
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Gue Akan Hilang!🐝
***
Ajarkan aku cara tuk melupakanmu
Bila membencimu tak pernah cukup
Tuk hilangkan kamu
Alunan musik mengiringi dua insan yang saling diam. Aldo berkali-kali mengajak Bumi bicara, namun tak cewek itu enggan menjawab.
“Gue minta maaf kalo gue udah bikin lo kesel,”
Aldo melirik Bumi, tetap diam dan Bumi fokus menatap keluar jendela.
“Iya gue ngaku, gue keterlaluan, gue berlebihan. Maafin gue ya?”
Dan lagi Bumi hanya diam membuat Aldo menghela napas dan menepikan mobil tak lupa mematikan musik.
“Jangan diemin gue gini dong, Bum,” sungguh Aldo merasa ada yang kurang jika sikap Bumi mendadak diam. Ia tak suka, sungguh.
Aldo menarik pelan lengan Bumi membuat cewek itu menghadap kearahnya. Wajah Bumi merengut, Aldo sampai dibuat gemas. Jika saja tidak dalam kondisi marah, Aldo ingin menggapai cewek itu dan menenggelamkan tubuh mungil Bumi ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Maaf,” lirih Aldo kembali.
“Jangan marah sama gue, gue ga akan sanggup kalo lo diemin gue,” tangan Bumi digenggam erat Aldo dan cowok itu membawanya tepat di depan dada.
“Gue janji ga akan gitu lagi,”
Bumi membuang napas “Maksud Aldo kaya gitu apa? Bumi bukan barang yang bisa dibuat bahan taruhan,”
Aldo tersentak, mulutnya bungkam “Maaf, gue gak bermaksud jadiin lo bahan taruhan. Gue Cuma kesel, gue marah saat Langit bilang seenaknya sama lo. Gue mau buktiin sama Langit, kalo lo sekarang ga suka lagi sama dia. Gue ga mau lagi liat lo diinjak-injak sama dia,”
“Tapi ga gitu caranya, gimana kalo yang diucapin Langit memang benar?”
Pegangan tangan Aldo merenggang “Lo masih suka sama Langit?”
Kepala Bumi menunduk, ia juga tak mengerti mengapa melupakan Langit bisa sesakit ini. Tak ada ikatan, tak ada kata jadian, tapi kenapa move onnya mati-matian?
Diamnya Bumi dianggap sebagai jawaban iya bagi Aldo
Bumi kembali menunduk dalam, ia takut karena suara lantang Aldo.
Aldo mengacak rambut frustasi, kepalanya mendadak pusing. Diam sejenak lalu kembali mengemudi mobil sambil sesekali menatap Bumi yang masih menunduk.
Cittt, decitan ban mobil dengan aspal menandakan bahwa mobil berhenti.
Bumi melepas seatbelt dan beranjak turun tanpa menoleh kearah Aldo sedikitpun.
Aldo tersenyum penuh makna. Ingatannya memutar pada kejadian pesta saat dansa bertukar pasangan.
__ADS_1
Aldo awalnya biasa saja, sampai ia kecolongan dan Bumi berdansa dengan Langit. Cowok itu memeluk Bumi dengan erat membuat emosi Aldo berada pada puncak.
Aldo ingin mengambil kembali wanitanya, namun Langit enggan memberikan Bumi pada saat terjadi kembali pertukaran pasangan. Aldo sampai mengumpat saking kesalnya.
Kekesalan Aldo semakin bertambah saat Langit mengucapkan sesuatu ditelinga Bumi.
Bukan bisikan karena Aldo mampu mendengar.
Gue ga suka lo dekat-dekat sama cowok lain.
Aldo menarik lengan Bumi agar menjauh dari Langit, lalu memberikan satu bogem diwajah Langit. Perseturan tak dapat dihindari sehingga perlu beberapa orang untuk melerai.
“Jangan pernah lo deketin Bumi, karena dia punya gue,” teriak Aldo dengan lantang dan menggema. Bumi ingin menyela tak terima namun nyalinya tak cukup kuat. Sehingga diam mungkin lebih baik.
Langit menyeringai sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“Langit ga pernah deketin cewek lo, yanga da malah cewek murahan itu yang selalu nempel sama Langit!” Mini membela Langit, sambil memeluk posesif tubuh Langit.
Mata Bumi memerah, sakit karena perkataan cewek murahan atau karena pemandangan didepannya. Entahlah yang jelas sekarang ia merasa sangat sakit.
“Cuih, asal kalian tau, Bumi juga nyesel udah suka sama Langit dan sekarang dia juga udah lupain cowok yang ga pernah menghargai perasaan cewek,”
Langit melepaskan pelukan Mini dan perlahan mendekat. Tatapannya terus tertuju pada Bumi yang berada di samping Aldo.
“Lo udah ga suka sama gue?” Tanya Langit tepat di depan wajah Bumi.
Dengan sigap Aldo membawa Bumi ke belakang tubuhnya. “Gue berani bertaruh! Bumi udah ga suka sama lo, “
__ADS_1
“Kalo dia masih suka sama gue?”
“Gue yang akan menghilang kalo sampai itu terjadi,”