Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Gombal Jungkir Balik


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Gombal Jungkir Balik🐝


***


Setelah barisan bubar, Hujan langsung menatap Bumi dengan tajam. Apa Bumi tak menganggapnya sebagai sahabat sehingga Bumi tak bercerita?


Hujan menggait lengan Bumi dan membawa cewek itu bergegas masuk ke dalam kelas.


Mereka duduk dikursi masing-masing, wajah Hujan semakin menunjukkan jika ia tak sabar mendengar cerita Bumi. Pun sama dengan Bumi yang juga tak sabar ingin menceritakan betapa romantisnya Langit.


Bumi memulai cerita saat pesta terjadi. Saat itu memang Hujan tak ada karena lagi-lagi ia pergi ke luar kota. Lalu keesekon harinya, saat Bumi ingin menemui Aldo dan tak sengaja bertabrakan dengan Langit. Sikap Langit semakin berubah, pun disaat pulang sekolah saat Langit mengantar Bumi.


“Hah, yang bener, jangan bohong!” histeris Hujan saat mendengar cerita Bumi saat Langit menemuinya di rumah dan mengajak pergi ke danau. Ditambah dengan cerita tali hodie semakin membuat keduanya cengengesan.


“Nih, Bumi contohin. Seperti ini,” Bumi memeragakan saat Langit membawa rambut Bumi ke belakang telinga.


“Aaaaa,” teriak keduanya bersamaan tak memperdulikan teman sekelas yang merasa terganggu karena teriakan melengking Hujan dan Bumi.


“Bumi sampai jedag-jedug. Jantung Bumi rasanya mau copot,” jelas Bumi sambil menggebu, mengingat betapa hatinya tak karuan saat itu.


“Trus gimana sama Mini?” Tanya Hujan saat menyadari jika beberapa hari yang lalu Mini selalu menempel dengan Langit.

__ADS_1


“Ga usah ngomongin orang lain. Hanya kita berdua, tak ada Mini atau siapapun itu, kata Langit” Bumi mengcopy kata-kata Langit yang sempat membuatnya meleleh.


“Maksudnya Langit Mini—“ Hujan memeragakan tanda x dengan kedua jari menyilang.


“Mungkin,” jawab Bumi sedikit memikir “Yang penting sekarang Langit sama Bumi,” tutur Bumi kembali.


Hujan memandang Bumi dengan tersenyum, Bumi beruntung pikir Hujan.


“Traktiran pedekatenya dong!” Hujan menyikut lengan Bumi dengan wajah yang memelas.


“Cilok Bang Mamat ya?” Hujan berujar kembali, entah pertanyaan atau pernyataan yang jelas Hujan memasang wajah penuh harap. Padahal dompet Hujan mampu membeli hingga sampai gerobaknya karena uang yang dimiliki Hujan seakan tak ada habisnya.


Tapi Hujan ini kalo diteraktir, kesenengannya minta ampun. Kaya orang yang ga punya duit.


Percurhatan berhentil saat Bu Mirna masuk. Pembelajaran Bahasa Indonesia pun dimulai.


Bel berbunyi,menandakan jika siswa dipersilakan untuk istirahat. Kali ini Bumi dan Hujan tak menuju kantin. mereka menuju cilok Bang Mamat yang berada di depan gerbang sekolah.


Tak apa, jika tak melihat Langit sewaktu istirahat. Bumi merelakan meski dengan berat.


^^^Makanan kesukaan Langit apa?^^^


Bumi mengirimkan pesan pada Langit. Mereka sudah duduk disebuah kursi yang disediakan Bang Mamat. Menunggu cilok dilumuri saos kacang.


Harus sabar karena peminat cilok Bang Mamat ini banyak bahkan sempat viral.

__ADS_1


Notif dari Langit muncul, tak menunggu lama tak seperti cilok Bang Mamat.


Bumi membuka aplikasi wa sambil nyengir ke Hujan. Dari Langit, ucap Bumi tanpa suara pada Hujan.


Opor


“Singkat banget balasnya,” Bumi merenggut sambil menunjukkan pada Hujan.


“Masa harus panjang. Jadinya oooooooooopppppooooorrrrr, gitu?”


Bumi menyengir, ternyata Hujan bisa melucu.


^^^Opor ayam?^^^


Bukan


^^^Terus opor apa?^^^


Opportunity to make you mine


(Kesempatan untuk membuatmu menjadi milikku)


OMG, Bumi memegang erat ponsel. Ia ingin berteriak andai saja jika tak banyak orang. Langit mampu menjungkirbalikkan dunia Bumi.


Dari mana Langit belajar cara menggombal seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2