
...Semeseta, Langit ingin menghentikan waktu, andai jika bisa. Ia ingin egois, memiliki Bumi seutuhnya. Membawa Bumi ke tempat teratas agar tak ada satu orang pun yang bisa melukai. Menjadikan Bumi ratunya. Membuat dunia berdua, hanya dengan Bumi. Menghapus jarak antara Langit dengan Bumi. Untuk kali ini saja, ia ingin egois, ia juga ingin…. Bahagia. ...
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Lebah Kecil dan Pak Kurir🐝
***
“Gue emang ga bisa romantis,” Langit membuka percakapan saat mereka sedang duduk di tepi pantai.
Menikmati pemandangan laut dengan mentari yang tak begitu menyengat karena tertutup awan.
Sedikit kelabu ditambah dengan air laut yang tenang.
“Tapi gue usahain selalu ada buat lo, berusaha buat jagain lo. Tapi lo harus janji buat selalu kabarain lo lagi dimana dan lagi sama siapa,”
Langit berujar penuh penekanan. Seakan apa yang ia ucapkan memang benar-benar penting.
Sebenarnya Bumi tak memahami mengapa kadang sikap Langit cuek dan kadang hangat dibalik ekspresi yang datar?
“Lo mau janji?” Langit beralih menatap Bumi. Meminta jawaban yang ingin ia dengar.
Dulu memang Langit tak mau melibatkan Bumi ke dalam kehidupannya yang rumit. Tapi setelah melihat Bumi dengan cowok lain, rasa tak rela memenuhi relung hati. Langit ingin egois, menahan Bumi disisinya dengan berjanji akan menjaga cewek itu semampunya.
“Apa sekarang kita—“
“Lo milik gue dan gue milik lo, seutuhnya.”
Langit mengambil tangan Bumi dan meletakkan diatas dada.
__ADS_1
“Lo masih belum ngerti?”
Bumi tercengang benarkah dengan apa yang sedang ia rasakan. Detak jantung Langit berdetak sangat cepat, seiring dengan detak jantung Bumi.
Apakah Langit juga merasakan apa yang Bumi rasakan?
“Langit juga berdetak sama kaya Bumi?”
“Hmm, gue juga gugup,” ungkap Langit menyemburkan rona merah dipipi Bumi. Jadi selama ini Langit juga gugup berada didekat Bumi, tapi cowok itu pandai menyembunyikannya.
Langit membawa Bumi ke dalam pelukan, mencium aroma rambut Bumi yang juga membuatnya candu.
Semeseta, Langit ingin menghentikan waktu, andai jika bisa. Ia ingin egois, memiliki Bumi seutuhnya. Membawa Bumi ke tempat teratas agar tak ada satu orang pun yang bisa melukai. Menjadikan Bumi ratunya. Membuat dunia berdua, hanya dengan Bumi. Menghapus jarak antara Langit dengan Bumi. Untuk kali ini saja, ia ingin egois, ia juga ingin…. Bahagia.
“Langit, ini apa?” pertanyaan Bumi menghentikan lamunan Langit. Cowok itu menoleh lalu tersenyum simpul. Tanda hati yang kembali Bumi buat dengan jari tangan.
“Hati,”
“Langit,” jawab Langit yang sedikit aneh karena menyebut namanya sendiri.
“Kalo hati digabungin sama Langit jadinya apa?”
“Milik Bumi seutuhnya,”
Jawaban Langit membuat Bumi tersipu, ia suka. Lalu kembali menghambur ke pelukan Langit. Menghirup aroma tubuh Langit dengan bebas.
“Gemes banget, punya siapa sih?”
“Punya Bumi,”
Aaaaaa, Bumi terjengkal, terjungkal, terguling-guling hingga terkayang-kayang. Iya, Langit punya Bumi. Perlu digaris bawahi. Atau perlu, diberi garis tebal. Oke, Bumi ingin mendengar lagi.
__ADS_1
“Ga dengar!”
“Punya Bumi,”
“Yang jelas,”
“Punya Bumi,”
“Sekali lagi, Punya siapa?”
“Bumi,”
“Iya, Sayang,”
Jawab Bumi sambil menutup wajahnya yang sudah memerah.
“Dasar lebah kecil,”
Jawab Langit yang juga tersipu tapi tidak dengan wajah memerah, karena yang merah justru telinganya. Langit mengusap telinga, berharap Bumi tak melihat.
“Kok lebah kecil sih, ga ada panggilan yang romantis apa? Kaya sayang, beb, ayang, my pacar atau mami papi,”
“Udah biasa, gue pengen yang ga biasa. Lebah kecil cocok buat lo yang suka ngoceh kaya suara lebah. Bikin telinga sakit,”
“Kalo gitu panggilan Langit Pak Kurir dong. Gimana?”
“Kok Pak Kurir?” Tanya Langit yang balik tak terima.
“Yang minta nomor pakai Pak Kurir, siapa?”
Bumi mentapa Langit sambil menggoda. Sekarang posisi 1-1. Langit juga harus terima.
__ADS_1
“Lebah kecil dan Pak Kurir,”