
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena kamu, Langit...
🐝Mawar Merah🐝
***
Kepulan asap dari kuah bakso menguap, mengeluarkan aroma yang menggugah selera. Dengan tambahan sesendok sambal semakin menambah daya nafsu makan, apalagi perut sudah beberapa kali memanggil dengan suara yang khas.
Bumi dan Hujan sedang berada di kantin. Memesan dua mangkok bakso dengan pendamping teh es. Yang sering menjadi perdebatan, ada yang bilang teh es, ada juga yang bilang es teh.
Padahal sama saja, sama-sama mengakibatkan sering kencing kalo diminum bnayak-banyak.
Ssrrrppppp, Bumi menghirup kuah bakso dengan nikmat, diikuti Hujan yang juga menyeruput kuahnya, lalu bergerak kegirangan. katanya sih kebiasaan cewek kalau makan enak memang begitu.
Kegiatan keduanya terhenti saat setangkai bunga tersodor tepat di depan wajah Bumi. Menghalangi pandangan cewek itu pada semangkok bakso.
__ADS_1
Bumi menengadah, seorang cowok dengan rambut klimis dan sedikit kumis tipis diwajahnya. Tersenyum tipis ke arah Bumi sambil mengangkat salah satu alisnya yang tidak tebal.
Bumi reflex berujar astaghfirullah sedang Hujan dengan ekspresi melotot.
Bumi kembali mengunyah satu buah bakso yang telah berada dalam mulut. Mengunyah lalu meneguknya hingga tandas.
“Buat wanita cantik dengan nama Bumi yang mampu memporak-porandakkan hati gue hanya dalam beberapa hari,” tutur cowok tersebut, yang Bumi pun tak tahu ia siapa.
Seisi kantin mulai memperhatikan karena suara lantang cowok itu. Mulai memperhatikan dan tak banyak yang berbisik.
“Kamu siapa? Kenapa bisa kenal sama Bumi? Trus ini apa?”
“Lo ga ingat sama gue?” tanyanya balik. Bumi menggeleng dengan pasti.
“Ga adil emang. Saat gue ga bisa berhenti mikirin lo, tapi lo justru ga inget gue sedikitpun,” sahut cowok itu dengan wajah yang kecewa.
“Maaf,” lirih Bumi karena memang ia tak dapat mengingat siapa cowok misterisu di depannya. Sempat berpikir apa cowok tersebut hantu? Bumi menengok pada kaki cowok tersebut yang memang menapak pada lantai.
__ADS_1
“Its oke, ga masalah. Gue maafin, asal lo terima cinta gue,” menyodorkan kembali setangkai mawar ke depan wajah Bumi bahkan lebih dekat dari sebelumnya, Bumi dapat mencium aroma khas bunga segar saking dekatnya.
“HAH!” Tanya Bumi kaget, bahkan Hujan juga kembali melotot ditambah dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Lo mau ga jadi pacar gue?”
“Bu-Bumi ga suka sama kamu, Bumi juga baru kenal sama kamu, bahkan Bumi aja ga tau nama kamu siapa? Masa langsung di ajak pacaran sih,” keluh Bumi. Meski gugup, otaknya masih teringat nama Langit.
“Nama gue Aldo. Lo sekarang memang ga suka sama gue, tapi gue akan buat lo suka sama gue dan dapat gue pastikan itu,” jawabnya enteng “Jadi gimama? Mau jadi pacar gue?”
Bumi menunduk tangannya tiba-tiba gemetar. Di bawah meja, beberapa kali Bumi menendang pelan kaki Hujan seakan meminta bantuan.
“Bumi!” panggil Aldo lagi.
Bumi merasakan tangan sesorang memegang dagunya lalu mengangkat pelan.
“Jadi gimana?” Tanya Aldo lagi setelah berhasil mengarahkan wajah Bumi menatapnnya.
__ADS_1
“Bu-Bumi….”