
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Surat Ancaman🐝
***
Suara bel telah berbunyi, tanda jam istirahat dimulai. Akhirnya penderitaan dengan rumus-rumus berakhir sementara. Para siswa dan siswi berjalan menuju kantin untuk mengadu perut yang lapar. Sementara Langit, Bara, Selatan dan Guntur masih duduk anteng di dalam kelas. Ada sesuatu yang ingin mereka diskusikan.
“Sayang!”
Ke empat orang itu menoleh, memperhatikan cewek modis yang baru saja memasuki kelas.
Mini berjalan dengan anggun sambil melirik ke arah Priki dan gengnya yang juga belum ke luar kelas dengan tatapan memangsa. Lalu mengibaskan rambut yang ia tata rapi dengan gelombang.
“Sayang, aku laper! Ke kantin yuk?” Mini duduk di samping Langit dan menyandarkan kepala di bahu Langit.
Selatan mendengus dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Sungguh ia tak suka dengan pemandangan yang baru saja ia lihat.
__ADS_1
Kali ini ia sependapat dengan Bumi, Si Mini memang seperti ulat bulu. Tiba-tiba Selatan merindukan suara cempreng cewek itu.
Guntur juga kesal, acara rapat mereka kembali batal. Bara, tak ambil pusing, ia kembali memainkan ponsel.
“Ga jadikan? gue duluan. Males lama-lama disini, mending gue makan di kantin,” Selatan menegakkan tubuhnya lalu beranjak pergi. Ia mulai menampakkan rasa tidak suka pada Mini.
Guntur pun juga ikut-ikutan beranjak sambil berujar “Gue juga duluan. Lapar banget gue. Yuk, Bar!’” ajak Guntur pada Bara yang hanya mengangguk dan mengikuti langkah Guntur menyusul Selatan.
“Ih kalo mau ke kantinkan bisa sama-sama. Kenapa pada duluan sih!” Mini kesal, sambil menghentakkan kaki ke lantai saat punggung ketiganya menghilang.
“Sayang, kok temen kamu kaya ga suka sih sama aku? Emang aku salah apa sama mereka?”
“Katanya laper,” jawab Langit seadanya.
**
Gue bakal ancurin kehidupan seseorang yang lo sayang
Sepucuk surat yang ditulis dengan tinta merah tertulis di atas kertas yang kumal. Junai menemukan surat tersebut yang dibalut dengan batu besar di depan markas.
__ADS_1
Tangan Langit menggenggam hingga buku-buku tangannya memutih. Siapa orang yang sudah berani-beraninya mengancam Langit Shankara Brmantio dengan seseorang yang Langit sayang sebagai umpan. Dasar pengecut, umpat Langit dalam hati.
“Sepertinya ada mata-mata di sini, Bos!” Junai berpendapat, pasalnya ia tak melihat sesuatu yang mencurigakan hingga tiba-tiba sepucuk surat sudah teronggok di depan pintu markas. Tak mungkin surat jalan sendiri lalu bertamu ke markas mereka pikir Junai.
“Gue ga akan lepasin siapapun yang berniat jadi pengkhianat disini!” seru Langit dengan wajah yang memerah menahan amarah.
Dengan napas yang memberat, Langit mengamati satu persatu wajah di depannya.
Suasana hening, tak ada yang berani angkat bicara kalau Langit sedang marah. Bahkan meneguk saliva saja mereka tak berani, kecuali …
“Lo santai, jangan pakai emosi, tapi pakai ini,” tunjuk Bara pada kepalanya, hanya Bara yang berani memancing di air keruh, ha ha ha canda. Hanya Bara yang mampu menyela jika Langit sedang emosi.
“Gue ga akan maafin siapapun yang berani nyentuh walau seujung kuku hingga membuat orang yang gue sayang terluka,” teriak Langit kembali hingga menggema.
“Ingat, Lang. pakai otak jangan pakai otot,” jelas Bara kembali karena Langit tampak tak menghiraukan ocehannya.
“Kalo dia ga segan nyakitin orang yang gue sayang, gue juga ga segan buat nunjukin kemampuan otot gue,”
Otak Guntur mulai bereaksi, orang yang Bos sayang? Siapa? Apa Mini?
__ADS_1