Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Bumi-Sakti


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Bumi-Sakti🐝


***


Bumi tak lagi memberontak, rasa takut membuatnya untuk diam dan tak lagi bicara. Menurut saja saat diperintahkan untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah masuk, Bumi duduk diapit oleh laki-laki berbaju hitam tadi. Di depan juga ada dua orang yang sedang duduk dengan anteng.


Tubuh Bumi mendadak panas, bahkan ia berkeringat dingin padahal ac sedang menyala dimobil itu.


“Kalian siapa?” Tanya Bumi dengan suara tercekat.


Tak ada jawaban, mereka semua hanya diam. Bahkan pertanyaan Bumi hanya dianggap angin lewat.


“Bumi mau dibawa kemana?” Tanya Bumi lagi, otaknya penasaran. Ia tak bisa jika terlalu lama diam. Mulutnya akan terasa kelu jika harus diam terlalu lama.

__ADS_1


Ke empat laki-laki dalam mobil itu hanya diam, sesekali laki-laki yang duduk disamping kemudi itu menoleh lalu tersenyum sinis membuat Bumi bergidik takut.


Bumi ingin sekali mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tas. Namun tak bisa, karena tangannya diikat slayer hitam. Bumi sekarang merasa seperti sedang diculik. Tapi untuk apa? Bahkan uang Bunda tak akan cukup jika mereka meminta tebusan.


Sepanjang jalan, Bumi memperhatikan jalan yang mereka lalui. Bumi tak tahu jalan apa yang sedang mereka lintasi. Perumahannya terasa asing, Bumi tak dapat mengenali lingkungan yang mereka datangi.


“Turun dan jangan memberontak, jika lo masih sayang sama nyawa!” titahnya dengan kasar dan sangat dingin.


Tak ada ragu sedikitpun saat berujar hal menakutkan. Sayang nyawa? Seakan menghabisi nyawa seseorang adalah hal yang mudah bagi mereka.


Bumi kembali menurut dengan langkah ragu. Dorongan dari belakang membuat Bumi hampir tersandung.


“Jalan yang cepat!” laki-laki itu kembali memerintah. Bumi mengangguk sembari mempercepat langkahnya. Dalam hati, Bumi berharap jika Langit menolongnya.


Bumi memasuki rumah megah namun seperti tak berpenghuni, sangat sepi dan menakutkan bagi Bumi.


Dalam sebuah ruangan, Bumi dipaksa masuk. Ralat, bukan ruangan tapi layak disebut dengan kamar. Terdapat kasur, meja dan kursi disudut ruangan.


“Masuk!” perintah laki-laki itu dengan disertai dorongan karena Bumi seperti enggan untuk memasukinya.

__ADS_1


Bumi terjatuh, lututnya tersa perih. Belum sempat ia berdiri suara kunci diputar dari luar menandakan bahwa ia terlambat dan tak bisa keluar.


Bumi berusaha membuka pintu namun usahanya nihil. Bahkan ia berkali-kali menggedor-gedor pintu, pun tak ada sahutan dari luar.


Bumi teringat sesuatu, dengan tangan gemetar Bumi membuka ponsel dan mengirimkan lokasi pada Langit. berharap cowok itu untuk segera membukanya.


Klik, suara kunci kembali diputar. Dengan cepat Bumi menyembunyikan ponselnya ke dalam saku rok sekolah.


Bumi tak ingin mereka curiga dan mengambil ponselnya. Satu-satunya alat yang Bumi punya untuk memberitahukan dimana ia berada.


Pintu terbuka dan menampakkan sosok yang Bumi kenal “Hai adik ipar!” sapaan yang sama oleh orang yang sama, Sakti. Cowok itu masuk dengan gaya elegan dan tak lupa senyum licik yang ia terbitkan.


Bumi mundur saat Sakti melangkah mendekati setelah ia mengunci pintu kamar.


“Ga usah takut adik ipar! Gue Cuma main-main sebentar sama adik ipar kesayangan gue!” Sakti lagi-lagi maju mendekati Bumi membuat Bumi tersudut di dinding.


Sakti mengurung Bumi dengan kedua tangan, bahkan wajah Sakti sangat dekat dengan wajah Bumi. Bumi juga dapat merasakan deru napas Sakti.


Bumi memalingkan wajah saat Sakti berusaha mendekatkan kembali wajahnya.

__ADS_1


“Minggir!” Bumi berusaha mendorong tubuh Sakti yang semakin menghimpit.


“Gue penasaran, bagian tubuh mana yang pernah Langit coba?” Sakti memandang bibir Bumi lalu beralih turun semakin ke bawah.


__ADS_2