
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu Langit...
🐝Jadi Gimana?🐝
**
“Bu-Bumi….”
Bugh, satu bogem mendarat di wajah Aldo. Aldo terhunyung mendapat serangan yang tiba-tiba.
Bumi berteriak karena kaget, bahkan kantin sekarang semakin hening. Bakal jadi bahan gibah terbaru, begitu piker mereka.
Bumi berdiri dengan tiba-tiba lalu menoleh seseorang yang telah membuat sudut bibir Aldo berdarah.
Degh, Langit. Cowok itu menatap sengit ke arah Aldo. Bumi sampai tak percaya, ia beberapa kali mengucek ke dua bola mata.
“Sialan! Mau lo apa anjng” umpat Aldo.
Perlahan beranjak berdiri meski kepalanya mendadak terasa sakit.
“Jadi gimana?” ucap Langit terdengar mengejek.
Aldo menyerngit heran lalu “ Ha ha ha,” tawa Aldo terdengar mengerikan “Kenapa lo ga trima. Bukannya dia bukan siapa-siapa lo?”
“Bukan urusan lo, yang jelas jauhin dia!” tunjuk Langit pada Bumi. Ucapannya seakan perintah yang harus dituruti.
__ADS_1
Bumi menelan saliva dengan susah payah, hampir tak percaya jika di depannya adalah Langit. Ingin bersorak senang karena seakan Langit cemburu, tapi situasi tak memungkinkan.
“Munafik lo!”
Aldo ingin memberi pelajaran pada Langit, tangannya sudah melayang. Namun bukan tamparan atau pukulan yang ia berikan, justru malah ia yang menerima satu bogem lagi dari Langit. Ralat bukan satu atau dua lagi, tapi berkali-kali.
“Untuk lo karena udah berani ganggu dan pegang cewek gue!” bisik Langit tepat ditelinga Aldo. Dan member satu pukulan lagi pada perut Aldo. Anggap saja sebagai penutup.
Langit berdiri dan menarik lengan Bumi yang masih membeku memahami situasi. Meninggalkan Hujan dan seisi kantin yang juga masih ngelag ditempatnya.
Langit menyeret Bumi ke sudut ruangan kelas yang tak berpenghuni. Mengukung cewek itu dengan kedua tangannya.
“Jangan mau dipegang-pegang sama cowok lain!”
“Ke-kenapa?” Tanya Bumi dengan suara yang bergetar karena gugup.
“Emang Langit siapanya Bumi? sesuka hati larang-larang Bumi. Bumi bukan anak kecil, Bumi jug…”
Bumi terdiam saat jari telunjuk Langit menyentuk bibirnya.
“Ssttttt, gue ga suka dengar lo ngomong gitu. Lo milik gue, milik Langit Shankara Bramantio” tekan Langit dan membawa Bumi ke dalam pelukannya. Mengusap-usap puncuk kepala Bumi dengan lembut.
Bumi senang bukan kepalang, dan dengan senang hati membalas pelukan Langit.
Menciumi aroma maskulin dari tubuh Langit. Mendungsel dan…. Ada yang aneh
Pergerakan Bumi terhenti saat ada sesuatu menusuk wajahnya, seperti helaian rambut. Rambut siapa? Bukankah rambutnya sedang ia kuncir.
__ADS_1
Bumi melepaskan pelukanya lalu menarik ujung rambut, bukan rambutnya.
Bumi menengadah wajah Langit.
Aaaaaaa teriak histeris Bumi, karena wajah Langit mendadak keriput dan wajahnya ditumbuhi jenggot serta kumis yang panjang, hingga menyentuh dada.
Aaaa, Bumi kembali berteriak.
“Bumi..Bumi..bangun nak,”
“Bumi, kamu kenapa? Mimpi buruk?”
Bumi membuka mata, sosok wanita cantik yang sering ia panggil Bunda berada tepat di depannya.
“Bunda!” panggil Bumi pelan. Mengamati sekitar. Kelas berubah menjadi kamar tempat ia beristirahat. Wajah tua Langit berubah menjadi wajah Bundanya.
"Mimpi buruk?” Tanya Bunda lagi. Bumi menggeleng kecewa. Ternyata hanya mimpi. Entah dibilang mimpi baik atau buruk. Terlalu sulit untuk dideskripsikan.
“Bangun, kamu kesiangan. Walaupun hari libur, bangun paginya jangan libur dong!” oceh Bunda sambil membuka tirai kamar yang langsung menampakkan pemandangan pohon hijau.
Bumi termenung sesaat sebelum satu jeweran mendarat ditelinganya.
“Mandi, bukannnya bengong!”
“Aw..aww. Iya Bunda yang cantik sejagat raya,”
Bumi melenggang masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk dengan raut wajah yang lesu.
__ADS_1
“Jadi gimana?” tanyanya pada pantulan kaca.