Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Markas


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Markas🐝


***


Selatan memposting sebuah foto selfie saat di warung Mak Njir. Sekarang anggota Artas sedang ngumpul di markas. Sebuah foto dengan memamerkan ketampaan yang manis ala abang Selatan.


Perut kenyang


Ade pun abang sayang


Caption dari postingan Selatan. Oh ya, aku ngasih satu rahasia Selatan, nih. Dia itu suka makan, yang seharusnya bisa untuk porsi bertiga kadang bisa habis dimakan sendiri sama Selatan.


Eits, tapi jangan salah, tubuhnya Selatan itu beuh bikin cewek pengen pegang. Heh, jangan ngadi-ngadi lo.


Uekk, Uueeekkk,


Si Asep entah yang ke berapa kali muntah mie indomie. Tubuhnya dibaluri minyak urut gpu hingga wanginya memenuhi markas yang seketika menjadi tempat pijat tapi bukan plus-plus.


“Loe hamil, Sep?” tanya Guntur tanpa difilter. Jangan heran sih, Guntur memang ceplas-ceplos.


Ibarat kata, Guntur adalah Bumi versi cowok. Sama-sama terus ngoceh, yang membedakan mungkin hanya otak mereka.

__ADS_1


Kalau Bumi perlu teori sedang Guntur hanya perlu obsesi. Hehehe canda, jangan serbu aku.


“Buset lo ngadi-ngadi,” walaupun setengah hidup si Asep tetap bersuara. Namanya Septihan, tapi bukan Septihan di novel Galaksi yah.


“Ya kali gara-gara main gelap-gelapan,” Guntur terus mengoceh sampai sebuah botol kosong menimpuk kepala. Alamak, gerutu Guntur.


Guntur mengambil ponsel dan membuka kamera. Sambil mengamati wajah yang baru saja mendapat serangan dari botol milik Bara.


“Untung ketampanan gue masih ada. Ga lepas karena ditimpuk botol minum,”


“Anjr,” hampir seisi markas juga ikut-ikutan muntah kaya si Asep.


Selatan manis banget kaya janji mantan


Selatan mau dong jadi ade


Indah sekali ciptaan tuhan yang satu ini


Sekarang si Junai yang bersuara. Ia membaca beberapa kometar dipostingan Selatan. Guntur seperti biasa, ikut mendekat setelah merapikan beberapa rambut yang jatuh tak indah pada wajahnya.


Bisa diem gak? Iya diem dihati aku


Balas Selatan yang langsung ramai dikalangan nitijen.


“Widihh, gombalan baru nih,” kata Junai yang sering mendengar kata gombal dari Selatan dan yang satu ini terasa asing ditelinganya.

__ADS_1


“Nyolong gombalan gue,” cengir Selatan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Ga modal! Gombalan siapa emang?”Tanya Junai lagi, sedang Guntur sedang mengulum senyum tertahan. Ia melirik ke arah Langit yang sedang melamun.


“Gombalan Si Bumi buat, Bos,” jawab Selatan cepat dan tepat sampai membuat getaran pada dada Langit saat nama cewek itu disebut.


Seperti ada aliran listrik yang mampu membuncah hingga ke dasar sanubarinya. Hingga Langit tersadar dari dari dunia halunya.


Sedari tadi pikirannya dipenuhi dengan bayangan Bumi. Bisa-bisanya ia mencium jidat cewek itu, pasti sekarang cewek itu tambah ga waras. Bukan, kayanya sekarang Langit yang ga waras.


“Brisik!” ujar Langit dengan sedikit berteriak, namun suaranya mampu menggetarkan indera pendengaran, membuat semua mata menatapnya.


Langit pun beranjak mengambil jaket hitamnya dan beranjak pergi.


“Kemana, Bos?” Tanya Guntur.


“Balik!” sosok Langit pun menghilang dari balik pintu yang sudah tertutup.


“Lagi sensi kayanya,” Selatan menyahut.


“Gue juga cabut,” sahut Bara yang juga menyampirkan tas ke bahu.


“Lah, kok gitu, Ra?”


“Ada urusan gue,” Bara pun juga pergi menyisakan empat orang dengan aktivitasnya masing-masing.

__ADS_1


Asep yang mulai terlelap karena habis minum obat, Junai sedang asik membaca komentar postingan Selatan sedang Selatan asik dengan hayalan Si Jeje. Guntur? Cowok itu sedang membrowsing harga album.


__ADS_2