
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Adik Ipar!🐝
***
Gue mau pindah!
Gue mau pindah!
Kata-kata Hujan berdengung ditelinga Bumi. Bumi berusaha mencari arti dari kata-kata Hujan yang Bumi anggap tabu, aneh dan tak pernah terlintas dalam otak Bumi.
“Gue mau pindah, Bumi!” kali ini suara Hujan lebih jelas membuat Bumi yang sedari tadi membeku mendadak memulihkan pikiran.
“Ma-mau pindah kelas atau pindah jurusan?” Tanya Bumi, ia memilah kata yang pas dan ia anggap benar.
Hujan menggeleng membuat Bumi kembali berpikir. Mata Bumi menerawang, mengorek dalam perpustakaan otaknya. Mencari kembali arti pindah yang Hujan maksud.
“Trus maksud Hujan mau pindah apa? Bumi ga ngerti!” keluh Bumi. ia tak mau berpikiran terlalu jauh meski ada saja secuil rasa yang bertegur bahwa Hujan akan pergi jauh. Tapi Bumi menampik, dan ingin mengabaikan.
Hujan diam dan kembali menunduk ia meremas tangan.
“Yang Bumi pikirin ini salahkan Hujan? Hujan ga akan pergi jauh dari Bumi kan?”
__ADS_1
Bumi bertanya dengan penuh penekanan, bahkan suaranya mulai memberat.
“Maaf!”
“Enggak, Hujan!” Bumi menggeleng,
“Gue pindah sekolah!”
“Bumi ga mau!” egios Bumi, berteman dengan Hujan cukup menyenangkan bagi Bumi. ia tak mau kehilangan teman sebaik Hujan.
“Gue juga mau pindah rumah!”
“Bumi juga ga mau!” Bumi menggeleng dengan keras.
“Gue ga bisa egois, Bum! Nyokap gue pindah perusahaan ke LA, mau ga mau gue juga ikut!” jelas Hujan sambil terisak. keduanya sekarang sama-sama terisak.
Retina Hujan menatap Bumi penuh pengharapan agar cewek itu membiarkannya pergi.
Bumi terdiam, benar! ia tak bisa egois menginginkan Hujan tetap disini dan berpisah dengan orang tuanya. Ia tak seberhak itu!
“Los Angeles?” cicit Bumi. dalam bayangan Bumi itu adalah tempat yang sangat jauh dan ia tak bisa menjangkau tempat itu.
Bagaimana bisa ia mengunjungi Hujan jika sedang rindu?
Hujan mengangguk pelan, ia paham apa yang Bumi resahkan.
__ADS_1
“Hujan pergi terlalu jauh! Gimana kalo Bumi kangen sama Hujan?” Bumi menyeka air mata yang lagi-lagi menetes.
“Lo bisa telpon gue, gue janji akan selalu ngabarin lo!” Hujan menenangkan juga sambil menyeka air mata.
“Lo adalah sahabat gue yang pertama, Bum!” perkataan Hujan mengagetkan Bumi. baru ia ketahui, tapi bagaimana bisa orang sekaya Hujan tak memiliki teman.
Jika Bumi, itu wajar. Bahkan saat Smp Bumi dijauhi dan dinina hanya karena tak bisa mengikuti trend teman-temannya dengan segala barang bermerek.
Dan sekarang di Sma yang Bumi pijak juga sama, tapi kali ini Bumi menghadapi dengan berbeda. Jika dulu ia hanya diam, sekarang ia berani membalik kata-kata mereka.
“Gue ga pernah punya sahabat dari dulu! Gue terlalu takut sama orang baru” tutur Hujan kembali.
“Dan Bumi adalah orang beruntung yang bisa jadi teman Hujan,” Bumi membalas ucapan Hujan.
“Gue yang beruntung bisa punya sahabat kaya lo! Terimakasih sudah mau jadi teman dari seorang Hujan!”
Bumi mengangguk lalu beralih tempat duduk disamping Hujan. Memeluk tubuh cewek itu dengan erat seakan enggan melepaskan.
Pelukan Bumi juga dibalas erat oleh Hujan.
Cukup lama hingga cekalan dilengan Bumi melepaskan pelukan keduanya.
Bumi menengok, mengamati sosok yang berdiri di depannya
“Hai adik ipar!”
__ADS_1