
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Coklat Semar Mesem🐝
***
Bumi bergegas menghapus air mata yang masih membasahi pipi lalu membenarkan sedikit pakaian dan polesan bedak dengan telapak tangan saat beberapa ketukan pintu terdengar.
Hampir saja Bumi terhunyung saat tubuhnya tak sengaja menabrak gagang pintu.
“Hati-hati, Sayang. Ga perlu lari-lari, Langit juga ga akan kemana-mana!” teriak Bunda saat Bumi melenggang begitu saja.
Bumi menaruh jari telunjuk dibibir, berharap Langit tak mendengar, bisa malu Bumi.
Bunda menarik sudut bibirnya, hingga menampakkan gigi geligi putih yang berbaris rapi seraya menggeleng kepala.
“Langit udah lama?” Tanya Bumi saat benda penghalang yang sering disebut pintu itu terbuka dengan lebar.
“Baru aja,”
Bumi mengangguk dan mempersilahkan Langit untuk masuk mendahului, sedang ia kembali menutup pintu.
“Bunda mana?”
“Ada, lagi sibuk banyak pesanan,”
__ADS_1
Langit menuju ruang jahit Bunda, sedang Bumi menuju dapur untuk mengambilkan Langit minum.
Entah apa yang dibicarakan Langit dengan Bunda karena saat Bumi ingin menyusul, Langit berkata jika Bunda sibuk dan jangan mengganggu Bunda.
Sebenarnya Bunda itu Bunda Bumi apa Bunda Langit sih?
Setelah beberapa menit bercakap, Bumi meminta Langit untuk segera membuat kue.
Bumi mengambil beberapa biji telur dari dalam kulkas. Memecahkannya lalu mencampur dengan beberapa sendok gula putih.
“Langit gantian, sekarang Langit yang pegang mixernya,” pinta Bumi saat mixer mulai menyala. Tak bisa diletakkan karena memang alatnya yang terbatas tak seperti mixer kalian yang dirumah ya gaes.
Langit mengambil mixer dari tangan Bumi dan mulai menjalankan persis seperti yang dilakukan Bumi.
“Ah Bumi melupakan sesuatu,” Bumi kembali membuka kulkas dan mengambil sesuatu yang sangat Langit kenali.
Coklat pelet!
“Langit mau? Ini coklat buatan Bumi yang dulu selalu Bumi kasih buat Langit,” Bumi menjelaskan sesuatu yang Langit juga tahu.
“Lo bikin sendiri?”
“Iya, kenapa? Langit suka? Mau Bumi buatin lebih banyak?” pantas saja Langit tak menemukan coklat Bumi di mini market. Ternyata cewek itu membuatnya sendiri.
Jangan Tanya kenapa Langit mencari coklat buatan Bumi di mini market karena jawabannya sudah jelas cowok itu ketagihan coklat pelet buatan Bumi.
“Boleh,”
__ADS_1
“Langit ketagihan ya sama coklat Bumi?” Tanya Bumi membuat Langit terhenyak, Bumi mampu membaca pikirannya.
“Langit tau? Ini namanya coklat semar mesem,” Bumi cekikikan sambil memandangi coklat yang hanya tinggal beberapa. Karena separuhnya telah ia masukkan ke dalam adonan kue.
“Bukan coklat pelet?” Tanya Langit dengan spontan.
“Kenapa coklat pelet? Dari coklat turun ke hati berhasil?”
“Lo beneran pelet gue?” Tanya Langit dengan polosnya. Wajah Langit terlihat lucu terlebih cowok itu sedang memegang mixer, membuat Langit terlihat menggemaskan.
“Aha ha ha. Langit percaya?” Bumi terbahak sambil menatap wajah Langit.
“Bumi bercanda, masa jaman sekarang masih pake begituan sih?”
Bumi terus saja menertawakan kebodohan Langit. Coklat semar mesem adalah nama asal yang ia berikan, tak Bumi sangka ternyata Langit memberinya nama coklat pelet.
Tangan Langit memegang erat gagang mixer. Matanya tak lepas dari wajah Bumi yang sedang tertawa lepas.
Langit menyayangkan tempat dimana mereka berada sekarang.
Langit ingin berbuat sesuatu, tapi ia tahan. Lebih baik melampiaskan pada gagang mixer.
Sial, mengapa Bumi terlihat makin menggemaskan saat Ia tertawa lepas?
Langit jadi ingin membawa Bumi ke dalam pelukan tapi sadar jika ada Bunda diruangan sana.
Kasian Langit!
__ADS_1