Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Kurir


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Kurir🐝


***


Bumi tak mengingat bagaimana peristiwa berboncengan dengan Langit. Intinya, Ini yang kedua kalinya, tapi mengapa Bumi merasa kejadiannya tak nyata? Yang ia rasa, ia seakan bermimpi dan ketika bangun ia telah sampai di depan rumah.


Bagaimana Langit bisa tau rumahnya? Dan pertanyaan yang sedari tadi bersemayam dalam pikiran Bumi yaitu mengapa Langit mendadak datang disaat ia membutuhkan pertolongan? Apa jangan-jangan Langit juga punya ilmu sama seperti Aldo?


Aldo, bahkan Bumi tak ingat sama sekali sama cowok itu. Jahat memang, selalu saja jika ia bersama Langit pikirannya hanya tertuju pada cowok itu.


Sadar Bumi, Langit bukan orang yang bisa kamu gapai!


Bumi memukul-mukul kepalanya, ia kesal karena pikirannya tak bisa diajak kerjasama.


Lagi, Bumi kembali teringat bagaimana aroma Langit yang membuatnya candu. Aroma yang ia hirup sewaktu memeluk erat pinggang Langit.


Plak, Bumi menghentikan pikiran yang kembali melenceng. Segera keluar kamar sebelum pikiran aneh kembali menyergap.


Duduk dikursi meja makan dan mulai menyantap masakan Bunda.


“Tadi diantar sama siapa?” Tanya Bunda saat Bumi mulai memasukkan sesendok nasi berserta lauk.

__ADS_1


“Sama temen, Bunda,”


“Diantar sama Aldo?”


“Teman Bumi bukan Cuma Aldo, Bunda. Teman yang ngantar kali ini teman yang jarang main sama Bumi.”


Bunda mengangguk “Trus motor kamu mana, Sayang?”


“L-lagi dibengkel Bunda. Takut kemalaman jadi Bumi tinggal dibengkel,” jelas Bumi dengan sedikit terbata. Melanjutkan makan dengan lahap agar Bunda tidak curiga dan tidak berpikir yang aneh-aneh. Bumi juga takut bersitatap dengan Bunda.


“Paket!” teriakan kurir membuat Bumi menghela napas. Mengalihkan perhatian Bunda.


“Biar Bumi saja, Bunda,” Bumi bergegas membuka pintu.


“Paket Bunda, ya? Bunda mesan apa emang?” gumam Bumi sedikit aneh, pasalnya jika ingin memesan sesuatu pasti Bunda akan bertanya pendapat Bumi.


Bumi mengangguk “Iya,” jawab Bumi dengan ragu. Akhir-akhir ini ia rasa tak ada memesan barang online.


“Begini Neng cantik, saya diberi amanat buat minta nomor whatsapp Eneng,”


“Hah, gi-gimana, Pak?”


“Saya ulangi. Ada cowok yang minta bantuan sama saya. Katanya mau minta nomor whatsapp si Eneng,”


“Kenapa harus minta bantuan sama Bapak?” Tanya Bumi yang setengah tak percaya. Yang benar saja, Bumi celingukan mungkin sekarang ia sedang diprang.

__ADS_1


“Bapak ngeprank saya?”


Lantas kurir tersebut menggeleng “Engaak Neng,”


Apa Bumi punya penggemar rahasia? Siapa? Bumi semakin penasaran


“Namanya siapa, Pak?” bertanya kembali, Bumi ragu memberikan nomor yang ia anggap privasi kepada sembarang orang. Mungkin bisa saja penipu.


Tapi jawaban si Bapak membuat Bumi kecewa. Ia mengatakan jika ia juga tak tau siapa.


“Katanya yang jelas temen Eneng. Satu sekolah,”


Bumi terdiam, mengingat satu persatu teman yang ia kenal. Ah terlalu banyak, Bumi tak bisa.


“Gimana Neng, mau kan? “


“Tapi, Pak,”


“Bayarannya mahal, Neng kalau saya bisa dapar nomor si Eneng. Saya perlu uang buat beli sepatu anak saya yang rusak, Neng. Neng mau ya,”


Bumi tak sampai hati jika menghancurkan harapan pria paruh baya di depannya. Dengan berat hati, Bumi menuliskan nomor disebuah kertas yang sudah bapak itu persiapkan.


“Terimakasih banyak, Neng,” tuturnya dengan senyum sumringah.


“Mana paketnya?” Tanya Bunda saat Bumi kembali duduk dimeja makan.

__ADS_1


Bumi menggeleng "Kurir minta nomor,"


__ADS_2