
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Bunda🐝
***
Meski kata-kata Langit kembali terngiang.
Ancaman
Gue ancaman buat lo!
Ancaman seperti apa yang Langit maksud.
Bumi tak ingin mencari tahu, karena ia yakin jika waktunya tiba maka Langit akan bercerita dengan sendirinya. Cukup jalani apa yang ada didepan mata.
Memang lebih baik seperti itukan? Daripada harus memikirkan sesuatu yang belum terjadi.
Hari ini Bumi berbenah dapur, karena sore Langit ingin berkunjung dan mereka akan membuat kue coklat bersama.
Tentu saja atas keinginan Bumi. awalnya Langit menolak, namun wajah memelas Bumi membuat Langit mengiyakan.
__ADS_1
Beberapa bahan sudah mereka beli sewaktu pulang sekolah. Sekarang Bumi sudah rapi dan wangi. Rambutnya diikat kuncir kuda. Drees rumahan dibawah lutut Bumi kenakan dengan motif bunga-bunga warna pink.
Sembari menunggu Langit, Bumi sempatkan untuk membantu sedikit pekerjaan Bunda.
Wanita yang telah melahirkannya itu tak kenal lelah dalam mengais rejeki. Bumi sering kasihan, namun Bunda selalu berkata jika ia baik-baik saja.
Faktanya, orang tua tidak akan mau merepotkan anak-anak mereka.
“Bunda jangan terlalu lelah, nanti sakit,”
Bumi memotong kain dengan pola yang sudah diberi garis dengan pensil sedang Bunda sibuk dengan mesin jahitnya.
Beberapa potong baju yang sudah jadi tergantung dengan indah. Dan ada beberapa juga yang sudah dibungkus dengan plastik.
Bumi memandang lekat-lekat wajah Bunda yang sudah mulai timbul guratan-guratan kecil. Bunda bisa saja mengatakan hal demikian, tapi Bumi yakin jika raga Bunda pasti lelah.
“Maaf, Bumi jarang bantuin, Bunda. Bumi sering buat Bunda susah,”
“Kamu ngomong apa sih?”
Bunda menghentikan kegiatannya dan beralih menatap putrid semata wayang yang telah ia urus sendiri sejak berumur 4 tahun.
Ayah Bumi telah meninggal dunia karena penyakit jantung. Dan Bunda tak sedikitpun ingin menikah lagi. Baginya hidup bersama Bumi saja sudah cukup.
__ADS_1
“Bumi anak Bunda. Tak ada anak yang buat orang tuanya susah. Saat anak dilahirkan, maka orang tua bertanggung jawab sepenuhnya akan kebutuhan anak,”
“Buat susah? bukannya anak tak pernah meminta untuk dilahirkan kedunia. Justru orang tualah yang menginginkan anak mereka lahir,”
Bunda mengelus puncak kepala Bumi lalu kembali berujar “Bumi adalah hadiah terindah yang pernah Bunda terima,”
“Bumi janji, akan jadi anak yang membanggakan buat Bunda,”
Bumi terisak, mendadak hatinya menjadi mellow.
“Kok nangis, udah cantik gini masa nangis sih. Nanti kalo Langit datang masa Buminya berantakan. Kan malu,”
“Iiiiih, Bunda!”
Bumi memeluk erat tubuh Bunda. Si manja tetaplah si manja, yang suka merengek dan bangun kesiangan.
Di ruang tamu, Langit mematung. Dadanya mendadak sesak saat mendengar obrolan Bumi dengan Bunda.
Ia telah sampai beberapa menit yang lalu setelah memberitahukan pada Guntur dan Selatan mengenai hubungannya dengan Bumi. Sekaligus juga meminta mereka untuk menjaga Bumi.
Langit sudah beberapa kali mengetuk pintu depan yang telah terbuka, namun Bumi ataupun Bunda tak menyahuti, itu sebabnya Langit masuk saja.
Saat telah sampai diruang tamu, Langit mendengar obrolan Bumi dan Bunda.
__ADS_1
Langit mengurungkan niat untuk melangkah dan berbalik menuju pintu utama. Menutup perlahan lalu mengetuknya dengan sedikit keras.