Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Coklat Sialan


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena kamu, Langit...


🐝Coklat Si-alan🐝


**


Suara sepatu dengan keramik putih bergesekan. Siswa-siswi berjalan menuju kelas masing-masing.


Tapi tidak dengan Bumi, pagi-pagi sekali gadis itu sudah nangkring di depan kelas Langit. Ingin menyapa sang pujaan sebelum mulai belajar, anggap saja asupan semangat sebelum berperang dengan fisika, biologi, kimia dan teman-temannya.


“Langit!” panggil Bumi saat cowok Cool itu berjalan dikoridor. Apa Bumi tak bosan terus-terusan manggil Langit. Langit yang punya nama saja sampai bosan.


“Bucin dimulai!” ejek Guntur saat Bumi melambai-lambai kegirangan seorang diri.


Guntur yang melihat saja bergidik ngeri, apalagi Langit.


Selatan yang sedari tadi berjalan sambil memainkan ponsel pun ikut menoleh.


“Gue kira usaha ga akan menghianati hasil, tapi nyatanya hampir 3 tahun hasil ga menampakkan diri,” Selatan melantur.


“Gue denger sih hasil dah ganti nama!” balas Guntur yang juga memang sejak dulu suka melantur.


“Jadi bang Jono?” Tanya Selatan.

__ADS_1


Guntur menggeleng “Bukan, kalo Jono udah pulang ke rumah Zazkia. Kalau si hasil gantinya jadi Bang Toyib,”


Selatan manggut-manggut, sepertinya Bang Jono takut dicerain sama Zazkia karena udah diancam dengan lagu.


Pembahasan absourd itu terhenti karena mereka sudah berada di depan pintu dengan Bumi yang sedang cengar-cengir, menampilkan gigi geliginya yang putih dan rapi.


Bumi menghadang Langit, jika Langit ke kiri maka Bumi juga akan ke kiri. Jika Langit melangkah ke kanan, maka Bumi juga akan melangkah ke kanan.


“Dance kpop mana nih?” Tanya Guntur sambil mengikuti gerakan ke kiri dan ke kanan. Asik juga, gerutunya. Iya, asik sebelum tatapan maut dari Langit.


“Ampun, Bos!”


Selatan mendorong Guntur agar segera masuk ke dalam kelas, sebelum satu tabokan mendarat di kepala.


Menyisakan dua insan yang dengan rasa yang berbeda. Satu cengar-cengir kegirangan, satu mengumpat-ngumpat kesetanan. Ingin Langit mendorong kasar Bumi, andai jika cewek itu berubah jadi laki-laki.


“Pergi sebelum gue bertindak kasar sama lo,” Langit menunjukk kening Bumi dengan telunjuknya. Membuat Bumi memejam sesaat.


“Woaahhhh,” Bumi menutup mulutnya membuat Langit menyerngit.


“Hebat, ini namanya kemajuan,” ucapan Bumi lagi-lagi membuat Langit bingung. Memang cewek aneh.


Bumi mengusap kening yang baru saja disentuh Langit lalu membawa jarinya ke indra penciuman. Wangi tangan Langit gumamnya.


Langit sampai bergidik ngeri dan lekas melangkah sebelum ia juga ikut-ikutan tidak waras.

__ADS_1


“Langit tunggu! Itu apa?” Tanya Bumi menunjuk telinga Langit yang sudah satu langkah berjalan. Langit terdiam, menaggapi. Cowok itu lalu menoleh.


“Itu ditelinga,” tunjuk Bumi lagi karena salah perkiraan dari Langit.


Langit mengusap telinganya, tak ada apapun. Telinganya bersih, bahkan masih tercium aroma sabun mandi yang pagi tadi ia pakai.


“Bukan disitu, tapi lebih ke belakang lagi,” instruksi dari Bumi dan entah mengapa Langit menurut saja.


Dan lagi, tak ada apapun. Langit mulai kesal.


“Lo bohongin gue, lo bakal nerima akibatnya,” Langit mengancam.


Bumi menggeleng “Ini, ada sesuatu,” Bumi mengambil sesuatu dari belakang telinga Langit. Menggenggamnya lalu mengarahkan tepat di depan wajah Langit.


“Ini,” tutur Bumi sambil membentuk jarinya menjadi bentuk hati dengan wajahnya yang tersipu merona.


Belum beberapa detik, Bumi menarik kembali tangannya lalu berujar “I feel like flying in the sky when you look at me. I hope the wind will the you how much I love you”


(Aku merasa seperti terbang ke angkasa ketika kau melihatku. Ku harap angin akan memberitahumu betapa aku mencintaimu)


Setelah berujar Bumi lari menjauh dengan wajah yang sudah memerah. Meskipun sudah sering menggombali Langit, tetap saja ia merasa malu. Kejadian kemarin terus saja berputar dalam memorinya.


Langit diam membeku, sepertinya ia lupa jika harus memberi perhitungan pada cewek kecil si lebah pengganggu. Dan Langit benar-benar merasa sedang dipelet.


Dasar, coklat si-alan

__ADS_1


__ADS_2