Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Bioskop


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Bioskop🐝


***


Panas yang terik tak menyurutkan semangat Bumi, karena hari ini ia dan Langit akan pergi nonton KKN di desa penari. Katanya film tersebut lagi boming-bomingnya dan Bumi sangat penasaran.


Sepulang sekolah, Bumi dengan cepat bersiap. Mencari baju terbaik yang ia punya. Memakainya dengan yakin dan tak lupa memoles make up tipis.


Tak berselang lama, Langit datang dengan mengendarai mobil. Bumi yang sedari tadi duduk di kursi depan rumah segera beranjak dan bersiap menyambut Langit.


“Tumben pakai mobil? Kenapa ga pake motor aja, biar romatis,” rengek Bumi. jika mereka pergi dengan mengendarai mobil, Bumi jadi tak bisa memeluk Langit.


Readers, tolong getok saja kepala Bumi. otaknya selalu melenceng kalo sama Langit.


“Biar lo ga kepanasan,”


Eh! Biar Bumi ga kepanasan. Oh Langit ternyata perhatian. Bumi saja berpikir tak sampai kesana.


Hati, jiwa dan raga Bumi masih saja tak terbiasa. Selalu berdetak lebih kencang jika Langit mengeluarkan jurus. Bumi tak mampu menghalang membuatnya serasa ingin terhempas.


“Jalan sekarang?” Tanya Langit sembari membetulkan tas yang tersampir dibahu Bumi sedikit melorot.


“Cantik,” lirih Langit dengan pelan, saking pelannya bahkan Bumi tak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Langit.

__ADS_1


Hanya gumaman tertahan yang Bumi dengar.


“Langit bilang apa tadi?”


“Bunda mana?”


“Oh Bunda, Bunda lagi ke warung. Kata Bunda langsung pergi aja, Bunda mau ngobrol bentar ama ibu-ibu komplek,” jelas Bumi mendapat anggukan dari Langit.


Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir dihalaman.


Mobil dengan roda empat milik Langit sudah sampai diparkiran mall. Tak sulit bagi Langit untuk menjajarkan mobilnya bersama mobil-mobil mewah lainnya.


Turun dari mobil dan mereka menuju tempat bioskop. Membeli pop corn dan minuman dingin juga tak dilupakan.


Jujur saja, ini pengalaman Bumi nonton dibioskop. Karena dulu, ia hanya nonton drakor diponsel. Itu pun jika kouta lagi banyak.


“Tempatnya bagus,” bisik Bumi pada Langit yang hanya terkekeh. Mereka telah duduk dikursi sesuai nomor yang tertera ditiket.


“Lo suka?”


“Suka benget,” Bumi mengangguk antusias sambil mengamati sekitar.


Tak malu, karena Langit telah mengetahui karena ini pertama kalinya Bumi menginjakkan kaki di tempat bioskop.


“Mau gue beliin?”


“Apanya?” Tanya Bumi beralih menatap Langit.

__ADS_1


Beli apa? Bukannya mereka sudah membeli pop corn dan juga minuman. Sekarang beli apa yang Langit tawarkan?


“Bioskopnya, mau gue beliin buat lo?”


Bumi melotot, beli bioskop kaya beli permen.


“Mau?”


Bumi menggeleng dengan cepat, bisa-bisa jantungan Bunda jika tahu Langit membelikan Bumi bioskop. Lagipula apa kata oang komplek jika mereka punya bioskop, sedangkan penghasilan Bunda tak seberapa.


“Kenapa? Nanti bisa buat kita nonton, cuma berdua,” Tanya Langit sambil menggoda.


Cuma berdua, kata-kata Langit memang menggiurkan. Tapi… stop Bumi.


“Nanti Bumi dikira nuyul atau nyuri uang segepok sama orang-orang komplek, kan ga lucu. Masa Bumi yang baik hati malah dikira maling,”


“Bukannya bener ya?” Langit semakin gencar menggoda Bumi.


“Langit ngada-ngada ya? Mana Mungkin Bumi nyuri. Mana buktinya?”


“Ini buktinya ada dan nyata. Di depan lo?”


Di depan? Di depan Bumi hanya ada Langit.


“Langit?”


“Iya, lo nyuri hati gue,”

__ADS_1


__ADS_2