
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Memang Gi-la🐝
***
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang ku punya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Lagu dari Andmesh Kamaleng Cinta luar biasa mengiringi aktivitas Bumi pagi ini. Mulai dari subuh, ia sudah sibuk di dapur.
Kemarin Bumi dapat komisi karena membantu Bunda mengerjakan beberapa jahitan baju yang dipesan tetangga.
Lumayan bisa kasih Langit sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Nasi goreng dengan di dampingi daging rendang sudah tersaji dalam kotak bekal berwarna merah muda. Tak lupa sebuah kertas yang Bumi tempel di atas tutup bekal.
“Makan dengan kenyang, Langit,” Bumi telah menyelesaikan tugas sebagai calon istri. Sebagai ibu Negara nanti, kalau bapak Negara mulai bucin.
__ADS_1
Bumi menutup mulutnya sambil cekikikan. Wajahnya merona membayangkan Langit memakan masakannya. Semoga Langit suka.
**
Sepatu pantofel berwarna hitam bergerak bersamaan dengan kaki pemakai. Bumi sudah berada di parkiran sejak 15 menit yang lalu. Dari matahari belum nampak hingga naik seperempatnya.
Bumi mulai kepanasan tapi semangatnya melebihi semangat 45, mungkin. Detik seperti melambat karena ditunggu. Hingga sebuah motor hitam melintas.
Bumi membetulkan seragam sekolahnya yang mulai kusut dibeberapa tempat.
Pagi itu Langit tak memakai jaket Artas, ia justru memakai jaket denim berwarna hitam. Langit membuka helm full facenya. Sedang Bumi bersiap menonton pemandangan dipagi hari.
1
2
3
Untuk yang kesekian kali Bumi terpesona dan entah yang ke berapa kali Bumi jatuh sejatuh jatuhnya pada pesona Langit.
“Langit!” panggil Bumi sambil melambai disertai dengan bibir yang merekah.
Langit hanya mendengus dan acuh. Masih pagi, tapi moodnya sudah diuji. Bisakah hilangkan Bumi dari dunia ini? pinta Langit yang tak akan ia sesali.
“Hari ini Langit cerah ya?” Tanya Bumi.
“Tapi kalah cerah sama Langit yang ini,” Bumi melipat bibir menahan senyum.
Matanya tak lepas dari kunci motor yang Langit genggam. Eh bukan kunci motornya, tapi pada gantungannya. Benda bersejarah yang patut Bumi jaga.
“Langit!” panggil Bumi.
__ADS_1
“Langit!” panggil Bumi untuk yang kesekian kalinya.
“Loe bisa pergi nggak?” bentak Langit.
“Kemana?” Tanya Bumi dengan polosnya.
“Kemana aja, yang penting pergi dari kehidupan gue! Atau sekalian ke alam baka, biar gue ga liat lo lagi”
“Anterin,” rengek Bumi manja.
“Memang bener-bener gila!” sahut Langit. Ia tak paham. Sumpah benar-benar tak paham. Mengapa ada cewek seperti Bumi?
“Kalau sama Langit, kemana aja Bumi jabanin,”
Langit mempercepat langkahnya, sama sekali tak berminat meneruskan obrolan tak berfaedah. Yang ada ia juga ikut-ikutan tak waras.
“Kok bisa sih ada cowok setampan Langit?”
“Langit manusia apa bukan sih?”
“Apa jangan-jangan Langit ini malaikat?”
Bumi menyentuh dengan jari telunjuknya tepat pada bandul segitiga kalung Langit membuat cowok itu melonjak kaget.
“Singkirin tangan loe dari kalung gue!”
Kali ini giliran Bumi yang terlonjak kaget. Kakinya refleks berhenti. Beberapa siswa dan siswi yang sedang berjalan dikoridor pun ikut menoleh karena teriakan dari Langit.
“Bumi Cuma pegang kok Langit, Bumi ga ngapa-ngapain,”
“Jangan pernah loe sentuh kalung gue,”
__ADS_1