Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Salah Harap


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Salah Harap🐝


***


“Kamu dengar Bumi ga sih? Telinga kamu ga berfungsi?”


Guntur dan Selatan menelan Saliva. Menatap Langit, Siti Kusmini dan Bumi bergantian.


Sedang Bara dan Langit masih bersikap tenang seolah tak melihat ada api yang sedang berkobar.


“Loe ngomong sama gue?”


“Emang disini adalagi ya yang namanya tikus?”


“MINI, panggil gue MINI!” tekan Siti Kusmini.


“Mini? Mini ogah,”


“Bumi, kita makan ditempat lain aja yuk?” ajak Hujan, ia takut Bumi melakukan hal nekat.


Sekilas Hujan juga melirik Bara yang sedang menatap mereka. Hujan tremor dibuatnya.


“Kayanya loe perlu diruqiyah deh biar ga ngamuk-ngamuk ga jelas kaya gini,” Siti Kusmini mengambil segelas air lalu menyiram wajah Bumi sampai seisi gelas habis tak bersisa.


Bumi terhenyak, wajahnya seragamnya basah. bukan hanya itu, seisi kantin sekarang sedang memperhatikan sambil berbisik-bisik.

__ADS_1


“Kamu…”


“Bum, mending loe bersihin seragam loe dulu deh,” ucap Guntur yang merasa kasihan dengan penampilan Bumi. Tapi gadis itu tak beranjak dari tempatnya.


“Hujan!” bisik Guntur mengkode untuk membawa pergi Bumi yang sedang berbalas tatap dengan Siti Kusmini. Hujan mengangguk.


Sebelum Hujan berhasil membawa Bumi pergi, satu tangan Bumi telah menggapai gelas minum yang entah punya siapa. Yang jelas sudah terletak di atas meja.


Dan byuuurrr


Bumi menyiram gelas beserta isinya ke arah Siti Kusmini.


“Langit,” panggil bumi setelah cairan teh salah sasaran. Hati Bumi rasanya teriris. Langit telah membawa tubuh Siti Kusmini dibelakangnya. Laki-laki itu berperan sebagai tameng.


“Sudah puas?” Tanya Langit tajam.


Bumi menggeleng bukan ini yang ia mau.


Tangan Bumi mengulur wajah Langit, ingin membersihkan wajah tampan cowok itu.


Auuuu, rintih Bumi. Ia meringis saat tangannya di tepis kasar.


“Bisa ga lo pergi dari sini!” teriak Langit dengan lantang.


Bumi menggeleng, “Bumi bantu bersihin wajah Langit,” ucap Bumi lemah.


“Ga usah kasar bisa?” Hujan angkat bicara. Tak terima jika sahabatnya dilakukan dengan kasar.


“Gue capek tiap hari dibrisikin loe mulu. Gue capek dikejar-kejar terus sama loe. Berhenti jadi cewek kegatelan dan stop jadi cewek murahan!” ucap Langit tanpa berdosanya.

__ADS_1


“Bumi bukan cewek murahan. Bumi Cuma suka sama Langit, dan Bumi kaya gini juga Cuma sama Langit,” Bumi membela diri.


“Tapi lo ganggu gue dan gue muak dengan sikap lo yang seolah-olah lo punya peran dalam hidup gue!” ucap Langit menggebu.


“Bumi, udah yuk. Kita cari makan ditempat lain. Gue lagi pengen makan cimol deket perempatan,” ajak Hujan sebelum kata-kata menyakitkan kembali keluar dari mulut Langit. Hujan tak sanggup, bahkan hanya mendengar.


Hujan melirik ke arah Bara, laki-laki itu focus pada ponselnya, seolah kejadian disekitarnya adalah hal yang biasa. Beda dengan Selatan dan Guntur yang terlihat tegang dan rasa iba pada Bumi.


Bumi menggeleng, bahkan tarikan dari tangan Hujan ia tepis.


“Bumi hanya ingin Langit tahu kalau Bumi peduli sama Langit,” Bumi kembali berujar.


“Tapi gue ga suka dan gue benci sama lo!”


“Langit kok ngomongnya gitu sih?”


“Pergi dari hadapan gue sekarang!”


Bumi masih diam ditempatnya, tak ada niat untuk beranjak.


“Gue bilang pergi dari hadapan gue SEKARANG!” teriak Langit memenuhi ruangan kantin. Bahkan siswa-siswi yang menonton merasa tegang.


Rasanya sakit dan begitu sesak, air mata Bumi tumpah mengalir di pipi. Tak ia usap, karena tenaganya seakan hilang. Pandangan Bumi turun perlahan pada lengan Langit yang sedang di dekap erat Mini. Tak ada penolakan dari laki-laki itu.


Salahkah Bumi jika berharap Langit juga bersikap seperti itu padanya?


“Tunggu!”


Panggil Langit saat Bumi ingin membalikkan bandan. Lengkungan terbit dibibir Bumi. Ia yakin Langit ingin meminta maaf.

__ADS_1


“Jangan pernah lagi lo sentuh motor gue,”


Langit melemparkan sebuah sticker yang sudah tak berbentuk karena remasan.


__ADS_2