
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Cewek Murahan🐝
***
Cewek murahan
Cewek murahan
Cewek murahan
Kalimat itu terus terngiaang ditelinga Bumi. Apa mencintai seseorang bisa dikatakan sebagai murahan? Atau cara yang ia tunjukan untuk Langit yang salah? Tapi Bumi menganggap itu sebagai bentuk pernyataan bahwa ia suka pada Langit.
Bumi menatap tampilan tubuh di depan cermin, masih memakai gaun pesta. Tampilannya tidak buruk bahkan Aldo beberapa kali memuji cantik.
Gue ga suka lo deket-deket cowok lain
“Apa sebegitu murahan sampai Bumi tak berhak deket dengan cowok lain? “
Bumi merebahkan diri untuk melepas penat. Menoleh ke samping dan pandangannya tepat pada meja belajar dimana ada foto Langit yang ia ambil diam-diam dengan kamera ponsel.
**
__ADS_1
Pagi yang cerah tapi tak secerah wajah Bumi yang kusut disertai dengan mata panda. Bumi berjalan lunglai, membuat beberapa siswa keheranan.
Bumi menatap kursi samping yang kosong, Hujan absen. Ia sedang berlibur untuk yang kesekian kalinya. Kadang ada rasa ingin dihati Bumi, tapi ia sadar bagaimana kondisi perekonomian Bunda.
Temui gue di rooftop sekolah!
Pesan dari Aldo beberapa menit yang lalu. Sepertinya cowok itu ingin membahas kejadian semalam. Bumi menyimpan ponsel didalam saku dan beranjak ke tempat dimana Aldo sudah menunggu.
Pikiran Bumi kacau, ia bahkan berjalan sambil melamun. Dan bugh,
“Auuuu,” pekik Bumi saat hidungnya membentur seseorang. Bahkan ponselnya sudah jatuh ke lantai.
Dengan masih tertunduk, Bumi mengusap pangkal hidung yang terasa berdenyut.
“Ka--,,,” Bumi melotot saat korneanya menangkap seseorang yang tak asing. Langit.
Cewek murahan
Ah, perkataan itu kembali terngiang diingatan Bumi. Otaknya mulai bereaksi, hentikan kekaguman yang menyakitkan ini Bumi.
Bumi memutus kontak mata terlebih dahulu dan dengan cepat mundur dari jarak mereka yang sangat dekat hingga beberapa langkah membuat Langit menyerngit.
“Maaf,” Bumi menunduk dan mencari ponselnya.
Tangan Langit menjuntai ingin mengambil ponsel Bumi di lantai namun dengan sigap Bumi mengambil ponselnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Kembali menunduk dan lagi, Bumi mengucapkan maaf sebelum berlalu dari hadapan Langit.
“Tunggu!” Bumi memandang lengannya yang sedang dicekal Langit. Tatapan tak suka menghujam Bumi.
“Langit!” panggilan Mini menyadarkan Bumi bahwa ia harus menjaga jarak lalu menghempaskan cekalan Langit.
“Kamu ngapain sih sama cewek murahan ini,” tutur Mini yang baru saja datang dengan sedikit tergesa.
“Diam!” bentak Langit membuat Mini bungkam. Tatapan Langit tertuju pada Bumi. Datar tanpa ekspresi tapi Bumi bisa melihat kilatan marah tertahan.
“Ada yang mau gue bicarain sama lo,”
Bumi menoleh ke kiri dan ke kanan lalu membalik tubuhnya ke belakang “Saya?” tunjuk Bumi menunjuk dirinya sendiri membuat Langit menyerngit bingung.
“Kamu mau bicara sama cewek murahan seperti saya?”
Perkataan Bumi menohok, Langit sampai tersentak.
“Belagu banget sih lo jadi cewek. Jelas bicara sama lo lah, emang ada siapa lagi disini?” Mini menyela.
“ Oh, saya merasa sangat terhormat. Orang seperti anda mau bicara dengan cewek murahan seperti saya,”
“Bumi!” tangan Langit mengepal bahkan urat dipelipis sudah menimbul.
Bumi hanya membalas dengan senyuman lalu berujar “Tapi mohon maaf, cewek murahan ini sedang sibuk karena kebanjiran job. Jadi kalau anda mau bertemu saya, harap buat jadwal terlebih dahulu. Saya permisi, karena harus bertemu dengan klien,”
__ADS_1
Bumi berujar lalu pergi meninggalkan Mini dan Langit.