
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Kantin🐝
***
Langit hanya bergumam dan kembali memasukkan satu sendok kuah bakso yang penuh dengan kepulan asap.
Bumi memandang Langit, seakan tak puas dengan jawaban yang keluar dari mulut Langit.
“Waktu dan tempatnya ga pas buat gue cerita sama lo!”
Terang Langit saat Bumi terus saja memperhatikan, bahkan bakso di depan Bumi masih utuh tak tersentuh.
“Kapan Langit akan cerita sama Bumi?”
“Nanti, Bumi!”
“Langit anggap Bumi apasih? Kenapa main rahasiaan sama Bumi? apa Langit ga percaya sama Bumi?” Bumi terus saja mendesak. Ia sudah menunggu dari kemarin untuk Langit cerita. Namun cowok itu seperti enggan dan terus saja merahasiakan.
“Lo mau kemana sepulang sekolah?”
__ADS_1
Bukan! Bukan ini yang Bumi mau sekarang!
Andai situasinya sedang damai pasti Bumi akan antusias untuk menjawab. Tapi yang Bumi inginkan sekarang adalah penjelasan dari Langit.
Bumi ingin dianggap, menjadi seseorang yang Langit percaya untuk masuk kedalam kehidupannya.
“Ga ada!” jawab Bumi dengan ketus dan dingin. Ia hanya mengaduk-aduk mie dan bakso dengan sendok tanpa sedikitpun untuk memasukkan ke dalam mulut. Selera makan Bumi hilang.
“Makan, nanti lo laper!”
“Bumi kenyang!”
“Mau gue suapin?” pertanyaan Langit membuat Bumi mendongak dan menatap Langit. Belum sempat Bumi menjawab, satu potongan bakso kecil sudah berada di depan mulut Bumi.
“Makan!” seru Langit dan Bumi membuka mulut. Mengunyah perlahan dan mulai mengamati sekitarnya. Diseberang sana ada Priki and the geng sedang menatap Bumi dengan sorot mata kesal.
Stop! Bumi sekarang ingat jika ia sedang kesal.
Lo tau siapa Langit sebenarnya?
Perkataan Sakti kembali terngiang. Bumi kira ia telah mengetahui apapun tentang Langit. namun ternyata ia salah, bahkan Bumi belum mampu masuk ke dalam benteng yang Langit buat.
Ternyata Langit menyimpan sebuah rahasia. Bumi sempat berpikir apa sikap dinginnya Langit selama ini terbentuk karena faktor lingkungan atau mungkin keluarga?
__ADS_1
“Wah gila! Udah duluan makan aja si Bos!” suara Guntur menggema. Ia, Selatan dan Bara baru saja menapakkan kaki di area kantin.
“Habis pulang sekolah ikut gue ke suatu tempat!”
Bukan sebuah ajakan, tapi lebih mirip seperti perintah dari Langit.
Guntur, Selatan dan Bara duduk di kursi seberang Langit dan Bumi setelah memesan makan.
“Gimana rasanya jadi bucin, Bos?” Tanya Guntur, ia menatap Langit dan Bumi dengan wajah menggoda. Tingkah laku Guntur mendapat tepukan di bahu oleh Selatan.
Perhatian Bumi bukan pada sikap Guntur dan Selatan, tetapi pada wajah mereka yang lebam dibeberapa sisi.
“Kenapa? Baru sadar kalo gue ganteng?”
Guntur bertanya dengan percaya diri saat Bumi terus menatapnya dan Selatan bergantian.
Bumi mendelik dan beralih memandang Langit.
“Makan!” seru Langit sambil menyuapkan kembali satu sendok kuas bakso disertai potongan bakso kecil.
Guntur melotot merasa tak percaya dengan adegan didepannya seperti sebuah mimpi. Ia sampai merinding, bahkan berulang kali mengusap tengkuk.
Cinta memang bisa mengubah sifat seseorang. Bahkan Langit yang dikenal sebagai sosok yang dingin berubah menjadi hangat.
__ADS_1
Ralat! Bukan hangat tapi cukup menggelikan bagi Guntur.
Mengerikan! gue ga akan mau kenal sama yang namanya cinta! Gumam Guntur tertahan.