
...L.A.N.G.I.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Sendiri🐝
***
Di Rumah Bumi sedang banyak orang yang datang untuk melayat, dari tetangga hingga beberapa orang yang sering memesan atau menjahit baju dari Bunda.
Ada yang hanya sekedar datang untuk berbela sungkawa dan ada juga yang ikut menemani Bumi.
Namun dikeramaian itu, Bumi justru merasa sepi. Ujung relung jiwanya terasa hampa. Kehilangan orang yang sangat berarti.
Air mata Bumi tak lagi menetes, mungkin karena ia sudah terlalu lelah.
Bumi menggenggam uang pemberian dari orang yang melayat lalu meletakkannya asal disamping tubuh.
Jika disuruh memilih, bolehkah ia ikut bersama Bunda?
Proses pemakaman berjalan dengan lancar. Bumi telah mengantarkan Bunda ke tempat terakhir untuk beristirahat.
__ADS_1
Bumi menatap nanar makam Bunda, orang yang ikut mengantarkan Bunda telah pulang satu persatu dan hanya meninggalkan Bumi seorang diri.
Iya, memang benar-benar seorang diri tanpa ada yang menemani bahkan Langit pun juga tak ada.
Bumi menyapu area pemakaman, meski sudah meminta Langit untuk tak lagi menemuinya, tapi Bumi tetap saja berharap jika cowok itu hadir bersamanya ditempat ini.
Namun nihil, Langit tak nampak setelah Bumi berujar untuk tak lagi menemuinya.
Langit menuruti perkataannya.
Sekarang Bumi tak punya tempat bersandar.
Langit pergi karena keegoisan Bumi.
Dengan jarak dan penghalang.
Bumi pulang saat hari sudah sore, tubuhnya terasa remuk dan sangat lelah. Merebahkan tubuh dikamar Bunda, mencium aroma yang masih membekas.
Bumi meringkuk dan kembali meratapi kepergian dari orang-orang yang ia anggap berharga. Dan terlelap bersama air mata yang kembali menganak.
Hingga pagi menyongsong, Bumi membuka mata menelisik berharap semua hanya mimpi, berulang kali ia memejam dan membuka mata namun semua tetap sama dan nyata.
__ADS_1
Bumi mengambil ponsel dan membuka pesan yang ia kirim pada Langit kemarin. Kata terimakasih karena cowok itu telah membayar biaya administrasi rumah sakit Bunda.
Pesan itu ternyata masih centang dua abu yang artinya pesan itu belum dibaca. Bumi menghela napas, Langit benar-benar marah.
Bumi bingung dengan sikapnya sendiri, mengapa ia begitu emosional. Meminta Langit untuk menjauh namun hatinya meminta Langit untuk tetap berada disisinya.
Disisi lain,
Sakti dan Citra sedang tertawa terbahak dalam sebuah ruangan. Rencana mereka kali ini benar-benar berjalan dengan lancar.
Mereka tak takut akan dipenjara karena cctv telah mereka hapus tak lama setelah kejadian disaat orang-orang sibuk mengurusi korban.
Meski harus merogoh uang yang lumayan banyak, namun rasanya setimpal dengan kebahagiaan yang mereka dapat.
Hati Sakti dan Citra telah membeku karena ketidakikhlasan mereka akan kejadian dimasa lalu menyebabkan mereka berubah menjadi monster tak berhati nurani.
Membunuh orang pun tak segan mereka lakukan jika mereka mau, termasuk membunuh Mini. Cewek yang beberapa tempo lalu sempat mendekati Langit. tentu saja atas suruhan Citra.
Mini yang kala itu juga terpesona akan ketampanan Langit dengan senang hati menuruti keinginan Citra.
Mini mengira semua akan berjalan lancar, ternyata salah. Langit tak bereaksi dan tak menyentuh tubuhnya sediktipun saat ia mencoba menggoda cowok tersebut. Yang ada, Langit tiba-tiba mendekati Bumi.
__ADS_1
Hal itu juga tak luput dari pantauan Citra dan membuatnya murka hingga tak segan untuk membunuh Mini dengan dan tanpa balas kasih.