
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Cerita Masa Lalu🐝
***
Taman bertabur bunga, pohon yang rindang dan tak banyak pengemudi yang hilir mudik.
Disebuah kursi kayu yang cukup tua tapi masih terlihat kokoh. Dua insan sedang bercengkrama dari hati ke hati.
Menguak sebuah rahasia yang sudah lama terpendam. Mengungkit luka lama yang masih belum pulih. Tak akan pulih jika sang pemilik tak mau mengobati.
Langit memandang beberapa anak kecil yang sedang bermain perosotan. Tak jauh dari mereka berada, beberapa ibu-ibu siap siaga menjaga buah hati mereka.
__ADS_1
Miris, jika mengingat kembali masa lalunya. Tak diinginkan bahkan tak diharapkan.
Kadang ia berpikir, kesalahan apa yang ia buat sehingga begitu dibenci. Jika ingin, ia pun tak mau dilahirkan ke dunia jika hanya menjadi penyebab rusaknya kebahagiaan orang lain.
“Gue sama Sakti emang adik kakak, tapi beda ibu!” Langit memulai percakapan setelah beberapa menit mereka terdiam.
Bumi mengangguk dan fokus mendengarkan.
“Gue dilahirkan karena sebuah kesalahan. Keegoisan dari nyokap gue demi sebuah harta. Dia rela menjebak suami dari sahabatnya sendiri, nyokapnya Sakti. Gue….anak diluar nikah,”
Ternyata dendam Sakti adalah dendam masa lalu.
“Nyokap gue yang udah membuat rumah tangga nyokapnya Sakti hancur. Gue ga ingat jelasnya gimana, yang gue ingat gue dibawa ke sebuah rumah mewah sama nyokap gue. Disana, gue melihat bagaimana histerisnya nyokap Sakti saat itu bahkan hampir ingin mengakhiri hidupnya, di depan gue dan di depan Sakti saat mengetahui kalo gue anak dari Ayahnya Sakti.”
Kejadian itu sempat membuat Langit takut. Perempuan yang Sakti panggil dengan sebutan Mamah, mengangis meraung-raung. Ia mengambil pisau dapur dan mengiris pergelangan kiri. Darah mengalir dan menetes dikeramik yang putih.
__ADS_1
Langit meringsut takut, ia bersembunyi dibelakang tubuh Ibunya. Langit mengamati wajah Ibunya yang sedikitpun tak menunjukkan wajah khawatir, justru ia tertawa sinis.
Setelahnya Langit tak ingat lagi apa yang terjadi, karena saat bangun dari pingsan ia sudah berada di sebuah rumah yang juga cukup besar bersama ibunya.
Tak ada lagi raungan Sakti dan nyokapnya. Hanya ada senyuman lebar dari sang ibu sambil mengusap puncak kepalanya dan berkata bahwa ia sudah berhasil.
Langit hidup berkecukupan saat itu, nyaman bahkan apapun yang ia mau dapat ia beli.
Hingga suatu saat, ia dikejutkan dengan sebuah kejadian. Kejadian dimana ibunya harus bolak balik ke rumah sakit. Langit ingat sekali, bagaimana tubuh ibunya yang dulu berisi berubah menjadi kurus dan rambutnya pun mulai menipis.
Langit tak tau apa yang terjadi saat ia pulang dari sekolah taman kanak-kanak, yang jelas ia melihat ibunya bersimpuh di depan wanita yang dulu sempat mengiris pergelangan tangan. Wanita yang dulu rumahnya pernah ia datangi bersama sang Ibu.
Ibu Langit sesegukan sampai menciumi kaki wanita itu. Namun wanita itu hanya berdiam sambil menghempaskan tubuh Ibu Langit yang memang tak berdaya lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Tak lama, setelah memberi Langit sebuah kalung dan petuah untuk menghormati wanita tadi, ibu Langit menghembuskan napas terakhir. Meninggalkan Langit yang masih belum mengenal kejamnya dunia.
__ADS_1