu gerbang kota, Arya berpisah dari rombongan bangsawan itu. Dia tidak ingin identitas dirinya diketahui, setidaknya rombongan itu akan tau setelah di pos penjagaan, karena para penjaga di Pos Pemeriksaan pada mengenali wajah Arya sebagai Penguasa Agung.


"Tetua, aku turun disini saja. Terimakasih atas tumpangannya," ucap Arya, menangkupkan kedua tangannya di dada, sambil membungkuk.


"Lha, kenapa turun disini? Katanya mau ke kota Garuda Kencana, sebentar lagi kita akan sampai di Kota." Pria bangsawan itu heran.


"Ada keperluan yang lain dulu Tetua. Selamat jalan Tetua," jawab Arya.


"Ya, sudah kalau begitu."


Rombongan bangsawan itu melanjutkan perjalanannya, menuju kearah gerbang Kota, walaupun dirinya sedikit heran melihat tingkah Arya, namun dia tidak terlalu memikirkan seorang anak muda, yang dianggapnya sebagai petualang biasa.


Di Gerbang masuk kota, banyak orang mengantri, menunggu giliran pemeriksaan. Ada tiga jalur pemeriksaan yang disediakan, jalur pemeriksaan untuk para pejalan kaki, jalur untuk yang membawa kuda, dan jalur khusus bagi yang membawa kereta kuda.


Rombongan bangsawan itu turut mengantri, menunggu giliran pemeriksaan, karena banyak pengunjung yang membawa kereta kuda.


Pria tua bangsawan, melihat ke Gapura Gerbang, diatasnya ada tulisan Selamat Datang Di Kota Metropolitan Garuda Kencana. Sebuah kota terbesar di Alam Dewa Agung Lapisan Bawah.


Giliran rombongannya yang diperiksa, pria tua itu turun dari kereta kudanya.


"Identitasnya, Tuan," pinta penjaga Pos Pemeriksaan, yang ranah kekuatannya rata-rata berada ditingkat Pendekar Dewa Surga tahap puncak, dan wakil Komandan Pos berada ditingkat Penguasa tahap awal, serta Komandan Pos Pemeriksaannya berada di ranah Penguasa tahap menengah.


"Sungguh sebuah kota yang Agung, dengan penjagaan yang sangat kuat," batin pria tua takjub.


"Dua koin emas untuk biaya masuknya, Tuan," ucap penjaga pos.


Pria bangsawan, memberikan tiga koin emas kepada penjaga pos.


"Tuan, ini kebanyakan," ucap penjaga.


"Selebihnya ambil untukmu," balas pria tua bangsawan, sambil berlalu dari tempat pemeriksaan.


"Terimakasih, Tuan."


Sungguh sebuah kota yang sangat besar dan megah, serta ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan dari seluruh benua.


Arya mengamati dari jauh, sekitar seratus meter dari gerbang. Dia tidak terburu-buru, karena masih ada waktu dua hari lagi, menjelang Pertemuan Tingkat Tinggi Tiga Benua.


Berbagai macam warna umbul-umbul dan bendera Tiga Benua, dipasang didepan gerbang masuk kota.


Banyak prajurit dari berbagai pasukan, diterjunkan untuk memperketat penjagaan, termasuk dari Pasukan Elit Rajawali Sakti dan Pemanah Beracun, untuk menjaga dan memantau situasi keamanan.


Banyak aturan yang harus ditaati oleh pengunjung kota, yang pertama tidak diperbolehkan memakai topeng, jika melanggar akan dianggap sebagai penjahat atau gerombolan pengacau. Tidak diperbolehkan terbang di atas kota, jika melanggar akan ditangkap. Karena tidak menghargai Penguasa Agung alam ini.


Setelah puas mengawasi kinerja bawahannya dari jauh, Arya pun menghampiri mereka.


Tentu saja, semua prajurit yang berada di Pos Pemeriksaan terkejut, tiba-tiba Arya menghampiri mereka dengan berjalan kaki, tidak menggunakan Kereta Kencana, yang ditarik oleh empat kuda putih besar.


"Hormat kepada Penguasa Agung," ucap mereka bersamaan, sambil berlutut dihadapan Arya.


"Berdirilah, hormat kalian aku terima," balas Arya, tersenyum menatap para prajurit penjaga.


"Terimakasih, Penguasa Agung," balas mereka.


"Bagaimana situasi saat ini didalam kota?" Tanya Arya.


"Ramai sekali Penguasa Agung, sudah banyak yang berdatangan. Seluruh penginapan sudah dipenuhi oleh para pendatang. Tidak ada lagi yang kosong," jelas Komandan Penjaga Gerbang.


"Bagaimana dengan bangunan yang baru, untuk para tamu dari Tiga Benua?" Tanya Arya.


"Sudah digunakan Penguasa, bahkan tamu dari Tiga Benua sudah berdatangan," jawab Komandan Penjaga Gerbang. "Begitu juga dengan seluruh Mes Perwira dan Mes Prajurit Elit, yang baru selesai dibangun, sementara dipergunakan dulu untuk menampung para pendatang, yang tidak kebagian tempat istirahat ," tambahnya.

__ADS_1


Arya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti situasi didalam kota, dia tidak menyangka, bahwa kota yang dibangunnya, akan dipadati oleh para pendatang dan pengunjung dari berbagai penjuru benua.


Bahkan banyak para pendatang baru, yang pada tinggal di kota itu, kebanyakan para pedagang dan para pengusaha, yang membangun usahanya.


Para pengembang perumahan dari berbagai benua, turut menginvestasikan dananya di kota itu, sehingga banyak bermunculan perumahan mewah bergaya arsitektur modern.


Perkembangan dan peningkatan ekonominya, semakin hari semakin meningkat pesat. Sehingga Walikota Metropolitan Garuda Kencana, Tuan Danuarta, merekrut para pekerja baru untuk menangani berbagai bidang pekerjaan.


Arya benar-benar ingin membuat kota Garuda Kencana berkembang kearah masa depan, kearah modern, namun tidak melupakan budaya-budaya tradisional. Malah semua seni budaya tradisional, lebih dijaga dari kepunahannya. Dilestarikan dan dikembangkan untuk disuguhkan kepada para pengunjung dari berbagai benua.


Arya berjalan menyusuri jalan utama di kota metropolitan, mengenakan jubah hitam dan caping untuk menutupi identitas dirinya, agar tidak ada yang mengenalnya.


Dengan padat dan ramainya kota oleh pengunjung dan pedagang, membantu dirinya untuk tidak mudah dikenali.


Dia terus melangkah menelusuri jalan-jalan utama, sepanjang jalan penuh dengan pertokoan dan para pedagang kaki lima.


Berbagai macam dagangan digelar disepanjang jalan, oleh para pedagang kaki lima, hingga membuat jalanan sedikit menyempit.


Cara penataan kota metropolitan yang kurang baik, tidak menggambarkan kota yang bersih, indah dan nyaman. Tidak sesuai dengan harapan Arya, membuat kota yang besar dan megah, tapi nyaman, aman, indah dan bersih. Tidak semrawut seperti saat sekarang ini.


Satu persatu daerah dan wilayah di kota metropolitan, dalam sehari dipantau langsung oleh Arya, satupun tidak ada yang terlewati.


"Nanti aku sendiri yang harus turun, untuk membenahi kota yang semrawut ini," batin Arya.


Disudut jalan utama, yang dipenuhi oleh para pedagang, ada seorang bocah perempuan sedang mengemis, sambil menahan perutnya karena sangat lapar.


Arya segera menghampiri anak perempuan itu.


"Tuan, kasihanilah aku, Tuan," ucap memelas bocah perempuan, sambil menengadahkan tangannya kepada Arya.


"Adik kecil, kemanakah kedua orangtuamu?" Tanya Arya, sambil menatap bocah perempuan.


Anak perempuan itu menggelengkan kepalanya, sambil berkata. "Aku sudah tidak punya orangtua, bahkan semua saudaraku, juga tidak pernah peduli. Aku sepertinya dibuang ditempat ini oleh keluarga saudaraku, yang semula mengajakku ke kota ini, tapi mereka pergi meninggalkan aku sendiri disini" ucap bocah perempuan menangis.


"Sudah lima hari, Tuan. Aku mengerti mereka membuang ku disini, karena aku dianggap seorang anak pembawa sial, yang tidak punya kekuatan apa-apa. Aku oleh keluarga, dianggap sebagai sampah yang mengotori seluruh keluarga," jelas bocah perempuan, terisak-isak menangis.


Deg.... Hati Arya teringat kemasa-masa dimana dulu dia dibesarkan, sama seperti Mawar tidak diakui oleh saudara-saudaranya, bahkan dianggap sebagai pembawa sial. Semua kenangan sewaktu kecil, terbayang jelas didalam pikirannya. Lalu Arya menatap Mawar dengan senyuman iba dan penuh kasih.


"Siapa nama adik?"


"Mawar, Tuan," jawabnya.


"Maukah adik ikut dengan, Kakak."


"Kemana Tuan," jawab penasaran bocah perempuan, yang bernama Mawar itu.


"Ketempat yang jauh lebih baik daripada tempat ini. Dan mulai saat ini, adik harus memanggilku dengan panggilan Kakak. Mau kan?"


"Mau Tuan, eh kakak!" Mawar senang diajak oleh Arya.


Keduanya lalu pergi meninggalkan tempat itu, sebelum menuju ke Istana, Arya menyuruh Mawar untuk menunggunya sebentar.


"Tunggu sebentar ya, jangan pergi kemana-mana. Kakak mau jemput seseorang dulu," ucap Arya.


"Baik, Kak."


Arya berlalu dari hadapan Mawar, dan langsung menyelinap dibalik sebuah bangunan bertingkat.


Whuuss.....


Arya mengeluarkan Wulan dari dunia jiwanya.

__ADS_1


"Kak Arya, ada apa? Tiba-tiba Kakak memanggilku?" Tanya Wulan penasaran.


Arya menjelaskan apa yang tengah dilakukannya. Dia bermaksud mengangkat seorang anak perempuan, yang ditinggalkan oleh saudaranya. Semuanya diceritakan kepada istrinya.


"Sekarang anak perempuannya berada dimana?" Tanya Wulan lagi penasaran.


"Menunggu didepan gang," jawab Arya, sambil membawa Wulan kehadapan Mawar.


"Adik Mawar, ini Kakak Wulan," ucap Arya, mengenalkan Wulan pada Mawar, setelah berada dihadapannya.


Mawar menatap kearah Wulan, sambil berkata. "Kakak Wulan, aku Mawar." Mawar memperkenalkan dirinya pada Wulan.


"Iya, adik cantik," balas Wulan, memeluk Mawar senang memiliki adik kecil yang cantik.


Ketiganya meninggalkan tempat itu, dan langsung menuju ke Istana Putih Penguasa Agung. Mawar keheranan dibawa menuju ke Istana.


"Ini mau kemana, Kak?" Tanya Mawar penasaran.


"Kita menuju ketempat yang lebih baik, dari tempat yang tadi," jawab Arya, membuat Mawar lebih penasaran.


"Tenang saja adik Mawar. Kita akan masuk kedalam Istana. Adik Mawar jangan takut, nanti adik Mawar akan mengetahuinya," sambung Wulan, tambah membuat penasaran.


Ketiganya terus melangkah menuju gerbang Istana. Para prajurit penjaga, yang melihat kedatangan Arya beserta Wulan dan Mawar, langsung berdiri tegap, menyambut kedatangannya.


"Hormat kepada Penguasa Agung dan Penguasa Putri," sambut hormat para prajurit penjaga, yang terus berlutut dihadapan Arya.


"Berdirilah, hormat kalian aku terima," balas Arya, menyuruh mereka berdiri.


Mawar terkejut melihat adegan tersebut. Ternyata yang membawa dirinya, adalah Penguasa Agung seluruh benua, dan telah mengangkat Mawar menjadi adik Penguasa Agung dan Penguasa Putri.


Mawar terdiam seribu bahasa, tidak dapat berkata-kata. Hanya bersyukur didalam hatinya.


Ketiganya terus melangkah, memasuki Istana Putih Penguasa Agung, dan terus menuju ke Aula Istana.


"Salam Penguasa Agung dan Penguasa Putri," ucap semua bawahan Arya, berlutut ketika Arya beserta Wulan dan Mawar tiba di aula.


"Berdirilah, salam kalian aku terima. Dan perkenalkan, ini adik angkatku. Namanya adik Mawar. Dan mulai hari ini, kalian semua memanggil adik Mawar dengan panggilan Tuan Putri," ucap Arya, memperkenalkan Mawar.


"Baik Penguasa Agung," balas mereka bersamaan.


"Pak Ganjar, tunjukkan kamarnya buat adik Mawar. Dan urus semua keperluannya," perintah Arya tegas, kepada Kepala Istana Putih Penguasa Agung.


"Baik Penguasa Agung," jawabnya.


"Ayo Tuan Putri, aku tunjukkan kamarnya buat Tuan Putri," ucap Pak Ganjar, sambil membawa Mawar ke sebuah kamar yang cukup besar dan mewah.


"Bagaimana dengan persiapan Pertemuan Tingkat Tinggi Tiga Benua itu, apa ada kendala?" Tanya Arya pada semua bawahannya, yang berada didalam aula Istana Putih.


"Semuanya lancar Penguasa Agung, dan di Gedung Graha Pertemuan yang dijadikan tempat Pertemuan Tingkat Tinggi Tiga Benua, sudah selesai ditata, tinggal menunggu pelaksanaannya besok," ucap bawahan Arya menjelaskan.


"Baiklah, kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," ucap Arya, sambil beranjak dari tempat itu, dan langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat, diikuti oleh istrinya dari belakang.


Sementara Mawar, setelah berada didalam kamarnya yang mewah, dia sama sekali tidak pernah menyangka akan menjadi adik dari Penguasa Agung Seluruh Benua.


Bahkan selama hidupnya, belum pernah semewah yang sekarang dia dapatkan.


"Seperti dalam mimpi saja," gumam Mawar dalam batinnya, sambil menepuk-nepuk kedua pipinya yang terasa agak sakit.


"Ini nyata, bukan didalam mimpi," batinnya terus berkata-kata.


Tanpa disadarinya, linangan air mata menetes membasahi kedua pipinya. Antara haru, senang dan bahagia, bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Rasa bersyukur hinggap dalam hatinya, yang telah berjanji akan membantu semua orang-orang yang susah, yang seperti pernah dia alami, hidup susah terlunta-lunta dijalanan hingga kelaparan.


Bersambung.......


__ADS_2