
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Pergi🐝
***
Sore itu, tak lama setelah Langit mengantar Bumi, Bunda meminta Bumi untuk mengantarkan kembali pesanan baju dari teman sekaligus klien Bunda, yaitu Mamihnya Aldo.
Sekarang Bumi sedang mengendarai motor menuju rumah Aldo.
Sudah lama Bumi tak berkunjung ke rumah itu, bahkan Bumi juga sekarang tak lagi bertemu dengan Aldo disekolah.
Apa mungkin Aldo liburan lagi sehingga cowok itu tak lagi ia temui di lingkungan sekolah?
Bumi tiba di depan gerbang rumah Aldo. Gerbangnya memang tinggi, namun terdapat celah-celah sehingga Bumi bisa melihat sampai ke depan rumah.
Bumi menekan bel yang terletak di samping pagar berulang kali, menunggu penunggu rumah keluar. Beruntung sekarang sore, sehingga cuaca tak menyengat kulit.
Bumi celingkan, entah sudah yang ke berapa kali Bumi menekan bel, namun tak ada pergerakan dari dalam rumah yang pintunya tertutup rapat. Bahkan Bumi juga menghubungin nomor Aldo yang ternyata tidak aktip.
Hampir putus asa, Bumi memandang plastik putih yang tergantung di depan jok motor. Ia harus mengantarkan pesanan sampai pada pemiliknya, namun jika begini ia bisa apa.
Sudah setengah jam Bumi berdiri celingukan seperti seorang pengintai.
__ADS_1
“Mau cari siapa, Neng?” Tanya seorang paruh baya yang berpakai rapi layaknya seorang satpam. Bukan layaknya lagi, dia emang satpam! Dasar othor somplak.
Bumi membalik tubuh lalu menyahut “Nyari pemilik rumah ini Pak?” jawab Bumi dengan sopan. Beruntung ada orang yang mengerti jika ia sedang perlu bantuan. Dan mungkin Bapak ini bisa membantu.
“Neng mau beli rumahnya?”
Rumah? Beli? Maksudnya? Bumi dibuat bingung dengan perkataan Bapak di depannya.
Bumi menggeleng lemah “Mau antar pesanan,” jelas Bumi sambil menunjuk plastik berisi baju yang masih tergantung.
“Oh kirain mau beli rumahnya?” dia mengangguk sembari menggaruk kepala.
“Rumahnya dijual ya, Pak?” Tanya Bumi yang dibalas anggukan.
“Trus orang rumahnya kemana?” Tanya Bumi lagi.
“Bapak tau, pindahnya kemana?” Tanya Bumi yang masih shock.
Bumi mengamati kembali, benarkah rumahnya dijual? Bahkan tak ada plakat dengan kata `rumah dijual` seperti pada kebanyakan.
Aldo tak pernah cerita jika ia ingin pindah. Dan sekarang? Cowok itu menghilang entah kemana karena jawaban dari Bapak itu juga berkata bahwa ia tak tau mereka pindah kemana. Ia hanya diberi amanat jika ada yang mau membeli rumah, maka akan berurusan dengan dirinya, kecuali…
Satu pesan yang ditulis pada kertas, satpam itu berikan pada Bumi.Aamanat yang juga Aldo titipkan pada satpam itu.
Bumi membuka dengan perlahan, goresan tinta itu membuat Bumi bungkam.
__ADS_1
Buat my little princess
Saat lo terima surat ini, lo udah ga bisa menemukan gue lagi
Gue udah pergi, jangan cari gue karena gue ga janji bisa kembali
Jangan nangis, gue ga ingin lo nangis untuk gue
Dan jangan pikirin gue, karena gue bahagia liat lo bisa bersama orang yang lo suka
Pertemuan kita memang singkat, tapi lo adalah hadiah terindah yang tuhan beri di sisa hidup gue
Tetap bahagia biar gue bisa tenang
Selamat tinggal
Selama diperjalanan, pikiran Bumi berkelana pada perkataan Aldo saat terakhir mereka bertemu. Saat pesta ulang tahun Selatan.
Aldo pernah terlibat cekcok dengan Langit.
Gue yang akan menghilang kalo sampai itu terjadi!
Perkataan Aldo tempo lalu. Bumi pikir perkataan Aldo hanya sebatas peringatan atau ancaman, tapi nyatanya cowok itu membuktikan perkataannya.
Bumi menepikan motor, memegang dadanya yang terasa sesak. Meski ia tak memiliki rasa suka pada Aldo,tapi Aldo sudah menempati tempat tersendiri sebagai teman yang istimewa.
__ADS_1
Tak mampu Bumi pungkiri, hatinya merasa ada yang kosong, kembali merasakan kehilangan.