Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Situasi Genting


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Situasi Genting🐝


***


Langit mulai mengeluarkan rona jingga, Bumi mengendarai motor dengan pelan. Perkataan Aldo terus terngiang bagai panggilan yang terus meminta jawaban.


Meski berusaha menghapus ingatan, namun justru semakin ia berusaha melupakan ingatan itu justru terus muncul dan mulai menghantui.


Bumi berheti di sebuah toko, masih di atas motor. Apa yang harus ia lakukan, disatu sisi jujur saja ia masih menyimpan perasaan pada Langit, disatu sisi, kehadiran Aldo juga mulai berpengaruh dalam kehidupannya.


Merasakan arti dari mendapat perhatian lawan jenis, arti disukai. Arti yang tak ia dapat dari Langit.


Bumi menghela napas sambil memegangi dadanya. Bahkan sampai sekarang, hanya dengan menyebut nama Langit saja masih terasa berdebar.


Langit di atas sana indah


Langit kamu juga tak kalah indah

__ADS_1


Kalian sama-sama indah dan tak bisa ku gapai


Bumi berujar sambil memandang Langit biru yang kala itu memang sangat indah dengan beberapa gumpalan awan putih.


Move on itu bukan melupakan tapi mengikhlaskan


Perkataan Hujan tempo hari lalu. Bumi mengambil ponsel dan masuk ke dalam aplikasi hijau untuk memeriksa kembali pesanan benang jahit Bunda.


“Warna navy 5, putih tulang 3, hitam 7, warda…Langit, ” gumam Bumi saat melihat sosok yang siang tadi ia hindari.


Mengapa semakin dihindari malah semakin sering bertemu?


Bumi kembali memastikan barangkali ia salah mengenali atau ia sedang berhalusinasi.


Dengan perlahan, kaki Bumi mendekat ke arah Langit. Ingin memastikan apa yang cowok itu lakukan.


Langit masuk ke dalam sebuah gang sempit. Dengan jantung yang dag dig dug, Bumi juga mengikuti, berharap Langit tak menyadari.


Langit sempat beberapa kali menengok ke belakang. Sekarang Bumi bersyukur ia memiliki tubuh yang kecil sehingga dengan mudah ia bersembunyi dibelakang tempat sampah yang terletak di depan pada tiap rumah.


Mereka sampai pada sebuah rumah di ujung gang yang lumayan besar. Terdengar suara ramai dari dalam.

__ADS_1


Bumi melihat Langit mengintip dari salah satu jendela. Bumi juga penasaran, ingin mendekat dengan pelan namun justru getaran ponsel mengagetkan Bumi hingga spontan berucap Astaghfirullah.


Bumi menutup mulut saat Langit menatapnya dengan kesal, sial. Umpatan Langit yang terbaca Bumi.


“Woy, siapa disana!” teriakan dari dalam rumah membuat Bumi semakin gugup. Tubuhnya tak mampu bereaksi. Hanya diam ditempat jika Langit tak menyeretnya dari tempat itu.


“Berhenti!” teriakan laki-laki yang Bumi tak tau siapa. Ia tak berani menengok ke belakang. Ia berusaha mensejajari langkah Langit yang berlari sambil memegang tangannya.


Bumi memandang tangan mereka yang saling berpegangan. Andai tak dalam situasi seperti ini pasti Bumi akan teriak sambil melompat-lompat.


Jangan menghayal Bumi, kamu sedang dalam situasi genting!


Langit membawa Bumi lari ke dalam gang-gang kecil. Masuk sana dan keluar sini. Bumi tak tau ia sedang berada dimana.


Napas mereka menderu. Bumi ingin mengintip ke belakang. Kepalanya hampir menoleh, namun ditahan oleh Langit.


“Terus lari dan jangan pernah lo nengok ke belakang!” titah Langit dengan sedikit membentak.


Bumi mengangguk meski penasaran, seberapa banyak orang yang mengejar mereka?


Bugh,

__ADS_1


Sebuah batu sekepal tangan orang dewasa mendarat di belakang kepala Langit. Bumi semakin takut, ia merasa jika pegangan tangan Langit ditangannya semakin mengerat.


“Apapun yang terjadi, jangan pernah lo nengok ke belakang,” Langit kembali berujar.


__ADS_2