Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Perginya Hujan


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Perginya Hujan🐝


***


Lima hari telah berlalu, tak ada kejadian aneh dan tak ada lagi gangguan dari Sakti.


Telah lima hari juga Hujan tak lagi bersekolah di SMA Tulip Sakti. Bumi merasa sepi saat jam pembelajaran. Duduk seorang diri dan tak bisa menggibah Pak Ridwan lagi.


Balasannya, saat jam istirahat atau jam kosong Bumi sempatkan untuk menemui Langit.


Untuk apa? Jelas untuk mengasah kemampuan menggombalnya. Tak jarang juga Bumi bermain tebak-tebakan dengan Guntur dan Selatan.


Meski begitu, nilai Bumi tak pernah turun. Kadang teman dikelasnya heran, otak Bumi terbuat dari apa sehingga selalu dapat menangkap pembelajaran yang diajarkan?


Bumi membuka aplikasi merah, berselancar melihat beberapa video sambil bernyanyi di atas kasur.


Ting, satu notifikasi masuk. Bumi menggulir ke bawah layar ponselnya.


Pesan dari Hujan!


Hujan mengirimkan pesan bahwa ia akan ke Bandara sebentar lagi. Hujan meminta Bumi menemuinya di Bandara untuk yang terakhir kali. Karena entah kapan ia akan balik lagi ke Indonesia.

__ADS_1


Bumi menelpon Langit untuk memberitahu bahwa ia akan menyusul Hujan. Seperti yang Langit pesankan, bahwa kemanapun Bumi pergi maka cewek itu harus memberitahunya.


Anggap saja posesif, tapi tanpa Bumi tahu Langit melakukannya karena khawatir sesuatu terjadi pada Bumi.


Namun, hingga panggilan kelima Langit tak menjawab. Jika Bumi menunggu Langit, maka kemungkinan ia tak akan sempat menemui Hujan.


Bumi memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Langit lalu bersiap untuk menemui Hujan.


Bumi telah sampai ditempat tujuan. Ia mencari tempat yang telah dideskripsikan Hujan sebelumnya. Tak lama, dua sahabat itu pun bertemu ditempat tunggu.


Bumi memeluk Hujan, tangis keduanya pecah. Wajah Hujan pucat, dan mata yang dulu indah sekarang terdapat lingkaran hitam.


“Hujan sakit?”


Hujan menggeleng “Gue Cuma kurang tidur!” jawab Hujan seadanya.


“Hujan kenapa sendiri?”


“Nyokap sama Bokap gue duluan buat chek up. Gue disini karena nungguin lo!”


Bumi mengangguk sambil menghapus sudut matanya yang berair.


“Hujan baik-baik ya disana, jangan lupain Bumi!”


“Lo juga baik-baik disini, jaga kesehatan!”

__ADS_1


Panggilan bahwa penumpang menuju LA sudah harus bersiap membuat mereka harus merelakan perpisahan.


Hujan melambai pada Bumi sambil menyeret kopernya. Bumi balas melambai sambil terisak.


Selamat jalan Hujan


Menuju tempat penerbangan, Hujan menarik napas untuk menetralkan dadanya yang terasa sesak.


Selamat tinggal Bumi, maaf karena gue bohong sama lo!


Hujan memandang koper yang ia pegang. Ia bohong soal kepindahan karena pekerjaan orang tuanya.


Hujan pergi ke LA hanya sendiri, mencoba menghapus rasa secara sepihak yang sangat menyakitkan.


Hujan kira, cukup hanya dengan menyukai Bara. Tetapi rasa sukanya semakin meninggi tak mampu ia kendali. Semakin melihat Bara, rasa sukanya semakin hari semakin bertambah.


Hujan menyukai bagaimana dadanya yang berdetak lebih kencang saat melihat cowok itu.


Bagaimana hatinya yang berbunga-bunga jika melihat aura yang Bara tebarkan.


Hujan kira semuanya akan berjalan dengan lancar seperti hubungan Bumi dengan Langit. tapi nyatanya salah, ia berharap terlalu tinggi membuatnya terhempas tanpa bisa bernapas. Hatinya remuk tak berkeping lagi. Sekarang bentuknya bagai butiran debu.


Seharusnya aku hanya sekedar mengagumi, bukan menjadikanmu segalanya.


Hujan memandang ke belakang, untuk melihat wajah Bumi sebelum benar-benar pergi.

__ADS_1


Maaf karena gue ga mampu buat cerita sama lo!


__ADS_2