
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Gak Ada Hubungan🐝
***
Pagi itu cerah, secerah wajah Bumi yang lagi kasmaran namun juga dilanda kalut. Pikiran Bumi dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa Langit berubah? Cowok itu sangat aneh!
Motor Bumi bahkan sudah terparkir rapi dengan ban yang telah penuh dengan angin. Mungkinkah jika Langit datang sangat pagi ke rumahnya?
Langit berkata jika sudah ijin dengan Bunda untuk mengajak Bumi pergi. Bunda juga mengijinkan dengan senyuman menggoda.
“Kita sebenernya mau kemana, Langit?” Bumi kembali bertanya.
“Jangan banyak tanya!” jawaban Langit tetap sama. Bumi jengkel, seharusnya ia tak menuruti ajakan Langit untuk pergi.
Hanya hening disepanjang jalan karena Bumi enggan membuka mulut lagi karena jawaban Langit selalu membuatnya bungkam. Ah iya, Bumi lupa dari dulu juga Langit memang begitu.
Bumi memandang lewat spion, wajah Langit nampak karena kaca terbuka. Mata cowok itu tajam, tapi sangat indah, punggungnya juga lebar.
Meski sudah berusaha membentengi hati agar tak kembali jatuh, tapi Bumi tak bisa. Pesona Langit sungguh memabukkan.
Mereka sampai disebuah tempat, lumayan sepi karena masuk pada sebuah pemukiman yang tak padat. Bahkan mereka harus melewati jalan setapak.
Meski awalnya ragu, Bumi akhirnya menurut. Menghilangkan pikiran jika Langit ingin membunuhnya karena muak dengan Bumi yang selalu agresif. Tapi itu dulukan? Sebelum kejadian air terjadi.
__ADS_1
“Langit, tungguin Bumi. Jalannya jangan cepet-cepet! Capek tau,” keluh Bumi saat ia tertinggal beberapa langkah dari Langit.
Kaki Langit panjang mana bisa ia menyamakan langkah. Ditambah dengan semak yang lumayan tinggi di pinggir jalan.
Langit menengok dan tanpa Bumi duga, ia melihat sesuatu yang langka. Langit tersenyum meski sangat tipis. Namun senyum itu hanya sekejap karena Bumi menyadari.
“Apa itu tadi? Langit senyum!”
“Gak!” jawab Langit ketus. Mengapa ia terasa malu sekarang.
“Bohong! Tadi Bumi liat Langit senyum. Wah, harusnya tadi Bumi abadikan. Bena-benar langka, Lihat! Bumi sampai merinding,” cerocos Bumi. Ia menilik tangannya sambil bergidik.
“Jangan banyak omong, cepetan jalan!” Langit mengubah topik sebelum omongan aneh Bumi kembali terlontar. Baru saja tadi ia mendapati sosok Bumi yang pendiam, sekarang energi cewek disampingnya kembali terisi.
“Tapi benerkan, Langit tadi senyum? Karena apa,” Bumi menengok ke belakang. tak ada siapa-siapa. Apa karena dirinya?” Bumi tersenyum penuh makna. “Langit senyum karena Bumi ya?” Bumi menggoda Langit.
“Bumi hanya bercanda,” ungkap Bumi saat mengingat jika Langit sekarang punya Mini.
Langit tak menanggapi dan hanya terus berjalan.
“Langit!” panggil Bumi.“Bumi boleh Tanya sesuatu, gak?” Bumi memandang lengan yang dipegang erat Langit.
Lalu Bumi menatap Langit, menunggu apakah ia boleh melintarkan pertanyaan yang bersarang dikepala.
“Apa?”
“Emm, maksud dari sikap Langit ini apa? Kenapa Langit jadi seolah-olah jadi itu eh, anu pengen deket sama Bumi,” meski dengan terbata karena malu akan kesimpuan yang ia buat.
__ADS_1
“Lo gak suka?”
“Hah! Iya, maksudnya enggak,”
“Jadi lo gak suka?” Tanya Langit dengan tatapan mengintimidasi. Bahkan cowok itu memutar tubuh menghadap Bumi.
“Eng-enggak maksud Bumi bukan gitu. Maksud Bumi itu-“ kenapa rasanya lidah Bumi kelu. Tatapan Langit membuatnya membeku.
Langit bersedekap menunggu jawaban.
“Bumi ga ngerti kenapa Langit mendadak berubah. Bukannya dulu Langit ga suka deket-deket sama Bumi? ”
“Karena gue mau,” jawaban singkat, padat, dan jelas sekali.
“Mau apa? Deket sama Bumi. Setelah Langit hancurin perasaan Bumi. Bilang Bumi cewek murahan dan cewek kegatelan,”
Sstttt, Langit meletakkan jari telunjuk tepat di depan bibir Bumi membuat cewek itu bungkam seketika.
“Cerewet! Lo ga mau deket sama gue?” pertanyaan sangat dan sangat sangat aneh buat Bumi. Bumi seketika ingin menampol wajah Langit, tapi ia tak mampu. Yang mau wakilin Bumi, silahkan tampol Langit sepuasnya.
“Pertanyaan Langit aneh! Mana ada cewek yang mau di deketin sama cowok yang udah punya pacar! Langit itu sudah punya Mini. M-I-N-I,” tekan Bumi sambil mengeja.
“Bisa ga sih, kalo lagi berdua ga usah ngomongin orang lain,”
Orang lain. Hah, Bumi ingin terbahak “Mini bukan orang lain. Mini pacar Langit,” ucap Bumi dengan menggebu. Ia merasa seperti dimainkan.
“Kata siapa? Gue ga pernah bilang tuh!” jawab Langit dengan santainya malah semakin membuat Bumi kesal.
__ADS_1
“Gue ga ada hubungan apa-apa sama Mini,”