
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Cukup Lihat Gue!🐝
***
Kegiatan rayu-merayu pun selesai karena lampu yang sedari tadi menyala sekarang padam dan hanya beberapa yang dinyalakan.
Suasana mulai senyap, siap untuk menonton film depan layar yang sudah berputar.
Bumi fokus menikmati film yang terus bergulir, sesekali juga menengok wajah Langit yang tetap terlihat tampan meski dengan penerangan seadanya.
Film berakhir, tubuh Bumi rasanya kaku karena terlalu lama duduk dengan damai. Merenggangkan tubuh, lalu Langit dan Bumi beranjak ke luar tempat bioskop dan menuju tempat makan.
Bumi membolak-balik menu yang ia rasa sangat asing. Ia terbiasa makan bakso di kantin atau cilok seberang sekolah.
Selebihnya hanya makanan warteg, itupun jika Bunda tak sempat memasak.
“Lo mau nyoba steak?” Tanya Langit yang terus memperhatikan raut bingung Bumi. matanya memicing memperhatikan setiap gambar makanan yang tertera.
__ADS_1
Bumi mengangguk, sepertinya tawaran Langit sesuatu yang enak. Karena ia sering melihat makanan tersebut di drama-drama.
Ah rasanya Bumi seperti sedang berada dalam dunia halu. Dan ia menjadi pemeran utama yang sedang jatuh cinta.
Stop, Bumi menghapus setiap renteten kejadian yang tiba-tiba menjadi sebuah film dalam pikirannya.
Bumi mengiyakan saat Langit memanggil pelayan lalu memesan 2 buah steak dan juga 2 gelas lemon tea.
Sembari menunggu pesanan datang, Bumi kembali meneliti dekoran disetiap dinding restoran yang bergaya klasik. Di dinding juga tergantung beberapa lukisan abstrak.
Hingga pandangan Bumi terhenti tepat pada seorang cowok yang sedang berdiri diatas dengan sebuah buket bunga mawar merah.
Bumi termanggu, tak terlalu mendengarkan apa yang cowok itu katakan pada cewek didepannya yang sedang tersipu.
“Will you marry me?” Tanya cowok itu sambil berlutut sambil mengarahkan buket bunga.
“Yess, I will!” ucap ceweknya dengan yakin dan segera mengambil buket.
Sorak sorai pelanggan yang sedang menonton pun memenuhi ruangan. Tampak riuh dan lumayan berisik.
Bumi ingin melihat lagi kejadian di depan sana, tapi ada sesuatu yang menghalangi pandangan Bumi seperti telapak tangan. kepala Bumi digerakkan oleh siapa yang entah Bumi tak tau.
__ADS_1
Langit, ternyata cowok itu yang melakukannya. Langit berpindah, yang awalnya duduk di depan Bumi sekarang berpindah duduk tepat di samping Bumi.
“Jangan liat cowok lain!”
Jangan lihat cowok lain? Bumi menganalisis kata yang baru saja Langit katakan. Maknanya persis seperti waktu pesta ulang tahun Selatan.
“Kenapa? Apa Bumi ga pantas?” Tanya Bumi dengan sedikit menekuk dahi. Itu kesimpulan yang ia buat sewaktu Langit mengatakannya pertama kali.
“Ada gue! cukup lihat gue!”
Bumi tersenyum puas, ternyata selama ini perkiraannya salah. “Bumi hanya liat Langit! Ga ada cowok lain yang mampu buat Bumi berpaling dari Langit. Langit ingat, Bumi pernah bilang kalo Bumi akan narik Langit semampu Bumi agar Langit suka sama Bumi?”
Langit mengangguk,
“Tapi Bumi salah, Bumi ga mampu. Karena semakin Bumi berusaha untuk narik Langit buat suka sama Bumi, justru Bumi yang semakin terikat untuk terus menyukai Langit!”
“Kata siapa? Sekarang gravitasi Bumi membuat Langit tak mau kembali. Ia ingin terus bersama Bumi walau semesta menentang dan berusaha memisahkan!” balas Langit.
“Bumi sanggup ngadepin mereka yang ga suka, asal Langit tetap seperti ini, jangan berubah dan jangan berpaling dari Bumi!”
“Gue usahain!”
__ADS_1