
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Lo Yang Ga Peka🐝
***
Tak lama, akhirnya kendaraan dengan roda empat itu sampai pada tujuan. Pantai di Pulau Bidadari menjadi tempat yang ingin Bumi kunjungi. Namun, mereka harus menaiki speedboat dulu untuk sampai kesana.
Langit melepas sealbelt, dengan perasaan sedikit kesal Bumi pun mengikuti. Mereka turun dan jalan beriringan menuju bagasi untuk mengambil tas yang Bumi bawa yang ternyata adalah masakan Bunda.
Bumi memang sengaja membawa masakan Bunda karena Langit sangat menyukai masakan Bunda.
Bumi sempat heran, Langit seperti orang yang tak biasa makan masakan rumah. Karena tiap kali Bumi mengajak cowok itu makan di rumah, selalu saja Langit megangguk dengan antusias.
Langit menenteng tas berisi makanan ditangan sebelah kanan, dan tiba-tiba Langit mengambil tangan Bumi lalu menggenggamnya erat disebelah kiri.
Bumi terkejut namun juga senang. Sikap Langit yang kadang dingin juga bisa berubah tiba-tiba menjadi hangat. Membuat Bumi bertanya-tanya, apa sebenarnya Langit ini hangat namun ada sesuatu yang membuatnya terpaksa menjadi dingin tak tersentuh?
Membutuhkan sekitar 30 menit untuk sampai pulau Bidadari. Bumi menikmati setiap angin yang berhembus menerpa kulit. Di depan sana, Bumi bisa melihat keindahan walau belum Nampak.
Langit mendekat dan meletakkan dagu dibahu Bumi. Ikut merasakan terpaan dari angin laut.
Jantung Bumi berdetak tak karuan, Bumi yakin Langit dapat mendengarnya.
Speedboat masih berjalan membuat rambut Bumi yang lagi-lagi tak diikat terhempas wajah Langit.
__ADS_1
Bumi ingin berbalik tapi Langit menahan.
“Diam dan biarkan tetap seperti ini,”
Langit memejam mata sambil mengulum senyum. Bumi bisa melihat ekspresi itu.
“Kenapa? Ada yang lucu?” Tanya Bumi sambil menengok kesamping wajah Langit.
Langit menggeleng dan mengeratkan pelukan ditubuh Bumi.
“Bohong, kalau ga ada yang lucu kenapa Langit senyum-senyum?”
“Lagi ingat seseorang,”
Jawaban Langit membuat Bumi melotot dan ingin melepaskan pelukan Langit. Bumi meronta meski tubuhnya tak mampu mengendurkan walau sedikit saja pelukan Langit.
Bumi ingin menenggelamkan wajah dilaut lepas sekarang.
Kenapa Langit harus mengungkit hal memalukan yang ingin Bumi hapus. Kala itu ia tak lupa,hanya tak sempat. Alasan Bumi yang tak mampu terlontarkan.
“Gue suka,”
Ucap Langit membuat debaran didada Bumi semakin kencang. Apa Langit suka saat Bumi tak keramas? Rona dipipi Bumi memerah, kepala Bumi menunduk.
“La-Langit suka kalo Bumi ga keramas?” Tanya Bumi dengan polosnya sambil memainkan jemari.
Langit terkekeh satu kali lalu melepaskan pelukannya “Gue suka pemadangan di depan sana, cantik. Loe emang bisa milih tempat sesuai selera gue,” jelas Langit sambil mengacak rambut Bumi.
__ADS_1
“Apa ini pujian?” Bumi bergumam pelan. Ia bingung Harus senang atau kesal. Langit selalu berhasil membolakbalikkan hati Bumi. Kesal dan senang sekaligus.
“Pikiran lo ribet,” tutur Langit.
“Coba Langit jelasin, pikiran Bumi yang bagian mana yang Langit anggap ribet!”
Langit menoleh, wajah Bumi yang serius justru terlihat…. Lucu.
“Berhenti bertanya dan cukup jalanin apa yang ada,” hanya beberapa kata tapi mengapa sulit untuk Bumi cerna.
“Langit melantur, kok Bumi makin ga ngerti, Langit sakit?” Bumi mengecek suhu tubuh Langit. Tak panas sedikitpun. Namun justru membuat Bumi takut.
“Katanya pinter, apa jangan-jangan selama ini lo cuma pura-pura pinter,”
“Bumi lagi males mikir. Hari ini otak Bumi mau di ajak healing,” tutur Bumi membuat alasan.
Sudut bibir Langit terangkat.
“Jelasin sekarang!” pinta Bumi memaksa.
Langit mengangkat bahu acuh dan bersiap untuk turun karena sebentar lagi mereka akan tiba di pulau Bidadari.
Bumi mencibir, hari ini sudah 3 kali ia dibuat kesal oleh Langit.
Langit menoleh sebentar ke arah Bumi.
Loe yang ga peka
__ADS_1