
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Rumah Sakit 2🐝
***
Bumi menunduk setelah mendorong tubuh Langit hingga tercipta jarak diantara mereka. Bingung harus bertindak seperti apa?
Jika terus berhadapan dengan Langit rasanya Bumi tak sanggup jika harus menjauh. Bukan Bumi yang punya daya tarik, justru Langit yang seperti punya tali untuk mengikat.
Sekali lagi Bumi mendongak, menelisik reaksi wajah Langit. cowok di depannya itu hanya diam dan menatap Bumi dengan intens.
Tak ada raut kecewa ataupun tak suka. Langit selalu mampu menyimpan ekspresi dibalik wajahnya yang tampan.
“Kita obati dulu luka lo!” titah Langit saat melihat siku Bumi yang berdarah.
Bumi menggeleng, ia tak mau meninggalkan tempat ini walau sejenak.
Langit menghela napas, lalu melepaskan slayer yang terikat dipergelangan tangannya lalu mengikat disiku Bumi untuk membabat luka tersebut.
Setelah mengikat slayer ditangan Bumi, Langit memandang wajah Bumi membuat Bumi memalingkan wajah dengan cepat.
__ADS_1
“Bu Bu-mi—“ perkataan Bumi terhenti saat pintu ruangan Bunda terbuka. Beberapa perawat terlihat lalu lalang, beberapa ada yang keluar masuk membuat Bumi panik dan segera menghampiri.
“Ada apa sus? Apa terjadi sesuatu dengan Bunda?” Tanya Bumi dengan wajah yang kembali memerah.
Netranya memandang suster dengan penuh harapan. Ya, berharap jawaban baik-baik saja yang ia dengar.
“Kita doakan yang terbaik! Dokter sedang menangani keadaan pasien,” jawab Suster lalu beranjak pamit dengan langkah yang tergesa.
Dari belakang, Bumi merasakan jika ada yang menahannya. Tentu saja itu Langit, dengan sigap cowok itu menahan tubuh Bumi yang hampir kehilangan keseimbangan.
Langit menuntun Bumi untuk duduk dikursi tunggu karena ia ingin mengangkat telpon.
Respon Bumi hanya diam dan memandang punggung Langit yang sedikit menjauh.
Langit memang tau siapa dalang dibalik kejadian itu, namun ia harus menemukan bukti yang kuat.
Sakti, nama yang terlintas dan Langit yakini.
Langit meminta cctv depan toko ice cream yang Bunda dan Bumi kunjungi sebelum kecelakaan. Atau toko sepatu yang berada di samping toko ice cream. Langit sigap dan ia tak boleh kecolongan.
Gimana?
Tanya Langit saat menggeser tombol hijau dan meletakkannya ditelinga kanan.
__ADS_1
Gue sama teman yang lain udah periksa cctv ditempat kejadian, tapi—
Kalimat Guntur menggantung, mulutnya kaku takut jika semakin membuat Langit murka.
Katakan!
Rekaman saat kejadian tiba-tiba hilang, ada yang menyabotase dan menghilangkan rekaman tepat pada saat kecelakaan Bundanya Bumi, rekaman toko ice cream, sepatu dan toko baju yang berada dekat dengan tkp semuanya hilang!
Jelas Guntur, anggota Artas telah menyelidiki dan hasilnya sama. Rekaman hilang tak berbekas.
Rahang Langit mengeras, ia meremat ponsel dan ingin sekali membanting benda itu. Ia terlambat, dan mereka kecolongan.
Langit menutup mata dan berusaha bersikap tenang di depan Bumi. ia tak boleh semakin membuat Bumi cemas.
Langit menarik napas dan menghembuskan perlahan. Perlu beberapa kali karena emosinya memuncak.
Langit berbalik dan ia mendapati Bumi sedang menhampiri dokter yang telah berada di ambang pintu. Melihat itu, Langit juga ikut menghampiri.
“Bagaimana keadaan Bunda saya, Dok?” Tanya Bumi dengan wajah yang pucat. Jantungnya berdetak tak karuan.
Bumi memasang telinganya dengan tajam, berusaha mendengarkan setiap patah kata yang dikatakan oleh sang dokter.
“Maaf, kami telah berusaha melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain!”
__ADS_1