Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Ancaman


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Ancaman🐝


***


Bumi memandang punggung Langit. Pundak yang lebar itu seharusnya mampu ia raih. Ia ingin bersandar sambil bercerita. Ia ingin menjadikan Langit orang yang berharga setelah Bunda.


Tapi, Langit seakan memberi benteng yang tinggi, membuat Bumi sulit untuk menggapai. Tak sadarkah? Bumi telah melewati jalan berliku, berbatu yang kadang melukai.


Kamu tahu? Perasaan ku ke kamu itu nyata ketika waktuku lebih banyak ku habiskan untuk memikirkanmu daripada mengkhawatirkan diriku sendiri.


Perlahan, Bumi melihat punggung Langit semakin menjauh. Ia menggenggam erat telapak tangan sembari kembali mengingat perkataan Langit.


Gue itu ancaman buat lo!


Ucap Langit dengan lantang saat Bumi ingin membantu cowok itu membersihkan luka dibelakang kepala.


Jika menyukaimu adalah tantangan

__ADS_1


Bersamamu adalah ancaman


Dan mencintaimu adalah kesalahan


Lantas, apakah harap tak lebi dari sekedar angan?


Bumi perlahan masuk ke dalam rumah. Satu langkah, kamu bukan ancaman. Dua langkah, kamu bukan sebuah kesalahan. Tiga langkah, kamu itu sumber kebahagiaan. Bumi terus mengoceh sembari terus melangkah.


“Assalamualaikum, Bunda!” panggil Bumi saat membuka pintu. Lampu ruang tamu masih menyala, biasanya jika Bunda sudah tidur lampu ruang tamu akan dimatikan.


Bumi masuk perlahan sambil mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Terlihat Bunda sedang terlelap di atas sofa. Bumi yakin, Bunda pasti kelelahan. Wajah perempuan itu tetap terlihat cantik meski ada guratan dibeberapa bagian.


“Bunda, tidur ke kamar. Jangan tidur di sini, dingin, nanti Bunda sakit,” Bumi menggoyang pelan tubuh Bunda.


“Maaf Bumi buat Bunda khawatir,” Bumi memeluk Bunda. Si manja kesayangan Bunda menangis tersedu-sedu. Entah mengapa suasana hatinya sedang ingin menangis. Untuk apa? Bumi juga tak tahu. Yang jelas ia ingin menangis saja.


Bunda menyambut pelukan Bumi dengan hangat. Bunda yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi “Putri Bunda yang manis,”


**


Langit sudah sampai di markas, tempat mereka akan mengadakan rapat. Sudah ada beberapa anak Artas dan tentu saja ada Guntur, Selatan tak lupa Bara. 3 sohib tak terpisahkan, ralat 4 sohib jika ada Langit.

__ADS_1


“Gue udah tau siapa pengkhianat Artas,” ucap Langit membuka rapat kali ini membuat seisi markas takjub.


Pemimpin mereka memang hebat, bisa menemukai bangkai dengan cepat. Tak perlu diragukan lagi, kelihaian Langit memang patut diacungi jempol.


“Siapa orangnya Bos? Biar gue kasih pelajaran,” Selatan bersuara.


Langit mengeluarkan sebuah foto dari ponsel, membuat reaksi tak percaya dari anggota Artas.


“Sialan, dasar biadab!” umpat Guntur dengan emosi. Tak percaya jika pengkhianat ternyata selama ini adalah orang yang dekat dengan mereka.


“Bisa-bisanya dia jadi pengkhianat, dia ga tau sedang berhadapan sama siapa!” Selatan juga ikut menimpali.


“Kita harus beri dia pelajaran yang setimpal, biar dia tau kalo Artas tak pantas diremehkan,” anak Artas yang lain juga ikut bersuara.


Seisi markas sedang dipenuhi amarah yang berkobar, siapa menerjang dan menyerang mangsa.


“Kalian terus intai dia dan anggap seolah kita ga tau kalau dia adalah mata-mata Vargos. Tapi ingat, jangan sampai dia curiga,” titah Langit yang langsung diangguki oleh anggota Artas.


“Siap, bos”


“Sekarang rencana kita apa, Lang?” Tanya Bara setelah bungkam beberapa saat. Bara memang begitu sih.

__ADS_1


Langit tersenyum smirk, membuat beberapa anak Artas bergidik ngeri.


__ADS_2