Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Kejutan


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Kejutan🐝


***


Mata Citra melotot saat melihat siapa yang masuk ke dalam rumahnya. Ia mengendarkan pandangan, kemana orang-orang suruhannya pergi? Mengapa mereka tak muncul saat Citra sudah memberi kode seperti yang sudah mereka rencanakan.


Seharusnya orang-orang dengan baju hitam yang ia kenal bukan…. Polisi yang saat ini berada di depannya.


Citra gugup, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang agar tak mencurigakan.


Langit tersenyum sinis saat melihat gelagat Citra yang kebingungan. Jelas saja, rencana Citra berhasil Langit ubah.


“Its show time!” ujar Langit membalas ucapan Citra sambil menyeringai dan membawa Bumi untuk ia dekap.


Melepaskan kerinduan selama beberapa hari. Penat dan lelahnya terbayar sudah saat hangatnya tangan Bumi juga melingkar diperut Langit.


“Ada apa ini? kemana—“


“Orang suruhan anda? Tentu saja sudah lebih dulu mendekam di penjara,” jawaban Langit sontak membuat Citra terkejut. Ia meneguk saliva yang tercekat ditenggorokan.


“Atas nama Citra Putri Andara, anda ditahan atas tuduhan pembunuhan Ibu Wulan Anastaya dan juga putri dari Pak Bambang, Mini,” jelas seorang polisi sambil menyerahkan sepucuk kertas perintah penahanan pada Citra.


Citra mengambilnya dan mulai mengamati, berusaha untuk mengulur waktu.


“Apa ada bukti atas tuduhan mereka? Karena saya tak mungkin melakukan hal sekeji itu,” Tanya Citra dengan lantang meski tangannya sedikit gemetar.

__ADS_1


Bumi berdecih, karena baru saja Citra mengatakan bahwa ia yang telah membunuh Ibunya.


“Sudah banyak bukti yang mengarah pada Anda. Anda jangan mengelak karena anak anda juga sudah membuat pernyataan bahwa dia bersekongkol dengan anda,”


Citra kembali tersentak, ternyata Sakti sudah ditahan terlebih dahulu. Ia tak ingin di penjara dan mendekam di tempat gelap itu.


“Saya tak bersalah, Pak! Mereka berdua yang bersalah, bukan saya!” teriak Citra dengan lantang saat dua polisi membawanya. Citra memberontak dan tak mau ikut.


“Kalian dasar manusia-manusia menjijikan!”


“kalian akan menerima balasan!”


“Kalian memang tak pantas hidup!”


“Seharusnya saya bunuh kalian!”


Suara Citra perlahan menghilang saat memasuki mobil polisi. Di dalam mobil, Citra merutuki kegagalan rencananya.


Hening,


Bumi menunduk, tangannya saling bertautan. Ingin bertanya tapi juga takut.


“Langit!” ucap Bumi setelah menimbang.


“Apa benar Bunda—“


Ucapan Bumi terhenti saat tubuhnya di dekap erat oleh Langit. membenamkan kepala Bumi didadanya.


“Itu hanya masa lalu, Bumi. untuk apa membahas kejadian yang lalu. Yang hanya perlu lo ingat, Bunda adalah sosok yang baik yang rela bekerja keras untuk membahagiakan putrinya,”

__ADS_1


“Tapi—“


“Ssstttt. Lupakan yang lalu, jalani yang sekarang dan sambut yang akan datang,”


Bumi hanya diam, banyak yang ingin ia katakan tapi mengapa mulutnya terasa kelu.


"Ma-af!”


Tak ada sahutan dari Langit, cowok itu hanya diam dan perlahan melepaskan pelukan lalu menatap kornea Bumi yang berkaca-kaca.


“Maaf!” lirih Bumi lagi, entah mengapa kata maaf lebih dominan dipikirannya.


Ia merasa bersalah karena sempat berpikir jika kepergian Bunda karena hadirnya Langit. Bumi merutuki pikirannya yang sempit.


“Lo ga salah, yang penting lo aman sekarang!”


Langit menangkup pipi Bumi dengan kedua telapak tangan. Sengaja berlama-lama menatap wajah Bumi yang membuatnya candu.


“Tapi Langit marah sama Bumi!”


Langit menggeleng “Kata siapa?”


“Langit ga nemuin Bumi setelah Bumi meminta Langit buat pergi!”


“Gue ga nemuin lo bukan karna gue marah, Bumi. Gue lagi ngumpulin bukti buat nyeblosin mereka biar ga ganggu kita lagi.”


Bumi tak menyangka akan jawaban Langit,ia mengira jika cowok itu benar-benar pergi tapi nyatanya Langit justru melakukan hal diluar dugaan Bumi.


“Ayo!” ajak Langit setelah menghapus bulir yang menetes di pipi Bumi.

__ADS_1


“Kemana?”


“Nikah,”


__ADS_2