Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Apel Pagi


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Apel Pagi🐝


***


Sebuah bantal warna biru muda dengan gambar doraemon menjadi sasaran empuk Bumi. Ia telah berada di dalam rumah, setelah seharian pergi dengan Langit.


“Aaaaaa,” bugh, bugh bugh. Kembali, Bumi memukul-mukul bantal yang tak bersalah.


Semenyenangkan ini ternyata berbalas pesan. Langit berubah, tak sedingin yang ia kira. Bumi bersorak dalam hati, perjuangannya tak sia-sia.


Bumi ingin malam cepat berlalu, ingin secepatnya berangkat sekolah. Sekarang ia ingin segera senin bahkan ia mulai menyukai senin. Bumi sekte mana nih? Wkkk canda.


Bumi terlelap dengan ponsel disamping bantal. Jika Bunda tau, Bumi pasti kena omel.


Tak seperti biasanya, belum jam 5 pagi Bumi sudah terbangun. Matanya tak mau dipejam lagi.


Bumi bangun dan bersandar di kepala ranjang. Membaca kembali pesan dari Langit tadi malam. Pipinya kembali merona. Jatuh cinta seindah ini ternyata.


Setelah berpuas membaca pesan, Bumi ke kamar mandi. Ingin berdandan tipis sekedar dari biasanya.

__ADS_1


Bunda terkejut, karena saat ia membuka pintu kamar mandi Bumi sudah menunggu. Tak biasanya pikir Bunda terheran-heran. Bumi hanya nyengir lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Kali ini, Bumi keramas dengan shampoo yang lebih banyak. Ingin menunjukkan jika rambutnya wangi.


Namun harapan Bumi pupus setelah sampai sekolah ia tak mendapati motor Langit. Bahkan motor Artas juga tak nampak. Bumi menunggu hingga sampai apel pagi senin dimulai.


Bumi sedikit lunglai, ia juga bertambah kesal karena baris ditempat yang panas. Tak ada naungan, bahkan tak ada teman yang bisa ia bikin pelindung.


Keringat mulai bercucuran, padahal apel belum dimulai. Heran, apa sih yang membuat apel lama dimulai.


Selalu saja, disaat semua siswa sudah baris dengan rapi namun harus menunggu para guru yang baris ditempat teduh.


Jangan buli pikiran Bumi atau author. Mereka hanya mengisahkan kejadian yang biasanya dialami.


Bumi memandang Hujan yang baris disamping, seperti biasa Hujan tersenyum puas saat cahaya mentari menyorot.


Dahi Bumi mengerut saat mendengar suara yang sangat ia kenali. Belum Bumi menoleh, ia kembali dikejutkan dengan kehadiran Langit yang mendadak baris disamping.


Tubuh Langit yang tinggi membuat tubuh Bumi yang kecil tertutupi. Tubuh Bumi tak lagi panas karena adanya Langit.


“Langit ngapain? Kenapa baris disini? Harusnya Langit baris disana,”Tanya Bumi berbisik, ia menunjuk ke arah barisan kelas Langit. Karena biasanya siswa baris sesuai dengan kelas masing-masing.


“Gue mau baris disini!"

__ADS_1


“Tapi disini bukan kelas Langit,”


“Emang bukan,”


“Trus kenapa baris disini?”


Langit tak menjawab, ia mengangkat kedua bahu dan memasukkan tangan ke dalam kantong celana.


Sebenarnya pertanyaan dari Bumi hanya sekedar basa-basi. Karena sejatinya cewek itu senang karena bisa melihat wajah Langit dengan dekat.


Bumi mengibaskan rambut dan sedikit berdehem, sengaja. Ingin memberitahu jika rambutnya wangi.


Langit menoleh lalu berkata "Wangi, gue suka,"


Sesuai harapan Bumi, rencans berhasil.


Banyak cewek yang menatap Bumi dengan sinis dan bertanya-tanya, Bumi tersenyum sambil mencari Mini dalam barisan.


Tapi sayang, ia tak mendapati sosok tersebut. Padahal Bumi ingin melihat bagaimana reaksi cewek itu. Akankah histeris berteriak atau Mini menjambak rambut Bumi lalu Langit akan membela Bumi.


Bumi mengulum senyum sambil menggelengkan kepala, lupa jika disampingnya juga ada Hujan yang meminta penjelasan.


Kapan apel ini akan berakhir?

__ADS_1


Gumam Hujan yang mendadak ingin segera menarik Bumi masuk ke dalam kelas.


__ADS_2