Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Ga Peka!


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Ga Peka!🐝


***


Hari yang ditunggu telah tiba. Kali ini Bumi memakai setelan putih dengan variasi warna wardah. Tak lupa Bumi membawa kacamata yang telah ia beli kemarin bersama Langit.


Dengan telaten, satu persatu Bumi memasukkan segala keperluan yang akan mereka gunakan di pantai.


Tak sabar, Bumi beberapa kali menengok pada jam di dinding. Jantungnya kembali bergetar, memikirkan kegiatan apa yang akan mereka lakukan ketika disana.


Bumi kembali mengecek pesan dari Langit yang mengatakan bahwa ia telah berangkat 15 menit yang lalu.


Tak lama, Bumi melihat sebuah mobil keluaran terbaru berwarna putih memasuki pekarangan rumah. Meski kaca mobil itu hitam, tapi Bumi tahu siapa sosok yang sedang duduk dibelakang kemudi, tentu saja Langit.


Bumi keluar dari kamar dan segera membukakan pintu. Cowok itu keluar dari mobil. Kacamata hitam bertengger di hidung runcing Langit.


“Bunda, mana?” Tanya Langit saat telah tiba dihadapan Bumi. Cowok itu melepas kacamata hitam dan mengaitkan di kerah baju kaos yang ia pakai.


Bumi celingukan, tadi ia melihat Bunda di ruang tamu sedang memeriksa buku pesanan jahitan. Namun sekarang Bumi tak mendapati sosok yang ia panggil Bunda itu disofa ruang tamu.


“Bunda!” panggil Bumi, Bunda keluar dari ruang kerja dengan meteran baju yang masih melingkar dileher. Bunda tersenyum saat mendapati Bumi dan Langit yang sudah rapi.

__ADS_1


“Bunda yakin ga mau ikut?” Tanya Langit kembali memastikan. Bunda menggeleng seraya mengangkat meteran di leher.


“Bunda banyak kerjaan,”


“Nanti kan bisa, Bunda. Nanti Bumi bantuin juga kok. Bunda ikut ya?” Bumi membujuk Bunda untuk ikut bersama. Lagi-lagi Bunda menggeleng. Bumi menghela napas.


“Bunda titip Bumi ya? Kalo nakal kamu jewer aja telinganya,” Bunda menatap Langit.


“Ih, Bunda kok gitu sih. Bumi kan anak Bunda, masa bilang Bumi nakal. Bumi ini baik hati,suka menolong dan tidak sombong,” Bumi mencebik.


“Aku udah tau kok, Bun. Anaknya memang cerewet dan pecicilan,” Langit membalas perkataan Bunda. Tak sedikitpun mendengarkan perkataan Bumi.


Kok Bunda sama Langit jadi sefrekusensi sih?


Bumi dan Langit mencium punggung tangan Bunda. Bumi tersipu, sekarang mereka seperti sepasang suami istri yang sedang berpamitan dengan mertua.


Meski dalam hati sempat tergelitik mengenai status. Bumi merasa was-was karena status mereka hanya sebatas teman sekarang. Bumi ingin egois, dan menginginkan hubungan yang jelas. Semua perempuan pun menginginkan hal begitukan?


Mereka melambai Bunda yang masih berada diambang pintu. Mobil Langit siap meluncur menuju pantai yang Bumi inginkan


Alunan musik mengiringi perjalanan mereka. Meski kadang kalah dengan ocehan Bumi.


Tidakkah cukup yang engkau lihat


Pertemanan ini sungguh berat

__ADS_1


Tidakkah indah bila kita bersama


Tapi tida dimimpi saja


Pinginnya yang beneran aja


Lagu friendzone dari Budi Doremi mengalun.


Bumi tertegun,mengapa lagunya begitu cocok seakan membantu Bumi untuk menyampaikan maksud atas sikap Langit beberapa minggu ini.


Bumi mengamati wajah Langit, tak ada ekspresi apapun. Bahkan ketika Bumi menaikkan volume, agar Langit mendengar dengan jelas lirik lagu tersebut.


Namun nihil, Langit tak terganggu dan tak menghiraukan.


“Telinga lo bermasalah?” Tanya Langit saat Bumi kembali ingin menaikkan volume radio.


“Hah, eng-enggak, telinga Bumi baik-baik aja. Emang kenapa?”


“Gue kira telinga lo bermasalah,” jawab Langit kembali sambil menatap Bumi lalu beralih menatap radio dengan maksud memberitahu Bumi yang lain.


Bumi mengikuti arah pandang Langit dan mulai mencerna sesuatu.


Ah, Bumi paham sekarang.


Bagaimana bisa Langit bertanya jika telinga Bumi bermasalah atau tidak? Bukan itu sebenarnya yang ingin Bumi tunjukkan. Tapi arti dari lagu biar Langit paham dan memberi kejelasan hubungan.

__ADS_1


Dasar Langit ga peka!


__ADS_2