Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Lebah Kecil


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Lebah Kecil🐝


***


Mata yang selalu tajam sekarang berubah sendu. Seakan ada luka yang sedang Langit pendam. Pun, Bumi melihat ketulusan yang terpancar pada kedua mata Langit.


Hati Bumi kembali meluluh, padahal belum membeku. Bahkan kata penolakan pun tak mampu Bumi ucapkan. Tatapan mereka terkunci.


“Hanya kita, berdua. Tak ada Mini, atau siapapun itu.”


Langit mengambil tangan Bumi lalu saling mengeratkan jari. Melangkah bersama dengan bergandengan tangan.


Bumi menurut, ia terhipnotis akan sikap Langit. Jika Bumi lihat, ketampanan cowok itu semakin terpancar


Kaki Bumi terasa melayang, ia bahkan tak sadar jika sedang berjalan.


Hanya kita berdua


Pfttt, maksudnya apa? Bolehkah Bumi berharap lebih? Hanya ada Bumi dan Langit. Bumi ingin mengikis jarak yang dulunya terbentang jauh. Ikut terbang bersama ke tempat Langit.

__ADS_1


Pegangan pada tangan Bumi semakin mengerat. Di depan sana, Bumi melihat sebuh danau kecil. Asri dan hijau. Bumi tak menyangka jika ada tempat seindah ini. ditambah dengan hadirnya Langit, membuatnya menjadi semakin indah.


“Lo suka?” Tanya Langit saat mereka telah sampai ditempat tujuan.


Bumi mengangguk, tentu saja Bumi suka. Hari ini harus Bumi catat dalam storynya sebagai hari indah. Ya, hanya hari indah karena Bumi tak ingin menjadi hari terindah. Ia ingin membangun kembali hari-hari indah tentu saja harus ada Langit di dalamnya.


Mereka menuju sebuah menara yang berjarak tak jauh dari danau. Meniti, menaiki beberapa anak tangga. Saat tiba dipuncak, mata kembali disuguhkan pemandangan yang jauh lebih indah.


“Wow, Langit danaunya cantik!” Bumi takjub, bahkan matanya berseri.


“Memang cantik,” Langit menimpali, tapi pandangannya tak sama dengan Bumi. Jika Bumi memandang danau, Langit justru memandang pada cewek disampingnya, Bumi.


Wajah cewek itu merona dengan bibir yang terus merekah.


“Tau namanya danau apa?” Langit mengalihkan pandangan ke danau. Bumi menggeleng.


Mata Bumi menyipit, mengamati dengan seksama. Airnya biru dan terang, bahkan cahaya menembus sampai menampakkan beberapa tumbuhan air.“Cermin,”


Langit tersenyum puas, kepintaran Bumi dalam menganalisis memang tak diragukan lagi.


“Hmm, namanya danau cermin, karena airnya yang jernih. Bahkan kita bisa melihat dasar danaunya. Mereka bilang syurga dunia yang tersembunyi,”Tutur Langit.


Baru kali ini Bumi mendapati Langit yang berujar panjang, panjang jika masuk kategori Langit.

__ADS_1


Bumi mengangguk dan mulai menikmati indahnya danau yang memanjakan mata.


Menarik napas lalu menghembuskan pelan. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajah karena rambut Bumi yang tak diikat.


Beberapa kali Bumi merapikan rambut yang menghalangi pandangan. Hingga tersentak saat ada sesuatu yang….


Bumi menoleh, wajahnya dan wajah Langit sangat dekat. Cowok itu mengambil hodie dari paper bag yang Bumi bawa.


Membuka lipatan dan menarik hingga tali hodie lepas.


Tanpa Bumi sangka, Langit mengikat tali hodie ke rambut Bumi yang terhempas angin hingga pandangan cewek itu tak lagi terhalang.


Bumi meneguk saliva, tubuhnya kaku dengan debaran jantung yang sangat kencang. Jantung Bumi seakan ingin lepas dari tempatnya.


Bumi merasakan jika ada kupu-kupu dalam di perut. Beterbangan mengelilinga, tak pernah ia bayangkan jika Langit akan bersikap seromantis ini.


Bumi ingin menghentikan waktu saat itu juga, takut jika esok terjadi sikap Langit akan berubah dingin seperti biasa.


Setelah mengikat rambut Bumi, Langit merapikan beberapa helai rambut yang tak terikat. Membawanya ke belakang telinga Bumi.


Bumi ingin berteriak sekencang-kencangnya, jika sedang dirumah, dipastikan Bumi sudah melompat-lompat diatas kasur sambil berjoget ria.


“Lebah kecil,” Langit berujar, tangannya kini beralih pada puncuk kepala Bumi, lalu turun ke bawah hingga pada ujung rambut Bumi.

__ADS_1


Bumi mengumpat dalam hati. Ia lupa, jika pagi tadi tidak keramas karena mandi dengan tergesa.


Bunda, Bumi malu!


__ADS_2