Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Makam


__ADS_3

...L.A.N.G.I.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Makam🐝


***


Setelah memberitahu Bunda bahwa akan pulang terlambat, Bumi memasukkan ponsel ke dalam saku tas dan bersiap untuk menunggu Langit.


Tak lama, Bumi melihat Langit yang berjalan dengan gagah. Bagai seorang model yang sedang memperagakan busana.


“Kita mau kemana?” Bumi menghampiri Langit. padahal meski ia hampiri pun Langit juga akan mendekat.


Langit tak menjawab justru memeasangkan helm ke kepala Bumi. Tak lupa juga merapikan rambut Bumi yang kali ini ia tata dengan poni kesamping.


“Jawab Bumi! kita mau kemana sih, Langit?” Bumi memegangi lengan Langit saat cowok itu selesai merapikan poninya.


Mata Langit yang dulunya tajam tak ada lagi. Yang ada sekarang hanya Langit yang sendu yang penuh dengan rahasia.


“Lo nanti juga tau!”


Tanpa menunggu balasan dari Bumi, Langit menaiki motor setelah memasang helm pada kepalanya sendiri.

__ADS_1


Sebelum menaikkan tuas, Langit menengok ke belakang memastikan jika Bumi sudah duduk dengan nyaman.


Meski dengan wajah yang ditekuk, Bumi berpegangan pada seragam Langit dan motor pun berlalu ke luar gerbang. Membelah kota Jakarta yang padat penduduk.


Bumi mengamati sekitar, sepi hening karena mereka sedang berada di pemakaman.


Dengan wajah penasaran Bumi mengikuti arah jalan Langit.


Pikiran Bumi bertanya-tanya. Kenapa Langit membawanya ke tempat seperti ini? Apa yang sedang Langit rencanakan?


Mereka berhenti pada makam yang bertuliskan Arumi di atas batu nisan yang terawat. Tertera bahwa ia sudah meninggal sekitar 13 tahun yang lalu.


“I-Ini makam siapa, Langit? dan kenapa Langit bawa Bumi kesini?”


Bumi kembali mengamati sekeliling, tempat pemakaman yang terawat dan mungkin tempat pemakaman orang kaya. Rumput yang tumbuh saja begitu rapi, bahkan daun kering pun hampir tak terlihat.


Langit memegang nisan lalu mengusapnya perlahan “Orang yang gue sayang, tapi juga gue benci!”tatapan Langit beralih menatap wajah Bumi.


Tubuh Bumi membelakangi matahari sehingga membuat mata Langit menyipit karena silau.


“Nyokap gue!” lanjut Langit lagi mengejutkan Bumi.


Bumi ikut menyamakan posisi dengan Langit. ia menatap nanar pada nisan yang sedari tadi Langit usap.

__ADS_1


Orang yang Langit sayang sekaligus benci.


Bumi mengulang perkataan Langit dalam hati. Masih tak mengerti maksud dibalik kata itu.


Jika sayang mengapa benci dan jika benci mengapa sayang?


Bumi menatap Langit, wajah cowok itu seakan ingin menceritakan sesuatu namun ia tahan. Bumi menunggu hingga Langit siap.


“Mau kenalan?”


“Boleh!” Bumi menyahut sembari tersenyum tulus.


“Mah, ini Bumi. Tanpa aku jelasin juga Mamah pasti tau dan Mamah juga pasti udah liatkan? Dileher Bumi ada kalung pemberian Mamah. Udah aku kasih sesuai keinginan Mamah. Aku udah kasih sama orang yang ingin aku jaga.” Jelas Langit sambil menggenggam tangan Bumi.


Bumi hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia mengamati setiap ukiran dari liontin yang Langit beri. Ternyata kalung yang ia pakai adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Langit.


“Hai tante, ini Bumi! maaf kalo Bumi baru berkunjung!”


“Bumi ga tau harus bicara apa sama tante. Bumi juga ga tau harus mulai darimana. Bumi hanya ingin bilang, terimakasih karena udah lahirin Langit ke dunia!”


Deg! ucapan Bumi seakan menghantam dada Langit. ia menatap cewek disampingnya yang terus saja mengoceh. Untuk yang pertama kalinya Langit mendengar kata yang selama ini terasa tabu.


Terimakasih karena udah lahirin Langit ke dunia!

__ADS_1


__ADS_2