
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Hujan🐝
***
Bumi berjalan seorang diri dilorong sekolah, mengamati setiap siswa yang kebanyakan dari kalangan atas.
Terlihat dari brand pakaian yang mereka pakai.
Setelah membawa Langit ke uks, Bumi melangkah menuju kelasnya. Bumi sempat bertanya kenapa nomor Langit tak bisa ia hubungi tadi malam. Dan cowok itu hanya menjawab karena kehabisan daya dan ia lupa menaruh charger.
Bumi mengangguk meski dengan sedikit menjanggal. Ia berusaha percaya, bukankah pondasi dari sebuah hubungan adalah kepercayaan? Dan Bumi ingin mempercayai Langit.
Dalam kelas, telah banyak siswa yang sudah duduk dikursi masing-masing. bumi berjalan melewati dan berhenti dikursi yang ternyata belum ada Hujan yang duduk disampingnya.
Seharusnya Hujan sudah pulang dari liburan, jika pun ingin absen Hujan selalu memberitahu Bumi.
“Bum, konser yuk! Lama banget kita ga pernah ngonser lagi!” ajak partner konser Bumi dikelas.
__ADS_1
Sebelum-sebelumnya disaat jam kosong mereka selalu melakukan konser dikelas bersama. Namun, akhir ini Bumi tak pernah mau lagi diajak ngonser.
“Bumi lagi males, kamu konser aja sendiri! Bumi mau jadi penonton bayaran aja!” balas Bumi sambil mengetik sesuatu dilayar ponsel.
“Lo yang sekarang kok ga asik sih! Gue kesepian kalo harus konser sendiri!” gerutu cowok yang bernama Adit. Ia memasang tampang kesal.
“Mentang-mentang udah sama Langit, sekarang gue dikacangin!” Adit berjalan menjauh sambil menggerutu. Ia kembali menoleh Bumi yang tampak tak terganggu dengan ocehannya.
“Lo mau saingan sama Langit? ingat, ga akan bisa! Dari nama kalian aja udah keliatan jelas, lo kalah saing!”
Seorang cowok disamping Adit menimpali. Ia tau jika Adit menaruh rasa pada Bumi, itu sebabnya ia selalu mendekati Bumi dengan alasan ingin bernyanyi bersama.
“Usaha doang gue!” cibir Adit kembali.
Pesan yang Hujan kirim setelah Bumi bertanya mengapa cewek itu tak hadir ke sekolah.
Bumi mengantongi ponsel dan setengah berlari. Beruntung mereka sedang ada jam kosong karena Pak Ridwan sedang sakit.
Tak lupa Bumi juga mengirimi Langit pesan jika ia ingin menemui Hujan.
Bumi sempat bingung karena Hujan berada dilingkungan sekitar sekolah, tapi mengapa cewek itu tak masuk ke dalam kelas? Bahkan Bumi cukup terkejut karena Hujan tak memakai seragam sekolah.
__ADS_1
“Hujan kenapa disini? Kenapa ga pakai seragam?” Tanya Bumi yang baru saja mendudukkan tubuh dikursi.
Hujan tersenyum tipis dan mengambilkan Bumi sebotol air minum karena napas Bumi yang sedikit memburu.
“Terimaksih!” Bumi mengambil botol dan mulai meminumnya.
"Sekarang jawab pertanyaan Bumi, kenapa Hujan disini? Kenapa juga ga pakai seragam? Hujan membolos?” Tanya Bumi beruntun.
Hujan hanya diam, sorot matanya sangat sendu seakan ada sesuatu yang sedang ia pendam.
“Hujan jawab Bumi dong! jangan diam aja?”
Hujan menunduk lalu menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
“Ada yang mau gue omongin sama lo! Tapi janji lo jangan marah!”
Hujan menarik tangan Bumi dan menggenggamnya. Pun dengan Bumi yang langsung membalas genggaman Hujan.
“Kenapa Bumi harus marah sama Hujan? Hujan ga salah apa-apa sama Bumi!”
Hujan tersenyum tipis dan kembali berkata “Janji?” melepas genggangan lalu mengacungkan jari kelingking.
__ADS_1
“janji!” balas Bumi dengan anggukan dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Hujan.
“Gue mau pindah!”